RSS

Nasab dan Keluarga Besar Rasulullah SAW

13 Jun

rasulullah02 Nasab Rasulullah terbagi kedalam tiga klasifikasi:

Pertama, yang disepakati oleh Ahlus Siyar wal Ansab (para sejarawan dan ahli nasab); yaitu urutan nasab beliau hingga kepada Adnan.

Kedua, yang masih diperselisihkan antara yang mengambil sikap diam dan tidak berkomentar dengan yang berpendapat dengannya, yaitu urutan nasab beliau dari atas Adnan hingga Ibrahim alaihissalam.

Ketiga, yang tidak diragukan lagi bahwa didalamnya terdapat riwayat yang tidak shahih, yaitu urutan nasab beliau mulai dari atas Nabi Ibrahim as hingga Nabi Adam as saja.

Berikut adalah penjelasan detail tentang ketiga klasifikasi dan sekaligus siapakah keluarga besar Rasulullah SAW?

1. Klasifikasi Pertama

Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib (nama aslinya, Syaibah) bin Hasyim (nama aslinya, Amr) bin Abdu Manaf (nama aslinya, al-Mughirah) bin Qushay (nama aslinya, Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (dialah yang dijuluki sebagai Quraisy yang kemudian suku ini dinisbatkan kepadanya) bin Malik bin an-Nadhar (nama aslinya, Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (nama aslinya, Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan

2. Klasifikasi Kedua (urutan nasab di atas Adnan)

Adnan bin Add bin Humaisi’ bin Salaman bin Awsh bin Buz bin Qimwal bin Ubay bin Awwam bin Nasyid bin Haza bin Baldas bin Yadhaf bin Thabikh bin Jahim bin Nahisy bin Makhiy bin Idh bin Abqar bin Ubaid bin ad-Di’a bin Hamdan bin Sunbur bin Yatsribi bin Yahzan bin Yalham bin Ar’awi bin Idh bin Disyan bin Aishar bin Afnad bin Ayham bin Muqashshir bin ahits bin Zarih bin Sumay bin Mizzi bin Udhah bin Uram bin Qaidar bin Ismail bin Ibrahim alaihissalam

3. Klasifikasi Ketiga (urutan nasab di atas Nabi Ibrahim)

Ibrahim alaihissalam bin Tarih (nama aslinya, Azar) bin Nahur bin Saru (atau Sarugh) bin Ra’u bin Falikh bin Abir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh alaihissalam bin Lamik bin Mutawasylikh bin Akhnukh (ada yang mengatakan bahwa dia adalah Nabi Idris alaihissalam) bin Yarid bin Mihla’il bin Qaynan bin Anusyah bin Syits bin Adam alaihissalam

Keluarga Besar Rasulullah SAW

muhammadAl-Usrah an-Nabawiyyah (Keluarga Besar Nabi SAW) lebih dikenal dengan sebutan al-Usrah al-Hasyimiyyah (dinisbatkan kepada kakek beliau, Hasyim bin Abdu Manaf), oleh karenanya kita sedikit akan menyinggung tentang kondisi Hasyim ini dan orang-orang setelahnya

 

1. Hasyim

Sebagaimana telah kita singgung bahwa Hasyimlah orang yang bertindak sebagai penanggung jawab atas penyediaan air minum (siqayah) dan penyediaan makanan (rifadah) untuk jamaah haji dari keluarga Bani Abdi Manaf ketika terjadi kompromi antara Bani Abdi Manaf dan Bani Abdid Dar dalam masalah pembagian wewenang antar kedua belah pihak.

Nama aslinya adalah Amr, adapun kenapa dinamakan Hasyim dikarenakan pekerjaannya yang meremuk-remukkan roti tersebut.

Hasyim dikenal sebagai orang yang hidup berkecukupan dan bangsawan besar. Dialah orang pertama yang menyediakan ats-tsarid (semacam roti yang diremuk dan disiram kuah. Ini merupakan makanan paling mewah di kalangan mereka) kepada para jamaah haji di Makkah. Dia jugalah orang pertama yang membuat tradisi melakukan dua perjalanan niaga bagi kaum Quraisy, yaitu rihlatus-syifa (perjalanan niaga di musim dingin ke wilayah Syam), dan rihlatus shaif (perjalanan niaga di musim panas ke wilayah Yaman). Kedua perjalanan tersebut disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Quraisy

Diantara kisah tentang dirinya, suatu hari dia pergi berniaga ke kota Syam, namun ketika tiba di Madinah dia menikah dengan Salma binti Amr, salah seorang putri Bani Adi bin an-Najjar. Dia tinggal bersama istrinya untuk beberapa waktu kemudian berangkat ke negeri Syam -sementara istrinya ditinggalkan bersama keluarganya-.

Hasyim akhirnya meninggal di Ghaza, salah satu kawasan di Palestina. Istrinya, Salma melahirkan putranya, Abdul Muthtalib pada tahun 497 M. Ibunya menamakannya Syaibah (yang berarti uban) karena tumbuhnya uban di kepalanya.
Salma mendidik anaknya di rumah ayahnya (Amr) di Yatsrib sedangkan keluarganya yang di Makkah tidak seorang pun dari mereka yang mengetahui perihal dirinya.

Hasyim mempunyai empat orang putra dan lima orang putri. Keempat putranya tersebut adalah Asad, Abu Shaifi, Nadhlah dan Abdul Muththalib. Sedangkan kelima putrinya adalah asy-Syifa, Khalidah, Dha’ifah, Ruqayyah, dan Jannah.

2. Abdul Muththalib

dakwahSepeninggal Hasyim, tanggung jawab atas penanganan siqayah dan rifadah diserahkan kepada saudaranya yang bernama al-Muththalib bin Abdu Manaf.

Ketika Syaibah/Abdul Muththalib menginjak usia 7 tahun atau 8 tahun lebih, al-Muththalib pamannya mendengar berita tentang dirinya, lantas pergi mencarinya. Ketika bertemu dan melihatnya, berlinanglah air mata al-Muththalib lalu anak tersebut dipeluk erat-erat dan dinaikkan keatas tunggangannya untuk dibonceng namun keponakannya ini menolak hingga diizinkan dahulu oleh ibunya.

Pamannya, al-Muththalib kemudian memintanya agar merelakan keponakannya itu pergi bersamanya, tetapi ibunya menolak permintaan tersebut. Al-Muththalib lantas bertutur

“Sesungguhnya dia akan berangkat menuju tahta ayahnya (Hasyim) menuju Tanah Haram”

Barulah kemudian ibunya mengizinkan anaknya dibawa. Al-Muththalib membawanya ke Makkah dengan memboncengnya di atas onta. Melihat hal itu, orang-orang berteriak, “Inilah Abdul (budak) Muththalib!” (maksudnya mereka mengira yang dibawa al-Muththalib bukan keponakannya tapi budaknya). Al-Muththalib memotong sembari berkata,

“Celakalah kalian. Dia ini anak saudaraku, Hasyim”

Abdul Muththalib akhirnya tinggal bersama pamannya hingga tumbuh dan menginjak dewasa. Selanjutnya al-Muththalib meninggal di Rodman, sebuah kawasan di Yaman dan kekuasaannya kemudian beralih kepada keponakannya, Abdul Muththalib. Dia menggariskan kebijakan terhadap kaumnya persis seperti yang digariskan oleh nenek-nenek moyangnya terdahulu akan tetapi dia mendapatkan kedudukan dan martabat di hati kaumnya yang belum pernah dicapai oleh nenek-nenek moyangnya terdahulu, dia dicintai oleh mereka dan wibawanya di hati mereka semakin besar.

Abdul Muththalib mempunyai 10 orang putra, yaitu:Al-Harits, Az-Zubair, Abu Thalib, Abdullah, Hamzah, Abu Lahab, Al-Ghaidaq, Al-Muqawwam, Shaffar, dan al-Abbas

Adapun putri-putrinya berjumlah 6 orang, yaitu: Ummul Hakim, Barrah, Atikah, Shaffiyyah, Arwa, dan Umaimah.

3. Abdullah, ayahanda Rasulullah SAW

Ibu Abdullah bernama Fathimah binti Amr bin Aidz bin Imran bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah. Abdullah ini adalah anak yang paling tampan diantara putra-putra Abdul Muththalib, yang paling bersih jiwanya dan paling disayanginya. Dialah yang sebenarnya calon kurban yang dipersembahkan oleh Abdul Muththalib sesuai nadzarnya (jika Allah mengaruniakan kepadanya 10 orang anak dan mereka sudah menginjak usia baligh, dia akan menyembelih salah seorang dari mereka di sisi Ka’bah)

Kisahnya kemudian, ketika Abdul Muththalib sudah menggenapkan jumlah anak laki-lakinya menjadi 10 orang dan mengetahui bahwa mereka mencegahnya agar mengurungkan niatnya, dia kemudian memberitahu mereka perihal nadzar tersebut sehingga mereka pun mau menaatinya. Dia menulis nama-nama mereka di anak panah yang akan diundikan di antara mereka dan dipersembahkan kepada patung Hubal, kemudian undian tersebut dimulai, dan yang keluar adalah nama Abdullah.

Maka Abdul Muththalib membimbingnya sembari membawa pedang dan pergi menuju ke Ka’bah untuk segera menyembelihnya, namun orang-orang Quraisy mencegahnya, terutama paman-pamannya (dari pihak Ibu) dari Bani Makhzum dan saudaranya, Abu Thalib. Menghadapi sikap tersebut, Abdul Muththalib berkata,

“Lantas, apa yang harus kuperbuat dengan nadzarku?”

Mereka menyarankannya agar dia mendatangi tukang ramal wanita dan meminta petunjuknya. Kemudian Abdul Muththalib datang kepadanya dan meminta petunjuknya. Peramal ini memerintahkannya untuk mengundi antara anak panah bertuliskan nama Abdullah dan anak panah bertuliskan sepuluh ekor unta; jika yang keluar nama Abdullah maka Abdul Muththalib harus menambah tebusan sepuluh ekor unta lagi; begitu seterusnya hingga Rabbnya ridha. Dan jika yang keluar nama unta, maka cukuplah unta itu yang disembelih sebagai kurban.

Abdul Muththalib pun kemudian pulang ke rumahnya dan melakukan undian antara nama Abdullah dan 10 ekor unta, lalu keluarlah nama Abdullah. Ditambahlah 10 ekor unta kembali lalu diulang kembali, setiap diundi nama Abdullah yang keluar. Begitu seterusnya hingga unta tersebut sudah berjumlah 100 ekor barulah undian tersebut jatuh pada nama unta. Maka Abdul Muththalib pun menyembelihnya (sebagai pengganti Abdullah). Unta tersebut kemudian ditinggalkannya begitu saja dan ia tidak melarang siapapun yang menginginkannya. Dulu diyat (ganti rugi atas jiwa yang terbunuh) di kalangan orang Quraisy dan bangsa Arab secara keseluruhan dihargai dengan 10 ekor unta, namun sejak peristiwa itu maka dirubah menjadi 100 ekor unta yang kemudian dilegitimasi oleh Islam.

Diriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau bersabda,

“Akulah anak (cucu) dari dua orang yang dipersembahkan sebagai sembelihan kurban”

Dua orang itu adalah Nabi Ismail alaihissalam dan ayah beliau Abdullah

Abdul Muththalib menjodohkan putranya, Abdullah, dengan seorang gadis bernama Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zahrah bin Kilab. Aminah ketika itu termasuk wanita idola di kalangan orang-orang Quraisy, baik ditilik dari nasab ataupun martabatnya. Ayahnya adalah pemuka suku Bani Zahrah secara nasab dan kebangsawanannya.

Abdullah pun dikawinkan dengan Aminah dan membina rumah tangga dengannya di kota Makkah. Tak berapa lama kemudian, dia dikirim oleh ayahnya, Abdul Muththalib ke Madinah untuk mengumpulkan (membeli) buah kurma, lalu meninggal disana. Menurut versi riwayat yang lain, dia pergi dalam rangka berniaga ke negeri Syam dengan memandu rombongan niaga Quraisy, kemundian singgal di Madinah dalam kondisi sakit sehingga akhirnya meninggal di sana dan dikuburkan di Dar an-Nabighah al-Ja’di/. Pada saat itu Abdullah baru berumur 25 tahun, dan wafatnya tersebut sebelum kelahiran Rasulullah SAW, demikian pendapat mayoritas para sejarawan.

Riwayat lain menyebutkan bahwa Abdullah wafat 2 bulan setelah kelahiran Rasulullah SAW atau lebih dari itu (*riwayat Ibnu Hisyam, Tarikh ath-Thabari, hal.246). Saat berita kematiannya sampai ke Makkah, Aminah sang istri meratapi kepergian sang suami dengan untaian bait syair yang sangat indah dan amat menyentuh

“Seorang cucu Hasyim tiba membawa kebaikan di dekat Bathha,

Keluar mendampingi lahad tanpa suara yang jelas,

Rupanya kematian mengundangnya lantas disambutnya

Ia tak pernah mendapatkan orang semisal cucu Hasyim

Di saat mereka tengah memikul keranda kematiannya di sore hari

Sahabat-sahabatnya saling berdesakan untuk melayatnya

Bilalah pemandangan berlebihan itu diperlakukan maut untuknya

Sungguh itu pantas karena dia adalah dermawan dan penuh kasih

Keseluruhan harta yang ditinggalkan oleh Abdullah adalah lima ekor unta, sekumpulan kambing, seorang budak wanita dari Habasyah bernama Barakah yang kunyahnya (nama panggilannya) adalah Ummu Aiman, dialah pengasuh Rasulullah SAW

Sumber: Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, kitab Perjalanan Hidup Rasul yang Agung, Muhammad SAW, dari Kelahiran Hingga Detik-Detik Terakhir, penterjemah Hanif Yahya, Lc

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 13, 2013 in Sirah Nabawiyah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: