<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>My Personal Blog</title>
	<atom:link href="http://nabilmufti.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nabilmufti.wordpress.com</link>
	<description>Sedikit ikhtiar untuk mencari ridha-Nya</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Jan 2012 10:34:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nabilmufti.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/5ec48bd447954f3ee3d95677db0a9559?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>My Personal Blog</title>
		<link>http://nabilmufti.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nabilmufti.wordpress.com/osd.xml" title="My Personal Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nabilmufti.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Abdurrahman bin Auf &#8211; Saudagar Kaya yang Masuk Surga dengan Merangkak</title>
		<link>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/09/12/abdurrahman-bin-auf-saudagar-kaya-yang-masuk-surga-dengan-merangkak/</link>
		<comments>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/09/12/abdurrahman-bin-auf-saudagar-kaya-yang-masuk-surga-dengan-merangkak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 07:43:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nabilmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://nabilmufti.wordpress.com/2011/09/12/abdurrahman-bin-auf-saudagar-kaya-yang-masuk-surga-dengan-merangkak/</guid>
		<description><![CDATA[Wahai putera Auf, sesungguhnya engkau orang kaya raya, dan engkau akan masuk surga secara perlahan (dengan merangkak), maka pinjamkanlah harta kekayaanmu itu pada Allah SWT, niscaya Allah akan meringankan langkah kakimu. (al-Hadits) Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan yang mula-mula masuk Islam; termasuk kelompok sepuluh yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga; termasuk enam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=823&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/abdurahmanbinauf.jpg"><img style="display:inline;border-width:0;margin:0 10px 0 0;" title="ABDURAHMAN BIN AUF" border="0" alt="ABDURAHMAN BIN AUF" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/abdurahmanbinauf_thumb.jpg?w=165&#038;h=125" width="165" height="125"/></a> Wahai putera Auf, sesungguhnya engkau orang kaya raya, dan engkau akan masuk surga secara perlahan (dengan merangkak), maka pinjamkanlah harta kekayaanmu itu pada Allah SWT, niscaya Allah akan meringankan langkah kakimu. (al-Hadits)</p>
<p align="justify">Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan yang mula-mula masuk Islam; termasuk kelompok sepuluh yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga; termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah (sebagai formatur) dalam pemilihan khalifah sesudah Umar bin Khattab r.a.; dan seorang mufti yang dipercayai Rasulullah saw. untuk berfatwa di Madinah selagi beliau masih hidup di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin.  </p>
<p align="justify">Namanya pada masa jahiliah adalah Abdu Amru keturunan Bani Zuhrah lahir tahun 580 M, 10 tahun sebelum tahun gajah. Bentuk fisiknya putih kulitnya, lebat rambutnya, banyak bulu matanya, mancung hidungnya, panjang gigi taringnya yang bagian atas, panjang rambutnya sampai menutupi kedua telinganya, panjang lehernya, serta lebar kedua bahunya. Setelah masuk Islam Rasulullah saw. memanggilnya Abdurrahman bin Auf. Kemudian Rasulullah saw. menggantinya dengan Abdurrahman. Lengkapnya ialah Abdurrahman bin Auf bin Abdi bin Al Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’aiy. Kuniyahnya ialah Abu Ahmad</p>
<p align="justify">Inilah kisah hidupnya</p>
<p><span id="more-823"></span><strong></strong>
<p><strong>PERSAUDARAAN ABDURRAHMAN BIN AUF DENGAN SAAD BIN RABI</strong></p>
<p align="justify">Ketika Abu Bakar menerangkan Islam kepadanya, Abdurrahman tidak merasa ragu. Ia segera pergi menemui Rasulullah saw dan berbaiat setia kepadanya. Sebagaimana kaum muslimin yang lainnya, ia juga mendapatkan tekanan-tekanan dari kaum Quraisy, yang semakin lama semakin keras. Ketika Allah mengijinkan Rasulullah untuk hijrah ke Madinah, ia termasuk orang yang turut serta dalam rombongan tersebut.</p>
<p align="justify">Abdurrahman bin Auf sangat berhasil dalam perniagaannya sehingga mengundang kekaguman. Perdagangan dalam pandangan Abdurrahman bin Auf menjadi ladang amal dan ladang usaha, tidak untuk mengumpulkan harta semata, tetapi demi kehidupan yang mulia. Inilah yang bisa kita lihat ketika Rasulullah saw mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar maka beliau saw mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dan Saad bin Rabi.  </p>
<p align="justify">Waktu itu, Saad berkata kepada Abdurrahman:<br />
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang paling banyak hartanya, maka lihat dan ambillah separuh hartaku. Aku juga memiliki dua orang isteri, maka lihatlah yang paling menarik bagimu dari keduanya, nanti aku akan menceraikannya dan engkau bisa menikahinya.&#8221; </p>
</blockquote>
<p align="justify">Tetapi Abdurrahman bin Auf berkata,<br />
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Semoga Allah memberikan berkah dalam keluarga dan hartamu, maka sekarang tunjukkanlah aku jalan ke pasar.&#8221; </p>
</blockquote>
<p align="justify">Abdurrahman pergi ke pasar. la melakukan aktivitas jual beli hingga memperoleh laba.  </p>
<p align="justify">&nbsp; </p>
<p align="justify"><strong>IKUT SERTANYA ABDURRAHMAN BIN AUF DALAM PEPERANGAN </strong> </p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/badar1_225187551l.jpg"><img style="display:inline;border-width:0;margin:0 10px 0 0;" title="Badar1_225187551l" border="0" alt="Badar1_225187551l" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/badar1_225187551l_thumb.jpg?w=168&#038;h=157" width="168" height="157"/></a>  </p>
<p align="justify">Disamping itu, ia juga sosok pejung yang pemberani. Ia mengikuti peperangan-peperangan bersama Rasulullah. Pada waktu perang Badr, ia berhasil membunuh salah satu dari musuh-musuh Allah, yaitu Umair bin Utsman bin Ka’ab At Taimi. Keberaniannya juga nampak tatkala perang Uhud, medan dimana banyak diantara kaum muslimin yang lari, namun ia tetap ditempatnya dan terus berperang Sehingga diriwayatkan, ia mengalami luka-luka sekitar dua puluh sekian luka. Akan tetapi perjuangannya di medan perang masih lebih ringan, jika dibanding dengan perjuangannya dalam harta yang dimilikinya.  </p>
<p align="justify">Keuletannya berdagang serta doa dari Rasulullah, menjadikan perdagangannya semakin berhasil, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang kaya raya. Kekayaan yang dimilikinya, tidak menjadikannya lalai. Tidak menjadi penghalang untuk menjadi dermawan.  </p>
<p align="justify">Diantara kedermawanannya, ialah tatkala Rasulullah ingin melaksanakan perang Tabuk. Yaitu sebuah peperangan yang membutuhkan banyak perbekalan. Maka datanglah Abdurrahman bin ‘Auf dengan membawa dua ratus ‘uqiyah emas dan menginfakkannya di jalan allah. Sehingga berkata Umar bin Khattab, ”Sesungguhnya aku melihat, bahwa Abdurrahman adalah orang yang berdosa karena dia tidak meninggalkan untuk keluarganya sesuatu apapun.” Maka bertanyalah Rasulullah kepadanya, ”Wahai Abdurrahman, apa yang telah engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Dia menjawab, ”Wahai Rasulullah, aku telah meninggalkan untuk mereka lebih banyak dan lebih baik dari yang telah aku infakkan.” ”Apa itu?” tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, ”Apa yang dijanjikan oleh allah dan RasulNya berupa rizki dan kebaikan serta pahala yang banyak.”  </p>
<p align="justify"><strong>BUKTI KEDERMAWANAN ABDURRAHMAN TERHADAP ISLAM DAN RASULULLAH</strong>  </p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/abauf.jpg"><img style="display:inline;border-width:0;margin:0 10px 0 0;" title="ab-auf" border="0" alt="ab-auf" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/abauf_thumb.jpg?w=191&#038;h=119" width="191" height="119"/></a>  </p>
<p>Abdurrahman bin Auf pernah mendengar bahwa suatu hari Rasulullah saw bersabda :<br />
<blockquote>
<p>Wahai Ibnu Auf, engkau termasuk orang kaya, dan engkau akan masuk ke dalam surga secara perlahan-lahan (dengan cara merangkak), maka pinjamkanlah harta kekayaanmu itu kepada Allah, niscaya Allah akan meringankan langkah kakimu. </p>
</blockquote>
<p align="justify">Sejak itu, ia meminjamkan harta kekayaannya itu kepada Allah dengan sebaik-baiknya, dan Allah melipatgandakan hartanya sebanyak-banyaknya. Ia juga menginfakkan lima ratus ekor kuda untuk pasukan kaum Muslim, dan pada hari yang lain ia menginfakkan seribu lima ratus hewan tunggangan bagi kaum Muslim.  </p>
<p align="justify">Puncak dari kebaikannya kepada orang lain, ialah ketika ia menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar, yang kemudian dibagikannya kepada Bani Zuhrah dan orang-orang fakir dari kalangan muhajirin dan Anshar. Ketika Aisyah mendapatkan bagiannya, ia berkata,<br />
<blockquote>
<p align="justify">”Aku mendengar Rasulullah bersabda, tidak akan memperhatikan sepeninggalku, kecuali orang-orang yang bersabar. Semoga Allah memberinya air minum dari mata air Salsabila di surga.”</p>
</blockquote>
<p align="justify">Menjelang wafatnya, ia mewasiatkan lima puluh ribu dinar untuk diinfakkan di jalan Allah, empat ribu dinar bagi setiap orang yang ikut Perang Badar, hingga Khalifah Utsman pun memperoleh bagian wasiatnya. Ketika mengambil (bagian)-nya, Utsman berkata: &#8220;Sesungguhnya harta Abdurrahman ini halal lagi bersih, dan makanan yang diberikannya mengandung &#8216;afiyah dan berkah.&#8221;  </p>
<p align="justify">Sedemikian dermawannya Abdurrahman bin Auf, sampai dikatakan: &#8220;Seluruh penduduk Madinah (pernah) berserikat dengan Ibnu Auf dalam kepemilikan hartanya. Sepertiga harta itu dipinjamkannya kepada mereka, sepertiga lagi digunakan untuk membayar hutang-hutang mereka, dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagikan kepada mereka. &#8221; Ia juga meninggalkan warisan harta berupa emas yang sangat banyak. Harta itu harus dibelah dengan kapak hingga melepuh tangan orang-orang karena keletihan membelahnya.  </p>
<p align="justify">Beliau juga terkenal senang berbuat baik kepada orang lain, terutama kepada Ummahatul Mukminin. Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Menyertainya apabila mereka berhaji, yang ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Abdurrahman. Dia juga pernah memberikan kepada mereka sebuah kebun yang nilainya sebanyak empat ratus ribu dinar.  </p>
<p align="justify"><strong>SATU KISAH KEDERMAWANAN ABDURRAHMAN BIN AUF</strong>  </p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/kafilahabdurrahmanbinauf.jpg"><img style="display:inline;border-width:0;margin:0;" title="kafilah-abdurrahman-bin-auf" border="0" alt="kafilah-abdurrahman-bin-auf" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/kafilahabdurrahmanbinauf_thumb.jpg?w=199&#038;h=132" width="199" height="132"/></a>  </p>
<p align="justify">Dalam hal kedermawanan, dapat saya kisahkan satu kisah yang sangat dikenang dari Abdurrahman bin Auf tentang kedermawanan yang sulit ditiru pada zaman sekarang…  </p>
<p align="justify">Pada suatu hari, kota Madinah sedang aman dan tenteram, terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempat ketinggian di pinggir kota; debu itu semakin tinggi bergumpal-gumpai hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Angin yang bertiup menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiran-butiran sahara yang lunak, terbawa menghampiri pintu-pintu kota, dan berhembus dengan kuatnya di jalan-jalan rayanya.  </p>
<p align="justify">Orang banyak menyangkanya ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Tetapi kemudian dari balik tirai debu itu segera mereka dengar suara hiruk pikuk, yang memberi tahu tibanya suatu iringan kafilah besar yang panjang.  </p>
<p align="justify">Tidak lama kemudian, sampailah 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan kota Madinah dan menyibukkannya. Orang banyak saling memanggil dan menghimbau menyaksikan keramaian ini serta turut bergembira dan bersukacita dengan datangnya harta dan rezeki yang dibawa kafilah itu.  </p>
<p align="justify">Ummul Mu’minin Aisyah ra demi mendengar suara hiruk pikuk itu ia bertanya, “Apakah yang telah terjadi di kota Madinah?” Mendapat jawaban, bahawa kafilah Abdurrahman bin ‘Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagangannya. Kata Ummul Mu’minin lagi, “Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukan ini?” “Benar, ya Ummal Mu’minin, kerana ada 700 kendaraan!” Ummul Mu’minin menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari melayangkan pandangnya jauh menembus, seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya.  </p>
<p align="justify">Kemudian katanya, “Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Kulihat Abdurrahman bin ‘Auf masuk syurga dengan perlahan-lahan!’”  </p>
<p align="justify">Abdurrahman bin ‘Auf masuk syurga dengan perlahan-lahan? Kenapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari kencang bersama angkatan pertama para shahabat Rasul? Sebahagian shahabat menyampaikan ceritera Aisyah kepadanya, maka ia pun teringat pernah mendengar Nabi saw. Hadits ini lebih dari satu kali dan dengan susunan kata yang berbeda-beda.  </p>
<p align="justify">Dan sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskannya, ditujukannya langkah-langkahnya ke rumah Aisyah lalu berkata kepadanya, “Anda telah mengingatkanku suatu Hadits yang tak pernah kulupakannya.” Kemudian ulasnya lagi, “Dengan ini aku mengharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahawa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah ‘azza wajalla!”  </p>
<p align="justify">Dan dibahagikannya lah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik yang sangat besar.  </p>
<p align="justify">Peristiwa yang satu ini saja, melukiskan gambaran yang sempurna tentang kehidupan shahabat Rasulullah, Abdurahman bin ‘Auf. Dialah saudagar yang berhasil. Keberhasilan yang paling besar dan lebih sempurna! Dia pulalah orang yang kaya raya. Kekayaan yang paling banyak dan melimpah ruah. Dialah seorang Mu’min yang bijaksana yang tak sudi kehilangan bahagian keuntungan dunianya oleh kerana keuntungan agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari kafilah iman dan pahala syurga. Maka dialah yang membaktikan harta kekayaannya dengan kedermawanan dan pemberian yang tidak terkira, dengan hati yang puas dan rela.  </p>
<p align="justify"><strong>KEISTIMEWAAN ABDURRAHMAN BIN AUF</strong>  </p>
<p align="justify">Diantara keistimewaan Abdurrahman bin Auf, bahwa a berfatwa tatkala Rasulullah masih hidup. Rasulullah juga pernah shalat di belakangnya pada waktu perang tabuk. Ini merupakan keutamaan yang tidak dimiliki orang lain.  </p>
<p align="justify">Abdurrahman bin Auf, juga termasuk salah seorang sahabat yang mendapatkan perhatian khusus dari Rasulullah. Terbukti tatkala terjadi suatu masalah antara dia dan Khalid bin Walid, maka Rasulullah bersabda, ”Wahai Khalid, janganlah engkau menyakiti salah seorang dari Ahli Badr (yang mengikuti perang Badr). Seandainya engkau berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan bisa menyamai amalannya.”  </p>
<p align="justify"><strong>KEKAYAANNYA TIDAK MEMBUAT ABDURRAHMAN BIN AUF LUPA AKAN TUHAN-NYA</strong>  </p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/sahabatrasulullahyangdijaminmasuksurga.jpg"><img style="display:inline;border-width:0;margin:0 10px 0 0;" title="sahabat-rasulullah-yang-dijamin-masuk-surga" border="0" alt="sahabat-rasulullah-yang-dijamin-masuk-surga" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/sahabatrasulullahyangdijaminmasuksurga_thumb.jpg?w=176&#038;h=119" width="176" height="119"/></a>  </p>
<p align="justify">Pada suatu hari dihidangkan kepadanya makanan untuk berbuka, kerana waktu itu ia sedang shaum. Sewaktu pandangannya jatuh pada hidangan tersebut, timbul selera makannya, tetapi ia pun menangis sambil mengeluh,<br />
<blockquote>
<p align="justify">“Mushab bin Umair telah gugur sebagai syahid, ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku, ia hanya mendapat kafan sehelai burdah; jika ditutupkan ke kepalanya maka kelihatan kakinya, dan jika ditutupkan kedua kakinya terbuka kepalanya! Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku, ia pun gugur sebagai syahid, dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir kalau-kalau telah didahulukan pahala kebaikan kami!” </p>
</blockquote>
<p align="justify">Pada suatu peristiwa lain sebahagian sahabatnya berkumpul bersamanya menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama sesudah makanan diletakkan di hadapan mereka, ia pun menangis; karena itu mereka bertanya, “Apa sebabnya anda menangis wahai Abu Muhammad?” Ujarnya, “Rasulullah saw telah wafat dan tak pernah beliau berikut ahli rumahnya sampai kenyang makan roti gandum, apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan bagi kita?”  </p>
<p align="justify">Begitulah ia, kekayaannya yang melimpah-limpah, sedikitpun tidak membangkitkan kesombongan dan takabur dalam dirinya! Sampai-sampai dikatakan orang tentang dirinya, “Seandainya seorang asing yang belum pernah mengenalnya, kebetulan melihatnya sedang duduk-duduk bersama pelayan-pelayannya, nescaya ia tak akan sanggup membedakannya dari antara mereka!”<br />
<blockquote></blockquote>
<p align="justify"><strong>SIKAP ABDURRAHMAN BIN AUF TERHADAP KEKUASAAN</strong>  </p>
<p align="justify">Abdurrahman bin Auf termasuk enam orang yang dipilih Umar bin Khaththab menjadi anggota majelis syura yang akan menentukan Khalifah sepeninggalnya. Umar berkata: &#8220;Rasulullah saw telah wafat dalam keadaan meridlai kalian&#8221;. Semua orang dalam majelis itu menunjuk Abdurrahman bin Auf, dan menyatakan bahwa ia lebih berhak memegang jabatan sebagai Khalifah. Tapi, Abdurrahman bin Auf berkata:<br />
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Demi Allah, daripada harus menerima jabatan.itu, aku lebih suka jika diambil sebilah pisau lalu diletakkan di tenggorokanku dan ditusukkan hingga menembus leherku ini.&#8221; </p>
</blockquote>
<p align="justify">Sikap zuhudnya terhadap jabatan pangkat ini dengan cepat telah menempatkan dirinya sebagai hakim di antara lima orang tokoh terkemuka itu. Mereka menerima dengan senang hati agar Abdurrahman bin ‘Auf menetapkan pilihan khalifah itu terhadap salah seorang di antara mereka yang berlima, sementara Imam Ali mengatakan,<br />
<blockquote>
<p align="justify">“Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, bahwa anda adalah orang yang dipercaya oleh penduduk langit, dan dipercaya pula oleh penduduk bumi!”</p>
</blockquote>
<p align="justify"><strong>WAFATNYA ABDURRAHMAN BIN AUF</strong>  </p>
<p align="justify">Menjelang wafatnya, Ia meminta dikuburkan samping Utsman bin Madz&#8217;un. Ummul Mu’minin Aisyah ingin memberinya kemuliaan khusus yang tidak diberikannya kepada orang lain, maka diusulkannya kepadanya sewaktu ia masih terbaring di ranjang menuju kematian, agar ia bersedia dikuburkan di perkarangan rumahnya berdekatan dengan Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Akan tetapi ia memang seorang Muslim yang telah dididik Islam dengan sebaik-baiknya, ia merasa malu diangkat dirinya pada kedudukan tersebut!  </p>
<p align="justify">Selagi ruhnya bersiap-siap memulai perjalanannya yang baru, air matanya meleleh sedang lidahnya bergerak-gerak mengucapkan kata-kata, “Sesungguhnya aku khawatir dipisahkan dari sahabat-sahabatku kerana kekayaanku yang melimpah ruah!”  </p>
<p align="justify">Tetapi sakinah dari Allah segera menyelimutinya, lain satu senyuman tipis menghiasi wajahnya disebabkan suka cita yang memberi cahaya serta kebahagiaan yang menenteramkan jiwa. Ia memasang telinganya untuk menangkap sesuatu, seolah-olah ada suara yang lernbut merdu yang datang mendekat.  </p>
<p align="justify">Pada tahun 32 Hijriyah, dalam umur 75 tahun, Abdurrahman bin Auf ra wafat  </p>
<p align="justify">Ia diselimuti rasa tenteram, wajahnya diliputi cahaya kegembiraan, pendengaran telinganya dipertajam seolah ada suara bisikan, Ia sedang mengingat-ingat janji Allah dalam kitab-Nya,<br />
<blockquote>
<p align="justify">“Orang-orang yang membelanjakan hartanya dijalan Allah kemudian mereka tidak mengiringi apa yang telah mereka nafqahkan itu dengan membangkit-bangkit pemberiannnya dan tidak pula kata-kata yang menyakitkan, nescaya mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka; Mereka tidak usah merasa takut dan tidak pula berdukacita.” (QS Al-Baqarah [2]:262)</p>
</blockquote>
<p align="justify">Ia juga sedang mengenang janji yang disampaikan Rasulullah saw:<br />
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Abdurrahman bin Auf berada di dalam surga.&#8221;</p>
</blockquote>
</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber : Buku Rijal Haular Rasul (Khalid Muh.Khalid), <a title="http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/siapakah-abdurrahman-bin-auf.htm" href="http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/siapakah-abdurrahman-bin-auf.htm">eramuslim.com</a>, <a title="http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/abdurrahman-bin-auf.html" href="http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/abdurrahman-bin-auf.html">kisah.web.id</a>, <a title="http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=229" href="http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=229">kajianislam.net</a>, <a title="http://www.al-ikhwan.net/mutiara-kehidupan-para-sahabat-abdul-rahman-bin-auf-sosok-saudagar-nun-berjiwa-tegar-dan-gagah-berani-310/" href="http://www.al-ikhwan.net/mutiara-kehidupan-para-sahabat-abdul-rahman-bin-auf-sosok-saudagar-nun-berjiwa-tegar-dan-gagah-berani-310/">al-ikhwan.net</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nabilmufti.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nabilmufti.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nabilmufti.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nabilmufti.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nabilmufti.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nabilmufti.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nabilmufti.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nabilmufti.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nabilmufti.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nabilmufti.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nabilmufti.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nabilmufti.wordpress.com/823/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nabilmufti.wordpress.com/823/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nabilmufti.wordpress.com/823/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=823&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/09/12/abdurrahman-bin-auf-saudagar-kaya-yang-masuk-surga-dengan-merangkak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d4532f732d579748bc2c0db86c726923?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nabilmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/abdurahmanbinauf_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ABDURAHMAN BIN AUF</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/badar1_225187551l_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Badar1_225187551l</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/abauf_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ab-auf</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/kafilahabdurrahmanbinauf_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kafilah-abdurrahman-bin-auf</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/09/sahabatrasulullahyangdijaminmasuksurga_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sahabat-rasulullah-yang-dijamin-masuk-surga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zubair bin Awwam &#8211; Sahabat Rasulullah di Surga</title>
		<link>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/07/12/zubair-bin-awwam-sahabat-rasulullah-di-surga/</link>
		<comments>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/07/12/zubair-bin-awwam-sahabat-rasulullah-di-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 06:17:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nabilmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://nabilmufti.wordpress.com/2011/07/12/zubair-bin-awwam-sahabat-rasulullah-di-surga/</guid>
		<description><![CDATA[Janjinya kepada Nabi selalu ia tepati. Atas petunjuk Nabi ia berbakti. Dialah sang pembela sejati. Kata dan perbuatannya bagai merpati. Di jalan Nabi, ia berjalan. Membela kebenaran sebagai tujuan. Jika api peperangan sudah menyala, Dialah penunggang kuda tiada dua. Dialah pejuang tak kenal menyerah. Dengan Rasul, masih keluarga, Terhadap Islam, selalu membela. Pedangnya selalu siaga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=812&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/zubairbinawwam.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;margin:0 10px 0 0;" title="Zubair bin Awwam" border="0" alt="Zubair bin Awwam" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/zubairbinawwam_thumb.jpg?w=132&#038;h=185" width="132" height="185"/></a> Janjinya kepada Nabi selalu ia tepati. Atas petunjuk Nabi ia berbakti. Dialah sang pembela sejati. Kata dan perbuatannya bagai merpati. Di jalan Nabi, ia berjalan. Membela kebenaran sebagai tujuan. Jika api peperangan sudah menyala, Dialah penunggang kuda tiada dua. Dialah pejuang tak kenal menyerah. Dengan Rasul, masih keluarga, Terhadap Islam, selalu membela. Pedangnya selalu siaga Kala Rasul dihadang bahaya. Dan Allah tak ingkar pada janji-Nya. Memberi pahala tiada terkira. <em>(Hasan bin Tsabit).</em></p>
<p><em>Setiap Nabi memiliki pembela setia, dan pembela setiaku adalah Zubair bin Awwam.</em> <strong>(al-Hadits) <br /></strong></p>
<p><span id="more-812"></span>
<p><strong>Nasab Zubair bin Awwam dan Masa Kecilnya</strong></p>
<p>Selain sebagai sahabat yang paling pertama menganut Islam, Zubair memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW. </p>
<p align="justify">Nasab Zubair bin Awwam bertemu dengan nasab Nabi saw pada Qusay bin Kilab. Ibunda Zubair adalah Shafiyyah, bibi Rasulullah saw yang juga salah satu puteri Abdul Mutthalib, dan isterinya Asma binti Abu Bakar sehingga ia merupakan saudara ipar Rasulullah SAW. Sementara Khadijah binti Khuwailid yang merupakan istri Rasulullah SAW adalah bibi Zubair, sehingga dalam hal ini Rasulullah SAW merupakan pamannya.  </p>
<p align="justify">Ayah Zubair, Al Awwam, meninggal ketika Zubair masih kecil. Ibunya, Safiyah, merupakan wanita pemberani yang sangat tegas yang menginginkan putranya juga menjadi seorang yang berani. Ia memaksa Zubair belajar dan bekerja keras agar menjadi besar dan kuat. Untuk mewujudkan hal ini, Safiyah tak segan memukuli Zubair kecil tanpa ampun. </p>
<p align="justify">Suatu hari, sang paman Naufil melihat Zubair tengah dipukuli Safiyah. Karena kasihan ia pun melaporkannya kepada tetua Bani Hashim, suku yang menaungi Safiyah. Ia menyatakan Safiyah berlaku sangat kejam karena memukuli putranya. Ketika hal ini terdengar oleh Safiyah, ia menyebut bahwa tindakan ini dilakukannya bukan karena kebencian, melainkan untuk mendidik Zubair agar menjadi orang yang bijaksana.</p>
<p align="justify">Barangkali didikan inilah yang menjadikan Zubair bin Awwam sebagai salah satu sahabat paling pemberani. Ia selalu siap menghadapi segala macam bahaya dan siap menanggung semua rasa sakit dan masalah selama awal kehadiran Islam di Mekkah.</p>
<p align="justify">Cerita Zubair senantiasa berjalin berkelindan dengan kisah Thalhah bin Ubaidillah. Keduanya memiliki kesamaan dalam hal keturunan, kekayaan, kedermawanan, keberanian dan keteguhan memegang prinsip agama, sehingga tempat kembali keduanya pun sama. Keduanya termasuk sepuluh orang yang diberi kabar gembira dijamin masuk surga. Rasulullah saw telah mempersaudarakan keduanya, menyatu dalam hal nasab dan kekerabatan dengan RAsulullah saw. : &#8220;Thalhah dan Zubair menjadi tetanggaku di surga&#8221;, sabda Rasulullah saw.&nbsp; Keduanya termasuk anggota majlis syura yang dipilih Umar bin Khaththab untuk menentukan Khalifah penggantinya.  </p>
<p><strong>Ciri Fisik dan Masuk Islamnya Zubair bin Awwam </strong></p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/re_buku_picture_82285.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;margin:0 10px 0 0;" title="re_buku_picture_82285" border="0" alt="re_buku_picture_82285" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/re_buku_picture_82285_thumb.jpg?w=109&#038;h=160" width="109" height="160"/></a>  </p>
<p align="justify">Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdil Uzza bin Qushai bin Kilab. Ibunya bernama Shafiyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah saw. Wanita ini telah menyatakan dirinya sebagai pemeluk agama Islam. Beliau termasuk salah seorang dari 7 orang yang pertama masuk Islam. Beliau memeluk agama Islam ketika dia masih berusia 15 tahun dan melakukan hijrah ketika berusia 18 tahun. Berperawakan tinggi dan berkulit putih. Namun ada juga yang mengatakan bahwa perawakan Zubair tidak termasuk sangat tinggi dan juga tidak tergolong pendek dan bukan termasuk orang yang berbadan gemuk. Ada yang mengatakan bahwa warna kulitnya sawo matang, memiliki banyak bulu badan, dan kedua pipinya tidak penuh terisi daging. Ia dikenal sebagai ahli menunggang kuda dan pemberani. </p>
<p align="justify">Jika masa kecil, Zubair dilimpahi kasih sayang dari sang paman, Naufil, lain halnya ketika ia sudah masuk Islam. Setelah Zubair mengucapkan syahadat, sang paman yang dulu sangat menyayanginya berubah menjadi musuh yang paling kejam. Ia bahkan menjadi lebih kejam dari Safiyah yang dulu selalu memukuli Zubair ketika kecil. </p>
<p align="justify">Ketika pamannya Naufal bin Khuwailid mengetahui perihal Zubair telah masuk Islam, beliau sangat marah dan berusaha menyiksanya, pernah beliau dimasukkan dalam karung tikar, kemudian dibakar, dan dia berkata kepadanya,“lepaskan dirimu dari Tuhan Muhammad, maka saya akan melepaskan dirimu dari api ini.” Namun Az-Zubair menolaknya dan berkata kepadanya, “Tidak, demi Allah saya tidak akan kembali kepada kekufuran selamanya.” </p>
<p align="justify">Ketika kekejaman Naufil mencapai puncaknya, dengan izin Rasulullah SAW, Zubair akhirnya meninggalkan Makkah dan berhijrah ke Abyssinia (sekarang Ethiopia). Namun ia tidak tinggal lama di kota ini. Setelah beberapa waktu ia kembali ke Makkah dan mulai berbisnis. Bisnis yang digeluti Zubair membuatnya kaya raya dan menjadi salah satu sahabat terkaya, selain Usman bin Affan. </p>
<p align="justify"><strong>Orang yang Pertama Menghunus Pedang di Jalan Allah</strong> </p>
<p align="justify">Suatu hari beliau mendengar isu yang mengabarkan bahwa Nabi Muhammad saw telah meninggal, maka dia keluar menuju jalan-jalan di Mekkah sambil menghunuskan pedangnya, dan memecah barisan manusia, lalu pergi mencari kepastian dari isu ini dan berjanji jika isu itu benar dia akan membunuh orang yang telah membunuh Rasulullah saw,  </p>
<p align="justify">Akhirnya Zubair bertemu dengan Rasulullah saw di utara Mekah, maka saat itu Rasulullah saw berkata kepadanya, “Ada apakah engkau gerangan?” dia berkata, “Saya mendengar kabar bahwa engkau telah terbunuh,” Nabi berkata kepadanya, “Lalu apa yang akan engkau lakukan?” dia berkata, “Saya akan membunuh orang yang telah membunuhmu.” ia lebih memilih mati daripada harus hidup tanpa Rasulullah SAW. Lagi-lagi Rasul tersenyum sambil menunjuk pedang yang tengah dipegang Zubair. Rasul berkata &#8220;Inilah pedang pertama yang terhunus karena Allah SWT dan Rasulnya.&#8221; </p>
<p align="justify"><strong>Perjuangan Zubair dalam Peperangan bersama Rasulullah</strong> </p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/untitled3.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;margin:0 10px 0 0;" title="Untitled-3" border="0" alt="Untitled-3" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/untitled3_thumb.jpg?w=167&#038;h=136" width="167" height="136"/></a>  </p>
<p align="justify">Zubair bin Awwam pernah ikut berhijrah ke Habsyah bersama orang-orang hijrah dari kaum muslimin, dan beliau tetap tinggal disana hingga Rasulullah saw mengijinkannya untuk kembali ke Madinah. Beliau selalu mengikuti peperangan bersama Rasulullah saw, setelah perang Uhud dan orang-orang Quraisy kembali ke Mekah, Rasulullah saw mengirim 70 orang sahabat untuk mendampingi dirinya, termasuk di dalamnya Abu Bakar As Siddiq dan Zubair bin Awwam. (Al-Bukhari). Abu Bakar ra dan Zubair ra memimpin tujuh puluh kaum Muslim dengan sangat cerdik. Keduanya menampakkan kekuatan pasukan kaum Muslim, sehingga orang-orang Quraisy menyangka&nbsp; pasukan tersebut&nbsp; bagian terdepan pasukan Rasulullah saw yang datang&nbsp; mengejar mereka.  </p>
<p align="justify">Dalam Perang Khandaq, Rasulullah saw bertanya: &#8220;Siapa yang berani mencari informasi Bani Quraidzah untuk kita?&#8221; Zubair bin Awwam berkata: &#8220;Saya&#8221;. Maka ia pun berangkat. Kemudian beliau bertanya untuk kedua kalinya dan Zubair menjawab: “Saya”. Ia pun berangkat. Nabi bertanya lagi untuk yang ketiga kalinya, dan Zubair pun menjawab: &#8220;Saya&#8221;. Ia pun kembali berangkat. Maka Rasulullah saw bersabda: “Setiap Nabi memiliki pengikut setia, dan Zubair adalah pengikut setiaku dan anak bibiku.”  </p>
<p align="justify">Pada perang Yarmuk, Zubair bertarung dengan pasukan Romawi, namun pada saat tentara muslim bercerai berai, beliau berteriak : “Allahu Akbar” kemudian beliau menerobos ke tengah pasukan musuh sambil mengibaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan, anaknya Urwah pernah berkata tentangnya,<br />
<blockquote>
<p align="justify">“Zubair memiliki tiga kali pukulan dengan pedangnya, saya pernah memasukkan jari saya didalamnya, dua diantaranya saat perang badar, dan satunya lagi saat perang Yarmuk. </p>
</blockquote>
<p align="justify">Salah seorang sahabatnya pernah bercerita,<br />
<blockquote>
<p align="justify">“Saya pernah bersama Zubair bin Awwam dalam hidupnya dan saya melihat dalam tubuhnya ada sesuatu, saya berkata kepadanya,&#8221;Demi Allah saya tidak pernah melihat badan seorangpun seperti tubuhmu,&#8221; dia berkata kepada saya,&#8221;demi Allah tidak ada luka dalam tubuh ini kecuali ikut berperang bersama Rasulullah saw dan dijalan Allah.&#8221; </p>
</blockquote>
<p align="justify">Dan diceritakan tentangnya,&#8221;Sesungguhnya tidak ada gubernur/pemimpin, penjaga dan keluar sesuatu apapun kecuali dalam mengikuti perang bersama Nabi saw, atau Abu Bakar As Siddiq, Umar bin Khattab atau Utsman bin Affan.&#8221;  </p>
<p align="justify">Saat terjadi pengepungan atas Bani Quraidzah dan mereka tidak mau menyerah, Rasulullah saw mengutus beliau bersama Ali bin Abu Thalib, lalu keduanya berdiri di depan benteng dan mengulangi kata-katanya,“Demi Allah kalian akan merasakan seperti yang telah dirasakan oleh Hamzah, atau kami akan menaklukkan benteng ini.” Rasulullah saw pernah berkata tentangnya,“Setiap Nabi punya pendamping dan penolong, dan pendamping saya adalah Zubair.” (Muttafaqun alaih). Beliau juga sangat bangga dengan ucapan Rasulullah saw saat terjadi perang Uhud dan perang Bani Quraidzah, Rasulullah berkata “Lemparkanlah panahmu yang taruhannya adalah bapakku dan ibuku”. </p>
<p align="justify"> Sayyidah Aisyah pernah berkata kepada Urwah bin Az-Zubar, “Sesungguhnya kedua orang tuamu merupakan orang yang mengikuti seruan Allah dan Rasul-Nya setelah tertimpa kepada keduanya luka,&#8221; (maksudnya adalah Abu Bakar dan Az-Zubair). (Ibnu Majah). </p>
<p align="justify">Dalam Perang Hunain, Zubair mencerai-beraikan pasukan kaum musyrikin yang dipimpin&nbsp; Malik bin Auf, pemuka Bani Hawazin..  </p>
<p align="justify">Zubair sangat mencintai mati syahid, ia berkata: &#8220;Thalhah bin Ubaidillah menamai anak-anaknya dengan nama para Nabi, padahal telah diketahui bahwa tidak akan ada Nabi setelah Muhammad, maka aku menamai anak-anakku dengan nama para syuhada dengan harapan semoga mereka memperoleh syahadah (mati syahid)&#8221;.  </p>
<p><strong>Sifat dan Kepribadian Zubair bin Awwam</strong></p>
<p align="justify">Zubair bin Awwam juga merupakan seorang yang terhormat dan mulia, selalu menginfakkan hartanya di jalan Allah, Ka’ab berkata tentangnya,</p>
<blockquote><p align="justify">“Az-Zubair memiliki 1000 macam kekayaan yang dikeluarkan untuk berperang, dan tidak ada uang satu dirhampun yang masuk kerumahnya,&#8221; (maksudnya hartanya disedekahkan seluruhnya), </p>
</blockquote>
<p align="justify">Beliau mensedekahkan seluruh hartanya sampai ia mati dalam keadaan berhutang, dan mewasiatkan kepada anaknya untuk membayarkan hutangnya, dan beliau berkata kepadanya,</p>
<blockquote><p align="justify">“Jika engkau tidak sanggup membayar hutang saya, maka mintalah tolong kepada Tuanku,” Abdullah pun bertanya,“Siapakah yang engkau maksud dengan Tuan?&#8221; beliau menjawab,&#8221;Allah, Dialah sebaik-baik pemimpin dan penolong.” Lalu setelah itu Abdullah berkata, “Demi Allah saya tidak pernah mengalami kesusahan dalam membayar hutangnya, kecuali saya berkata, “Wahai Pemimpin/pemilik Zubair bayarlah hutang Zubair,&#8217; maka Diapun menggantinya.&#8221; (Al-Bukhari). </p>
</blockquote>
<p align="justify">Walaupun beliau selama hidupnya selalu bersama Rasulullah saw namun beliau tidak banyak meriwayatkan haditsnya kecuali sedikit, anaknya Abdullah pernah bertanya akan sebab tersebut, maka diapun berkata,</p>
<blockquote><p align="justify">“Walaupun antara saya dan Rasulullah saw memiliki hubungan keluarga dan kerabat namun saya pernah mendengar beliau pernah bersabda, “Barangsiapa yang berkata dusta atasku dengan sengaja, maka akan ditempatkan di neraka.&#8217;” (Al-Bukhari). </p>
</blockquote>
<p align="justify">Karena itu dia sangat takut meriwayatkan hadits yang tidak pernah diucapkan oleh Rasulullah saw sehingga tergelincir ke dalam neraka.</p>
<p align="justify"><strong>Anak dan Istri Zubair bin Awwam</strong></p>
<p align="justify">Nama Putra dan putri Az-Zubair adalah Abdullah, Urwah, Al Mundzir, Ashim, Al Muhajir, Khadijah Al Kubra, Ummul Hasan, dan Aisyah. Semua anak Az-Zubair ini berasal dari istrinya yang bernama Asma&#8217; binti Abu Bakar. Sedangkan anak-anaknya yeng bernama Khalid, Amru, Habibah, Saudah, dan Hindun berasal dari istrinya yang bernama Ummu Khalid. Nama asli wanita ini adalah Amah binti Sa&#8217;id bin Al Ash.  </p>
<p align="justify">Anak-anaknya yang bernama Mush&#8217;ab, Hamzah, dan Ramlah berasal dari istrinya yang bernama Ar-Rabab binti Anif bin Ubaid. Anaknya yang bernama Ubaidah dan Ja&#8217;far berasal dari istrinya, Zainab. Putrinya yang bernama Zainab berasal dari istrinya, Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu&#8217;aith. Putrinya lagi yang bernama Khadijah Ash-Shugra berasal dari istrinya, Al Halal binti Qais. </p>
<p align="justify"><strong>Syahidnya Zubair bin Awwam</strong> </p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/lentera_2_ilust_siber_1110.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;margin:0 10px 0 0;" title="lentera_2_ilust_siber_1110" border="0" alt="lentera_2_ilust_siber_1110" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/lentera_2_ilust_siber_1110_thumb.jpg?w=131&#038;h=177" width="131" height="177"/></a>  </p>
<p align="justify">Terjadilah Perang Jamal pada tahun 36 Hijriyah. Thalhah dan Zubair berdiri di satu pihak, sedangkan Ali berada di pihak lainnya. Air mata Ali ra menetes, terlebih&nbsp; ketika melihat Ummul Mukminin Aisyah ra berada di atas&nbsp; Unta memimpin pasukan. Ali berteriak memanggil Thalhah dan berkata :<br />
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Wahai Thalhah, pantaskah engkau membawa isteri Rasulullah untuk berperang bersamamu, sedangkan engkau meninggalkan isterimu diam di rumah?&#8221; Lalu AIi berkata kepada Zubair: &#8220;Wahai Zubair, aku meminta jawabanmu dengan nama Allah Swt, apakah engkau ingat ketika suatu hari Rasulullah saw berlalu di depanmu dan kita berada di suatu tempat, lalu beliau saw berkata. kepadamu: &#8216;Wahai Zubair, apakah engkau mencintai Ali?&#8217; Maka engkau menjawab: &#8216;Mengapa aku sampai harus tidak mencintai saudara sepupuku, anak paman dan bibiku, dan ia termasuk orang yang seagama denganku?&#8217; Beliau saw berkata lagi kepadamu: &#8216;Wahai Zubair, demi Allah, engkau akan memeranginya, dan itu jelas bahwa engkau berlaku dzalim kepadanya.&#8217; </p>
</blockquote>
<p align="justify">Zubair berkata: &#8220;Ya, aku ingat sekarang, hampir saja aku melupakannya. Demi Allah, aku tidak akan memerangimu.&#8221;  </p>
<p align="justify">Thalhah dan Zubair menarik diri dari peperangan ini. Tetapi mereka harus membayar harga pengunduran diri ini dengan nyawanya. Zubair dikuntit dan dibunuh oleh seseorang yang bernama Amr bin Jarmuz, ketika sedang&nbsp; shalat di suatu tempat yang bernama lembah Siba. Dan Thalhah dipanah oleh Marwan bin al-Hakam yang berujung pada syahadahnya.  </p>
<p align="justify">Ketika pedang Zubair dibawa kehadapannya, Ali menciumi pedang itu dan menangis tersedu-sedu, ia berkata: &#8220;Demi Allah, inilah pedang yang mulia yang senantiasa digunakan pemiliknya untuk melindungi Rasulullah dari marabahaya.&#8221;  </p>
<p align="justify">setelah mengetahui hal tersebut Imam Ali bin Abu Thalib berteriak dan berkata kepada pembantunya,<br />
<blockquote>
<p align="justify">“Berikan kabar kepada pembunuh putra Sofiyyah dengan neraka, sungguh Rasulullah saw pernah bersabda kepada saya bahwa pembunuh Zubair adalah penghuni neraka.” (Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan At-Thobroni). </p>
</blockquote>
<p align="justify">Kemudian Ali memandangi makam keduanya seraya berkata: &#8220;Kedua telingaku ini telah mendengar Rasulullah saw bersabda: &#8216;Thalhah dan Zubair menjadi tetanggaku di surga.&#8221;  </p>
<p align="justify">Sumber : <a title="http://muchlisin.blogspot.com/2009/05/sirah-sahabat-zubair-bin-awwam.html" href="http://muchlisin.blogspot.com/2009/05/sirah-sahabat-zubair-bin-awwam.html">muchlisin.blogspot.com</a>, <a title="http://junjunganmulia.wordpress.com/nasihat-iman/zubair-bin-awwam-radhiallahu-anhu-pembela-rasulullah-saw/" href="http://junjunganmulia.wordpress.com/nasihat-iman/zubair-bin-awwam-radhiallahu-anhu-pembela-rasulullah-saw/">junjunganmulia</a>, <a title="http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/08/09/19/6682-zubair-bin-awwam-murid-rasulullah-saw" href="http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/khazanah/08/09/19/6682-zubair-bin-awwam-murid-rasulullah-saw">republika</a>, <a title="http://www.al-ikhwan.net/mutiara-kehidupan-para-sahabat-az-zubair-bin-al-awwam-sosok-pendamping-rasulullah-saw-nun-berjiwa-tegar-331/" href="http://www.al-ikhwan.net/mutiara-kehidupan-para-sahabat-az-zubair-bin-al-awwam-sosok-pendamping-rasulullah-saw-nun-berjiwa-tegar-331/">al-ikhwan.net</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nabilmufti.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nabilmufti.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nabilmufti.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nabilmufti.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nabilmufti.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nabilmufti.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nabilmufti.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nabilmufti.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nabilmufti.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nabilmufti.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nabilmufti.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nabilmufti.wordpress.com/812/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nabilmufti.wordpress.com/812/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nabilmufti.wordpress.com/812/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=812&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/07/12/zubair-bin-awwam-sahabat-rasulullah-di-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d4532f732d579748bc2c0db86c726923?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nabilmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/zubairbinawwam_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Zubair bin Awwam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/re_buku_picture_82285_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">re_buku_picture_82285</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/untitled3_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Untitled-3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/lentera_2_ilust_siber_1110_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lentera_2_ilust_siber_1110</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manfaat Buah Tin</title>
		<link>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/07/01/manfaat-buah-tin/</link>
		<comments>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/07/01/manfaat-buah-tin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 04:08:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nabilmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://nabilmufti.wordpress.com/2011/07/01/manfaat-buah-tin/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah dalam artikel sebelumnya saya membahas buah zaitun, maka kali ini saya ingin memposting manfaat buah Tin, buah ke-2 yang mana Allah bersumpah dalam al-Qur’an demi buah Zaitun dan buah Tin. Tentu kita tertarik kenapa Allah sampai bersumpah atas nama buah tersebut. Kandungan apakah yang terkandung di dalamnya? Tin adalah buah-buahan yang mengandung zat sejenis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=799&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/tin3.jpg"><img style="display:inline;border-width:0;margin:0;" title="TIN3" border="0" alt="TIN3" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/tin3_thumb.jpg?w=136&#038;h=136" width="136" height="136"/></a> </p>
<p align="justify">Setelah dalam artikel sebelumnya saya membahas buah zaitun, maka kali ini saya ingin memposting manfaat buah Tin, buah ke-2 yang mana Allah bersumpah dalam al-Qur’an demi buah Zaitun dan buah Tin. Tentu kita tertarik kenapa Allah sampai bersumpah atas nama buah tersebut. Kandungan apakah yang terkandung di dalamnya?</p>
<p align="justify">Tin adalah buah-buahan yang mengandung zat sejenis alkalin yang mampu menghilangkan keasaman pada tubuh. Zat-zat aktif yang terdapat dalam buah tin adalah sejenis zat-zat pembersih yang bisa dipakai untuk mengobati luka luar dengan cara melumurinya.  </p>
<p align="justify">Unsur yang terkandung dalam buah Tin adalah karbohidrat, protein, dan minyak. Buah Tin juga mengandung yodium, kalsium, fosfor, zat besi, magnesium, belerang (fosfat), chlorin, serta asam malic dan nicotinic.</p>
<p><span id="more-799"></span>
<p align="justify"><b>Tin</b> (<i>Ficus carica</i> <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Linnaeus">L.</a>) adalah sejenis tumbuhan penghasil buah-buahan yang dapat dimakan yang berasal dari Asia Barat. Buahnya bernama sama. Nama ini diambil dari bahasa Arab, juga dikenal dengan nama &#8220;Ara&#8221; (buah ara / pohon ara) sedangkan dalam bahasa Inggris disebut <i><b>fig</b></i>, sebenarnya masih termasuk kerabat pohon beringin. </p>
<p><strong>Bentuk Fisik Buah Tin</strong></p>
<p><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/250pxfig_tree.jpg"><img style="display:inline;border-width:0;" title="250px-Fig_tree" border="0" alt="250px-Fig_tree" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/250pxfig_tree_thumb.jpg?w=173&#038;h=131" width="173" height="131"/></a> </p>
<p align="justify">Tumbuh di daerah Asia Barat, mulai dari pantai Balkan hingga Afganistan. Sekarang dibudidayakan pula di Australia, Cile, Argentina, serta Amerika Serikat.  </p>
<p align="justify">Habitus berupa pohon, besar dan dapat tumbuh hingga 10m dengan batang lunak berwarna abu-abu. Daunnya cukup besar dan berlekuk dalam, 3 atau 5 cuping.  </p>
<p align="justify">Bunga Tin tidak tampak karena terlindung oleh dasar bunga yang menutup sehingga dikira buah. Penyerbukan dilakukan oleh sejenis tawon khusus, sama seperti serangga yang menyerbuki jenis-jenis <i>Ficus</i> lainnya.  </p>
<p align="justify">Yang disebut buah sebetulnya adalah dasar bunga yang membentuk bulatan. Tipe ini khas untuk semua anggota suku ara-araan (Moraceae). Buahnya berukuran panjang tiga hingga 5 cm, berwarna hijau. Beberapa kultivar berubah warna menjadi ungu jika masak. Getah yang dikeluarkan pohon ini dapat mengiritasi kulit.  </p>
<p align="justify">Buah yang rasanya manis seperti korma ini juga lebih mirip sebagai makanan biasa karena mengenyangkan seperti buah korma sehingga warga Arab jarang memasukkannya dalam daftar buah-buahan. </p>
<p><strong>Kandungan Gizi Buah Tin</strong></p>
<p><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/tin.jpg"><img style="display:inline;border-width:0;" title="tin" border="0" alt="tin" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/tin_thumb.jpg?w=190&#038;h=144" width="190" height="144"/></a> </p>
<p align="justify">Kandungan vitamin buah tin tak kalah&nbsp; hebatnya dengan apel dan jeruk. Disebutkan&nbsp; penelitian California Figs Nutritional Information, buah tin mengandung serat (dietary fiber) yang sangat tinggi. Setiap 100 gr buah tin kering terkandung 12,2 g serat sedangkan apel hanya mengandung 2 g dan jeruk 1,9 g. Mengkonsumsi buah Tin secara teratur, menurut para pakar kesehatan, dapat membantu membersihkan racun di dalam tubuh, mencegah kanker kolon dan penyakit degeneratif lainnya. </p>
<p align="justify">Selain&nbsp; mengandung antioksidan benzaldehyde yang dapat mengikat senyawa karsinogen penyebab kanker,&nbsp; Tin juga mengandung asam lemak tak jenuh yang dibutuhkan bagi kesehatan, di antaranya omega-3 dan omega-6, yaitu sejenis lemak yang berperan dalam pencegahan penyakit jantung. Buah Tin rendah lemak, rendah sodium, rendah kalori dan bebas kolesterol sehingga sangat cocok dikonsumsi para penderita diabetes atau penyakit gula. </p>
<p align="justify">Beragam vitamin dan mineral bermanfaat terkandung di dalamnya. Setiap 100 g buah tin mengandung vitamin A sebanyak 9.76 IU, vitamin C, 0.68 mg, kalsium, 133.0 mg dan zat besi, 3.07 mg.  </p>
<p><strong></strong>&nbsp;</p>
<p><strong>Manfaat Buah Tin</strong></p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/buahtin.jpg"><img style="display:inline;border-width:0;" title="buahtin" border="0" alt="buahtin" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/buahtin_thumb.jpg?w=207&#038;h=138" width="207" height="138"/></a>  </p>
<p align="justify">Hasil penelitian lebih lanjut menyebutkan bahwa buah Tin termasuk buah yang dapat merangsang pembentukan hemoglobin darah, cocok sebagai obat penyakit anemia. Disamping itu buah Tin juga mengandung kadar glukosa yang cukup tinggi.  </p>
<p align="justify">Buah tin dikabarkan dapat mencegah kangker. Buah tin selain kaya akan kalsium dan potasium juga mengandung zat benzaldehyde yang bermanfaat melawan sel-sel kanker. </p>
<p align="justify">Penelitian tentang kandungan benzaldehyde dalam buah Tin sebenarnya telah diungkap dalam jurnal yang dimuat website Cancer Cure Foundation. Website ini menyebutkan bahwa riset yang dilakukan para ahli dari Institute of Physical and Chemical Research di Tokyo menunjukkan benzaldehyde terbukti efektif dalam menghambat tumor.  </p>
<p align="justify">Selain itu, Departemen Pertanian Amerika Serikat mengungkapkan bahwa buah Tin mengandung beragam nutrisi mulai dari vitamin A, C, kalsium, magnesium hingga potasium. Buah ini juga baik untuk mengendalikan nafsu makan dan membantu usaha penurunan berat badan. Jus buah Tin pun merupakan minuman yang baik untuk membunuh bakteri merugikan dalam sebuah peneltian.  </p>
<p align="justify">Menurut Imam Ibnu Al Jawziyyah, Buah Tin memiliki banyak khasiat, diantaranya dapat mengurangi penyakit sesak nafas, membersihkan hati dan limpa, juga pengencer dahak, serta memberi khasiat yang baik pada tubuh, sebagai langkah pencegahan untuk melawan racun di tubuh kita.  </p>
<p align="justify">Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, &#8221; Sekiranya aku katakan, Sesungguhnya buah yang turun dari Surga maka aku katakan, inilah buahnya (Tiin), sesungguhnya buah surga tiada keraguannya.&#8221; (Hadis riwayat Abu Darba; Suyuti)  </p>
<p align="justify">Seiring dengan hadis tersebut, juga dibuktikan dengan penemuan sains mengenai banyaknya keistimewaan yang bisa diambil dari sebiji buah Tin yang jarang diketahui. Buah Tin mempunyai khasiat yang berbeda dengan buah-buahan lain dan juga lezat serta mempunyai nilai kesehatan yang tinggi. Selain dari itu, juga bermanfaat sebagai bahan pelancar (laxative), penahan sakit dan unsur perkumuhan air kencing (diuretik).  </p>
<p align="justify">Prof. J. A Vinson dari Universitas Scranton Amerika Serikat telah membuat kajian dan membuktikan bahwa, Buah Tin mengandung khasiat yang tinggi jika dibandingkan dengan buah-buahan yang lain. Buah Tin tidak mengandung garam, lemak dan kolesterol, tetapi mengandung lebih tinggi kalium, serat dan zat besi. Hasil penelitian dalam 100 gram buah Tin, mengandung 20% daripada kebutuhan zat serat harian tubuh kita. Dari jumlah tersebut, lebih 28% adalah jenis serat terlarut. Penelitian menunjukkan, bahwa serat terlarut bisa membantu gula dalam darah dan mengurangi kolesterol dalam darah dengan mengikatnya di dalam saluran pencernaan, manakala serat tidak larut, dapat melindungi dan mencegah kanker usus besar (koion). Makanan yang kaya akan serat mampu mengurangi berat badan, oleh karena itu Buah Tin juga sangat sesuai mengatasi masalah berat badan.  </p>
<p align="justify">Buah Tin dapat dikonsumsi setiap orang, termasuk anak-anak dan merupakan makanan yang terbaik untuk semua umur, karena Buah Tin mengandung serat yang tinggi dan manis rasanya. Jadi sangat tepat jika kita mengkonsumsi buah ini, sebagai makanan alternatif kita untuk meningkatkan kesehatan kita sehari-hari di dalam dunia modern ini.  </p>
<p align="justify">Satu lagi keistimewaan yang terkandung di dalam Buah Tin adalah dapat dipercayai mempunyai bahan yang dapat melawan kanker. Di dalam Buah Tin mengandung &#8220;polyphenols&#8221; yang tinggi berfungsi sebagai antioksidan yang amat penting bagi tubuh kita, karena dapat berfungsi sebagai radikal bebas dalam tubuh yang menyebabkan kanker. Disamping itu, Buah Tin juga mengandung unsur lain yang menjadi bahan anti kanker, yaitu &#8220;benzaldehyde&#8221; dan &#8220;coumarins&#8221;. Benzaldehyde telah terbukti mampu bertindak sebagai bahan anti tumor dan &#8220;coumarins&#8221; adalah untuk merawat kulit dan kanker prostat.  </p>
<p align="justify">Disamping itu, keberadaan serat, kalium dan magnesium di dalam Buah Tin dapat mengurangi serangan angin dan mampu mengontrol tekanan darah tinggi. Satu berita baik bagi pengidap penyakit darah tinggi, karena dengan memakan Buah Tin dijadikan pencegah penyakit tersebut. Untuk penyakit kencing manis, serat yang terdapat di dalam Buah Tin ini dapat memperlahan proses penyerapan glukosa di usus kecil. Gabungan zat yang terkandung dalam Buah Tin yaitu serat yang tinggi dan karbohidrat dalam bentuk yang ringkas, yaitu glukosa dan fruktosa mampu mengontrol kadar gula darah seseorang.  </p>
<p align="justify">Sehubungan dengan itu, Dr. Oliver Alabaster, yaitu Pengarah Institut Pencegahan Penyakit di George Washington University Medical Centre menyatakan bahwa jika seseorang mengambil Buah Tin, sebenarnya telah mengambil makanan yang menjamin kesehatannya dalam jangka panjang. Maka tidak heranlah jika Buah Tin disebut oleh pakar-pakar makanan pada saat ini sebagai makanan Nutraseutikal (functional food), karena Buah Tin bukan sekedar mengandung zat-zat yang berkhasiat, bahkan lebih dari itu dan bermanfaat sebagai penjaga tubuh dan mampu mencegah serangan penyakit-penyakit tertentu.  </p>
<p align="justify">Disamping itu, Lembaga Penasehat Buah Tin di California (<em>California Fig Advisory Board</em>) telah mengatakan Buah Tin sebagai &#8220;Nature&#8217;s most nearly perfect fruit&#8221;, yaitu buah yang hampir mencapai tahap kesempurnaan secara keseluruhan.  </p>
<p align="justify">Maha Suci Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>yang telah menciptakan buah Tin yang terbukti secara ilmiah mengandung manfaat yang sangat luar biasa.  </p>
<p>Sumber : <a title="http://berkebun-yuuk.blogspot.com/2008/02/buah-tin-buah-ara-atau-figs.html" href="http://berkebun-yuuk.blogspot.com/2008/02/buah-tin-buah-ara-atau-figs.html">berkebun-yuuk.blogspot.com</a>, <a title="http://id.wikipedia.org/wiki/Tin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tin">id.wikipedia.org/wiki/Tin</a>, <a title="http://www.bajubusanamuslim.com/artikel/32/rahasia-keistimewaan-di-balik-buah-tin.html" href="http://www.bajubusanamuslim.com/artikel/32/rahasia-keistimewaan-di-balik-buah-tin.html">bajubusanamuslim.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nabilmufti.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nabilmufti.wordpress.com/799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nabilmufti.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nabilmufti.wordpress.com/799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nabilmufti.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nabilmufti.wordpress.com/799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nabilmufti.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nabilmufti.wordpress.com/799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nabilmufti.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nabilmufti.wordpress.com/799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nabilmufti.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nabilmufti.wordpress.com/799/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nabilmufti.wordpress.com/799/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nabilmufti.wordpress.com/799/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=799&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/07/01/manfaat-buah-tin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d4532f732d579748bc2c0db86c726923?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nabilmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/tin3_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">TIN3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/250pxfig_tree_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">250px-Fig_tree</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/tin_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/07/buahtin_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">buahtin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manfaat Buah dan Minyak Zaitun</title>
		<link>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/06/30/manfaat-buah-dan-minyak-zaitun/</link>
		<comments>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/06/30/manfaat-buah-dan-minyak-zaitun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 09:20:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nabilmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://nabilmufti.wordpress.com/2011/06/30/manfaat-buah-dan-minyak-zaitun/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; ZAITUN, sungguh banyak sekali penyebutan Zaitun di dalam Al Qur’an, Allah Swt bersumpah dengan zaitun tersebut dalam firman Nya:&#8221;Demi pohon Tien dan Zaitun.&#8221; (At-Tin 1-2), dan firmanNya dalam surat An-Nuur ayat 35 ,&#8221;Dinyalakan (dengan minyak) dari sebuah pohon yang diberkahi, (yaitu) zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timurnya dan tidak pula disebelah baratnya, hampir-hampir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=789&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/06/olive1.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;margin:0 5px 0 0;" title="olive1" border="0" alt="olive1" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/06/olive1_thumb.jpg?w=139&#038;h=126" width="139" height="126"/></a>&nbsp;</p>
<p align="justify">ZAITUN, sungguh banyak sekali penyebutan Zaitun di dalam Al Qur’an, Allah Swt bersumpah dengan zaitun tersebut dalam firman Nya:&#8221;Demi pohon Tien dan Zaitun.&#8221; (At-Tin 1-2), dan firmanNya dalam surat An-Nuur ayat 35 ,&#8221;Dinyalakan (dengan minyak) dari sebuah pohon yang diberkahi, (yaitu) zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timurnya dan tidak pula disebelah baratnya, hampir-hampir minyaknya saja menerangi walaupun tidak disentuh api.&#8221; Kemudian dalam surat Al Mukmin ayat 20, Allah Swt berfirman,”Dan pohon yang (tumbuh) keluar dari Tursina, yang (pohon zaitun) itu menghasilkan minyak dan menjadi kuat bagi orang-orang yang makan.” </p>
<p align="justify">Demikian pula didalam hadits Rasulullah Saw, beliau bersabda,&#8221;Hendaklah kalian menggunakan minyak zaitun sebagai lauk dan buatlah ia sebagai minyak oles, karena ia (minyak zaitun) berasal dari pohon yang diberkahi.&#8221; (HR Abu Daud). </p>
<p align="justify">Beratus-ratus tahun yang lalu, dalam puisi Romawi disebutkan bahwa buah zaitun dapat memulihkan dan mempertahankan daya tahan tubuh. Tidak hanya buah zaitun, Hippocrates yang dikenal sebagai bapak ilmu kedokteran, mengungkapkan bahwa minyak zaitun bernilai terapi dan dapat digunakan untuk kesehatan. Dan ranting pohon zaitun dapat dipergunakan sebagai mahkota pada penobatan pemenang perlombaan, sebagai simbol kemenangan dan perdamaian. </p>
</p>
<p><span id="more-789"></span>
<p><strong>Sekilas tentang Buah Zaitun</strong></p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/06/olivetree3zaitun.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;" title="olive-tree3zaitun" border="0" alt="olive-tree3zaitun" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/06/olivetree3zaitun_thumb.jpg?w=193&#038;h=147" width="193" height="147"/></a> </p>
<p align="justify">Olive juga dikenal dengan sebutan buah zaitun buah dari tanaman berkayu ini tumbuh di negara-negara Mediterania, seperti Italia, Prancis, Spanyol Maroko dll. Tanaman olive termasuk tanaman tahunan yang dapat tumbuh di lahan gersang sekalipun. Pohon biasanya akan berbunga pada musim semi dan buahnya mulai bisa dipanen pada akhir musim gugur sampai musim dingin.</p>
<p align="justify">Pohonnya berupa semak yang selalu berwarna hijau dengan tinggi 8 – 15 meter. Daun berwarna hijau keperakan berukuran panjang antara 4 – 10 cm, lebar 1 – 3 cm. Memiliki bunga yang berwarna putih dan buah yang berukuran 1 – 2, 5 cm. Biasanya panen dilakukan saat buah masih berwarna hijau, atau ketika buah sudah masak. Ciri buah masak adalah jika buah tersebut sudah berubah warna menjadi ungu gelap (untuk jenis zaitun hitam). Sedangkan buah olive mentah berwarna hijau terang. Olive mentah rasanya sedikit masam, getir dan agak pahit sehingga tidak cocok dihidangkan sebagai buah meja. Buah ini biasanya diolah dengan larutan garam berbumbu menjadi pickle olive seperti yang kita kenal, atau diekstrak sarinya menjadi olive oil atau minyak zaitun.</p>
<p align="justify"><strong>Asinan Buah Zaitun</strong></p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/06/250pxolivesfromjordan.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;" title="250px-Olivesfromjordan" border="0" alt="250px-Olivesfromjordan" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/06/250pxolivesfromjordan_thumb.jpg?w=124&#038;h=126" width="124" height="126"/></a> </p>
<p align="justify">Buah olive biasanya dikonsumsi dalam bentuk asinan atau pickle. Proses membuatnya dengan merendam buah olive segar di dalam larutan garam berbumbu selama beberapa minggu. Selama perendaman akan terjadi proses fermentasi merubah citarasa buah olive menjadi lebih baik. Untuk memperkaya rasa dan mempercantik penampilan, adakalanya buah olive dikeluarkan bijinya dan diisi dengan paprika atau wortel.</p>
<p align="justify">Di Eropa maupun Middle East tradisi mengkonsumsi olive biasanya untuk campuran salad, dimakan dengan keju dan roti, topping pizza, campuran aneka hidangan atau untuk garnish masakan. Bagi mereka pickle olive sudah menjadi kebutuhan harian yang selalu ada disetiap waktu makan.</p>
<p align="justify"><strong>Minyak Zaitun (Olive Oil)</strong></p>
<p align="justify">Selain pickle, buah olive juga di ekstrak sarinya menjadi olive oil. Di pasaran banyak beredar ragam olive oil, berikut berikut beberapa diantaranya:</p>
<ul>
<li>
<div align="justify">Extra Virgin Olive Oil. Merupakan minyak olive paling murni dengan kadar asam 0,5-1%. Warnanya kehijauan, cocok untuk campuran saus salad.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Virgin Olive Oil. Kandungan asamnya sekitar 4% dengan warna hijau kekuningan. Biasanya digunakan sebagai campuran masakan atau hidangan tumisan.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Light Olive Oil. Adalah minyak olive dengan kadar asam lebih dari 4%. Berwarna kekuningan dan biasanya digunakan sebagai pengganti minyak goreng, terutama pada masakan Italia seperti pasta, pizza dan aneka masakan lainya.</div>
</li>
</ul>
<p align="justify">Yunani merupakan penghasil minyak zaitun dengan kualitas extra virgin olive oil terbesar di dunia. Minyak yang dihasilkan melalui proses penekanan tanpa penambahan kualitas bahan kimia. Sedangkan kualitas yang lain yang lebih rendah kualitasnya adalah minyak yang dibuat melalui proses kimiawi untuk menetralkan rasa yang kuat dan kandungan asam.</p>
<p><strong>Kandungan Gizi dari Minyak Zaitun</strong></p>
<p>Zaitun dapat dikonsumsi secara langsung, ataupun diawetan terlebih dahulu dengan cara di fragmentasi. Dan sebelum difragmentasi, buah dikemas dalam larutan garam. Buah yang dikalengkan memiliki warna hitam karena pengaruh bahan kimia yang dicampurkan. Kulit bagian luar buah mengandung 60 – 70 % minyak. Minyak zaitun mengandung asam lemak jenuh (asam palmitat, asam stearat, asam arachidat, asam miristat, dan lignoserat dengan kadar kecil), asam lemak tak jenuh mono, asam lemak tak jenuh poli, vitamin E, dan vitamin K.</p>
<p>Para ulama juga banyak menyebutkan tentang keutamaan minyak zaitun dan manfaatnya yang sangat besar ditinjau dari sisi gizi dan pengobatan, seperti diantaranya Imam Ibnul Qoyyim Al jauziyah dalam kitabnya At Thibb An- Nabawiyah. Demikian pula dengan kedokteran modern sudah mengakui keunggulan minyak zaitun untuk pengobatan, diantaranya :</p>
<ul>
<li>
<div align="justify">DR Scoot Grandy dari Universitas Texas dan DR Satsoon dari Universitas&nbsp; California, keduanya mengadakan penelitian tentang menurunnya jumlah penderita penyakit liver pada sebuah daerah yang masyarakatnya menjadikan minyak zaitun sebagai campuran makanan.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Tanggal 21 April 1997 diselenggarakan pertemuan ilmiah di Roma yang dihadiri pakar medis, mereka mengupas dan mengeluarkan keputusan penting tentang minyak zaitun, dalam siaran persnya mereka menegaskan bahwa minyak zaitun dapat melindungi serangan penyakit arteriole (saluran darah kecil di hepar/liver dan menghambat naiknya kolesterol darah), tekanan darah dan diabetes sebagaimana ia melindungi dari serangan sebagian penyakit kanker.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Minyak zaitun dapat menurunkan tingkat kolesterol LDL dan meningkatkan kolesterol HDL, tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap kolesterol yang bermanfaat, sehingga organ hati dan jantung akan terjaga serta rusaknya urat dalam tubuh.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Prof. Asman dari Universitas Monster, Jerman, memaparkan bahwa kebiasaan menggunakan minyak zaitun memberikan peluang cukup besar untuk dapat melindungi diri dari sejumlah serangan kanker; kangker usus besar, rahim, indung telur.</div>
</li>
<li>
<div align="justify">Archieves of Internal Medicine, edisi Agustus 1998 menegaskan bahwa kebiasaan mengkonsumsi satu sendok makan zaitun setiap hari, memungkinkan untuk dapat mengurangi terkena kanker payudara hingga 45%.</div>
</li>
</ul>
<p><strong>Rahasia dan Manfaat Minyak Zaitun</strong></p>
<p><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/06/khasiatminyakzaitun.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;" title="khasiat minyak zaitun" border="0" alt="khasiat minyak zaitun" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/06/khasiatminyakzaitun_thumb.jpg?w=150&#038;h=235" width="150" height="235"/></a>  </p>
<p>Nabi Muhammad Saw, telah berpesan agar kita mengkonsumsi dan memakai zaitun sebagai minyak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada enam belas pakar kedokteran paling tersohor di dunia berkumpul di Roma, pada tanggal 21 April 1997 M, untuk menerbitkan beberapa pengarahan dan keputusan bersama tentang tema “Minyak Zaitun dan Nutrisi Laut Putih Tengah”.  </p>
<p>Dalam pernyataan tersebut, mereka menegaskan bahwa mengkonsumsi minyak zaitun bisa memberikan andil melindungi tubuh dari serangan penyakit jantung koroner, kenaikan kolesterol darah, kenaikan tekanan darah, serta sakit diabetes dan obesitas, disamping minyak zaitun juga berkhasiat mencegah terjadinya beberapa jenis kanker. </p>
<p><strong>&gt;&gt;&gt; Minyak Zaitun Mengurangi Kolesterol Berbahaya</strong></p>
<p align="justify">Berbagai riset membuktikan adanya fakta yang tidak menyisakan keraguan lagi, bahwa minyak zaitun menurunkan total kadar kolesterol dan kolesterol berbahaya, tanpa mengurangi kandungan kolesterol yang bermanfaat.  </p>
<p align="justify">Minyak Zaitun Mengurangi Resiko Terjadinya Penyumbatan (Trombosis) dan Penebalan (Arteriosklerosis) Pembuluh Darah  </p>
<p align="justify">Dalam sebuah kajian yang dipublikasikan pada bulan Desember tahun 1999 M di Majalah AMJ CLIN NUTRL para peneliti menyatakan, bahwa nutrisi yang kaya kandungan minyak zaitun bisa mengurangi pengaruh negatif lemak dalam makanan terhadap terjadinya pembekuan darah, dan selanjutnya mengurangi terjadinya penebalan pembuluh nadi jantung </p>
<p><strong>&gt;&gt;&gt; Minyak Zaitun Menurunkan Angka Kematian</strong></p>
<p align="justify">Sebuah studi yang dipublikasikan dalam majalah Lanst yang terkenal pada 20 Desember 1999 M, menunjukkan bahwa negara paling miskin di Eropa, yaitu Albania, yang berpenduduk muslim, memiliki keistimewaan sedikitnya angka kematian di sana. Angka kematian di Albania dikalangan pria adalah 41 orang dari setiap 100.000 orang, separuh dari keadaan di Britania. Hal itu dipengaruhi oleh konsumsi minyak zaitun dalam makanan para penduduk Albania.</p>
<p align="justify"><strong>&gt;&gt;&gt; Minyak Zaitun Mengurangi Pemakaian Obat-obatan Penurun Tekanan Darah Tinggi</strong></p>
<p align="justify">Sebuah studi yang dilakukan oleh Dr. Aldovaroro di Universitas Napoli, Italia dan dipublikasikan dalam Majalah Archives of Internal Medicine, tanggal 27 Maret 2000 M, telah diadakan studi terhadap 32 pasien yang terkena penyakit tekanan darah tinggi dan mereka itu mengkonsumsi obat-obatan untuk darah tinggi.  </p>
<p align="justify">Hasil studi menunjukkan penurunan tekanan darah dalam kadar 7 poin dikalangan mereka yang mengkonsumsi minyak zaitun. </p>
<p align="justify"><strong>&gt;&gt;&gt; Minyak Zaitun Mengurangi dan Mencegah Serangan Kanker</strong> </p>
<p align="justify">Para peneliti menyatakan bahwa sebab menurunnya rasio kematian akibat serangan kanker di Laut Putih Tengah adalah karena makanan penduduk negeri tersebut mengandung minyak zaitun sebagai sumber utama lemak, disamping mengandung sayur-sayuran, buah-buahan, dan kol. </p>
<p align="justify">Profesor Asman, Ketua Akademi Studi Arteriosclerosis di Universitas Monstar, Jerman, dia merupakan peneliti paling menonjol di dunia di bidang kedokteran dan arteriosclerosis, ia berkata,&#8221;Pengkonsumsian minyak zaitun bisa melindungi tubuh dari serangan sejumlah kanker lainnya, diantaranya kanker <em>colon</em>, kanker rahim, kanker ovarium, sekalipun jumlah studi ini masih terlalu minim.&#8221; </p>
<p align="justify">Sebuah studi yang dipublikasikan di bulan November 1995 dan dilakukan terhadap 2.564 wanita yang terkena kanker payudara, menegaskan bahwa ada korelasi terbalik antara kemungkinan terjadinya kanker payudara dengan pengkonsumsian minyak zaitun, dan bahwa banyak mengkonsumsi minyak zaitun memberikan andil dalam melindungi seseorang dari serangan kanker payudara.  </p>
<p align="justify">Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Majalah Archives of Internal Medicine edisi Agustus 1998 M menegaskan bahwa pengkonsumsian sesendok makan minyak zaitun setiap hari bisa mengurangi bahaya terjadinya kanker payudara sampai pada kadar 45%. </p>
<p align="justify">Majalah Kanker Britania mempublikasikan di bulan Mei 1996 M sebuah studi yang dilakukan terhadap 145 wanita Yunani yang terkena kanker rahim. Para peneliti mengkorelasikan antara wanita-wanita yang terkena kanker rahim tersebut dengan wanita-wanita yang banyak mengkonsumsi minyak zaitun. Ternyata, para wanita yang mengkonsumsi minyak zaitun lebih sedikit yang terkena kanker rahim. Dimana kemungkinan terjadinya kanker pada mereka turun sampai 26%. </p>
<p align="justify">Majalah Dertmatdogg Times edisi bulan Agustus 2000 M menyebutkan sebuah studi yang menunjukkan bahwa menggunakan minyak zaitun setelah renang sebagai krim kulit dan berjemur, akan melindungi terjadinya kanker kulit (melanoma). </p>
<p align="justify"><strong>&gt;&gt;&gt; Minyak Zaitun Mengurangi Timbulnya Tukak Lambung</strong> </p>
<p align="justify">Dr. Samût, dari Universitas Harvard Amerika, menyampaikan sebuah studi di Kongres Terakhir Organisasi Penyakit Sistem Pencernaan Amerika yang diadakan pada bulan Oktober 2000 M. Dr. Samût menegaskan bahwa gizi yang terkandung dalam minyak zaitun bisa memiliki pengaruh positif dalam melindungi tubuh dari kanker lambung dan mengurangi timbulnya penyakit tukak lambung. </p>
<p align="justify"><strong>&gt;&gt;&gt; Minyak Zaitun Berkhasiat Seperti ASI</strong> </p>
<p align="justify">Dalam sebuah studi modern yang dipublikasikan di bulan Februari 1996 M di Universitas Barcelona, Spanyol, yang dilakukan terhadap empat puluh wanita yang menyusui, diambil sampel ASI dari mereka. Para peneliti menemukan bahwa kebanyakan lemak yang terkandung didalam ASI termasuk jenis lemak yang berantai tunggal. Jenis lemak ini dikategorikan sebagai lemak terbaik yang seharusnya dikonsumsi oleh manusia, dan itulah jenis lemak yang terkenal terdapat dalam minyak zaitun. </p>
<p align="justify"><strong>&gt;&gt;&gt; Minyak Zaitun Mengurangi Peradangan Sendi</strong> </p>
<p align="justify">Majalah AMJ CLIN NUTR edisi November 1999 M, mempu-blikasikan sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 145 pasien pengidap sakit persendian semacam arthritis di Yunani Utara. Mereka dikorelasikan dengan 108 orang yang sehat. Dalam penelitian ini terlihat bahwa pengkonsumsian minyak zaitun bisa memberikan andil dalam melindungi tubuh dari terjadinya penyakit ini. </p>
<p align="justify"><strong>&gt;&gt;&gt; Minyak Zaitun Membunuh Kutu Kepala</strong> </p>
<p align="justify">Beberapa studi yang dilakukan di beberapa Universitas dan Akademi di Amerika, tentang kutu kepala, menunjukkan bahwa penggunaan minyak zaitun sebagai minyak rambut yang terkena kutu, dalam beberapa jam saja bisa membunuh kutu yang ada di kepala. </p>
<p align="justify"><strong>&gt;&gt;&gt; Minyak zaitun Mencegah Penyakit Radang Usus Besar</strong> </p>
<p align="justify">Konferensi Digestive Disease Week di New Orleans tahun 2010, para ahli di Inggris mengindikasikan bahwa peningkatan konsumsi minyak zaitun dapat menekan resiko mengidap ulcerative colitis atau penyakit akibat radang usus besar. Radang usus besar adalah penyakit radang isi perut yang mengakibatkan bisul di saluran dubur dan usus besar, sehingga mengakibatkan nyeri di dalam perut, diare dan hilangnya berat badan.  </p>
<p align="justify">&#8220;Minyak zaitun tampaknya membantu mencegah perkembangan radang usus besar dengan cara mengeblok bahan kimia di usus besar yang menambah parah radang&nbsp; pada penyakit tersebut,&#8221; kata pemimpin studi itu Dr. Andrew Hart. &#8220;Kami memperkirakan bahwa sekitar separuh kasus radang usus besar dapat dicegah jika Minyak Zaitun dikonsumsi dalam jumlah yang lebih banyak. Dua-sampai-tiga sendok makan minyak zaitun per hari akan memiliki dampak melindungi,&#8221; katanya. </p>
<p align="justify">Minyak Zaitun juga mengandung antioksidan, zat yang dapat memerangi LDL Cholesterol penyumbat arteri penyebab penyakit jantung. Tidaklah salah kalau orang-orang Mediterania yang banyak mengkonsumsi olive oil jarang berpenyakit jantung. Selain itu olive oil juga mengandung vitamin E dan monounsaturated yang dapat meremajakan kulit, menjaga kelembaban dan menjaga kelenturan. Pantas saja jika Celeopatra, ratu cantik dari Mesir telah menggunakanya sejak dulu, sekarang bagaimana dengan Anda? </p>
<p align="justify">Sumber : <a title="http://www.majlisdzikrullahpekojan.org/sains-islam/rahasia-dan-manfaat-buah-zaitun.html" href="http://www.majlisdzikrullahpekojan.org/sains-islam/rahasia-dan-manfaat-buah-zaitun.html">majlisdzikrullahpekojan.org</a>, <a title="http://thibbunnabawi.wordpress.com/2007/07/03/rahasia-dan-manfaat-minyak-zaitun/" href="http://thibbunnabawi.wordpress.com/2007/07/03/rahasia-dan-manfaat-minyak-zaitun/">thibbunnabawi</a>, <a title="http://massaidi.blogspot.com/2011/01/manfaat-buah-zaitun.html" href="http://massaidi.blogspot.com/2011/01/manfaat-buah-zaitun.html">massaidi.blogspot.com</a>, <a title="http://resepherbal.e-salim.com/2008/07/khasiat-zaitun/" href="http://resepherbal.e-salim.com/2008/07/khasiat-zaitun/">resepherbal.e-salim.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nabilmufti.wordpress.com/789/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nabilmufti.wordpress.com/789/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nabilmufti.wordpress.com/789/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nabilmufti.wordpress.com/789/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nabilmufti.wordpress.com/789/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nabilmufti.wordpress.com/789/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nabilmufti.wordpress.com/789/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nabilmufti.wordpress.com/789/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nabilmufti.wordpress.com/789/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nabilmufti.wordpress.com/789/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nabilmufti.wordpress.com/789/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nabilmufti.wordpress.com/789/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nabilmufti.wordpress.com/789/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nabilmufti.wordpress.com/789/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=789&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/06/30/manfaat-buah-dan-minyak-zaitun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d4532f732d579748bc2c0db86c726923?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nabilmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/06/olive1_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">olive1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/06/olivetree3zaitun_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">olive-tree3zaitun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/06/250pxolivesfromjordan_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">250px-Olivesfromjordan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/06/khasiatminyakzaitun_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">khasiat minyak zaitun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hamzah bin Abdul Muthalib &#8211; Pemimpin para Syuhada</title>
		<link>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/04/27/hamzah-penghulu-para-syuhada/</link>
		<comments>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/04/27/hamzah-penghulu-para-syuhada/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Apr 2011 06:33:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nabilmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://nabilmufti.wordpress.com/2011/04/27/hamzah-penghulu-para-syuhada/</guid>
		<description><![CDATA[Pernah mendengar sahabat yang dibunuh dan dimakan hatinya oleh seorang perempuan? Beliaulah Hamzah bin Abdul muthalib paman nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sangat panjang perjalanan Hamzah hingga gugur di medan uhud. Tentunya menarik kisah hidup beliau,. KELAHIRAN DAN KEHIDUPAN KELUARGA Nama lengkapnya, Hamzah Abu &#8216;Amaarah  bin &#8216;Abdul Muthalib bin Hasyim bin &#8216;Abdi Manaaf al-Quraisy [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=708&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/phoca_thumb_l_masfahri62.jpg"><img style="display:inline;border:0;" title="phoca_thumb_l_masfahri6" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/phoca_thumb_l_masfahri6_thumb1.jpg?w=144&#038;h=138" alt="phoca_thumb_l_masfahri6" width="144" height="138" border="0" /></a></p>
<p align="justify">Pernah mendengar sahabat yang dibunuh dan dimakan hatinya oleh seorang perempuan? Beliaulah Hamzah bin Abdul muthalib paman nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.</p>
<p align="justify">Sangat panjang perjalanan Hamzah hingga gugur di medan uhud. Tentunya menarik kisah hidup beliau,.</p>
<div align="justify"><span id="more-708"></span></div>
<p align="justify"><strong>KELAHIRAN DAN KEHIDUPAN KELUARGA</strong></p>
<p align="justify">Nama lengkapnya, Hamzah Abu &#8216;Amaarah  bin &#8216;Abdul Muthalib bin Hasyim bin &#8216;Abdi Manaaf al-Quraisy al-Haasyimi,  Ibunya bernama Halah binti Wuhaib bin ‘Abdi Manaf bin Zuhrah. Beliau merupakan paman Rasulullah SAW, sekaligus saudara sepersusuan, serta kerabat dekatnya dari jalur ibu. Dilahirkan dua tahun sebelum Rasulullah SAW. Memeluk Islam pada tahun ke-delapan setelah kenabian.</p>
<p align="justify">Umur Hamzah diperkirakan tak terpaut jauh dengan keponakannya itu. Mereka berdua merupakan teman sepermainan sejak kanak-kanak. Tak heran jika Hamzah menjadi orang yang paling dekat dan mengenal secara mendalam kepribadian Muhammad. Keduanya memiliki hubungan yang sangat kuat.</p>
<p align="justify">Hamzah lahir diperkirakan hampir bersamaan dengan Muhammad. Ia merupakan anak dari Abdul-Muththalib dan Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah. Menurut riwayat, pernikahan Abdul-Muththalib dan Abdullah bin Abdul-Muththalib terjadi bersamaan waktunya, dan ibu dari Nabi, Aminah binti Wahab, adalah saudara sepupu dari Haulah binti Wuhaib.</p>
<p align="justify">Tak heran jika Hamzah menjadi orang yang paling dekat dan mengenal secara mendalam kepribadian Muhammad. Keduanya memiliki hubungan yang sangat kuat. Meski demikian, sebagaimana Bani Muttalib lainnya, Hamzah memang tidak langsung menerima dan memeluk agama yang diwahyukan kepada Muhammad.</p>
<p align="justify">Walaupun dalam lubuk hatinya, ia tak bisa mengingkari keluhuran budi pembawa risalah tersebut. Meski demikian, ia tak memperlihatkan rasa tidak suka terhadap dakwah Muhammad, seperti yang dilakukan orang-orang Quraiys.</p>
<p align="justify">Bahkan ia selalu memberikan perlindungan terhadap diri Nabi Muhammad. Pada saat kaum kafir memperlihatkan kebencian yang kian meningkat, ia pun meningkatkan perlindungan kepada Muhammad. Beruntung, Hamzah ditakdirkan menjadi pria perkasa.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>KEPRIBADIAN DAN KEBERANIAN HAMZAH</strong></p>
<p align="justify">Hamzah memiliki fisik yang kuat. Ia pun terkenal sebagai penunggang kuda yang cekatan, ahli pedang, dan bela diri di seantero Makkah. Hamzah merupakan manusia padang pasir yang lebih suka menyendiri. Ia juga dikenal sebagai seorang pemburu rusa yang mumpuni.</p>
<p align="justify">Pada salah satu kisah perburuan rusa, Hamzah dikejutkan dengan suatu keributan. Ternyata, seekor singa telah memasuki kemahnya. Setelah menurunkan rusa yang baru saja di burunya, ia kemudian menghadapi singa itu seorang diri. Berbekal keahliannya, akhirnya, ia berhasil mengakhiri keganasan binatang buas tersebut.</p>
<p align="justify">Lalu ia pun menguliti singa tersebut, dan melemparkan kulitnya ke atas pelana kudanya. Orang-orang Makkah melihat kulit singa di pelana kuda Hamzah mafhum dengan keberanian dan kepiawaian Hamzah. Kegagahannya itu, membuat lawan-lawannya merasa gentar meski hanya mendengar namanya.</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>PERISTIWA MASUK ISLAMNYA HAMZAH</strong></p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/makamsayyidinahamzah2.jpg"><img style="display:inline;border:0;" title="Makam Sayyidina Hamzah 2" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/makamsayyidinahamzah2_thumb.jpg?w=144&#038;h=110" alt="Makam Sayyidina Hamzah 2" width="144" height="110" border="0" /></a></p>
<p align="justify">Pada suatu hari, Abu Jahal berjalan melewati Rasulullah Muhammad ketika ia berada di Safa. Pada saat bertemu muka, ia pun mulai mencaci, memaki dan melampiaskan amarahnya kepada rasul. Meski demikian, Muhammad tidak menanggapi semua perilaku Abu Jahal.</p>
<p align="justify">Usai menumpahkan segala amarahnya, Abu Jahal bergegas bergabung dalam pertemuan petinggi Quraiys. Tanpa sepengetahuannya, tindakan Abu Jahal diketahui oleh seorang wanita, budak Jud’an bin Amir. Tak lama berselang terlihat Hamzah memasuki Makkah dengan busur di bahunya, usai berburu menuju ke arah Ka&#8217;bah. Rekan Abu Jahal melihat itu langsung bergegas untuk mengingatkan Abu Jahal bahwa Hamzah telah datang dari berburu dan khawatir akan mendengar perlakuan Abu Jahal terhadap keponakannya.</p>
<p align="justify">Menjadi kebiasaan Hamzah, setelah berburu ia pergi ke Baitullah untuk berthawaf, sebelum ia kembali ke keluarganya. Hari-hari sebelumnya pabila telah selesai melakukan thawaf dan melewati balai pertemuan orang Qurays maka ia mengucapkan salam dan ngobrol bersama mereka. Memang Hamzah adalah anak muda yang disegani di kalangan orang Qurays.</p>
<p align="justify">Setelah melihat Hamzah, budak wanita Jud’an bin Amir menghampirinya dan mengisahkan apa yang dilakukan Abu Jahal kepada Rasulullah SAW. Maka budak itu berkata mengadu:</p>
<blockquote>
<p align="justify">&#8220;Wahai Abu Umarah (sebutan bagi Hamzah), seandainya saja engkau tadi melihat apa yang diperbuat oleh Abul Hakam (sebutan Abu Jahal) terhadap keponakanmu Muhammad! Abu Jahl bertemu beliau di Shafa kemudian ia mengganggu, mencaci makinya dan melakukan hal-hal yang tidak beliau sukai. Setelah itu ia pergi dan Muhammad tidak menyahuti omongannya sedikit pun&#8221;.</p>
</blockquote>
<p align="justify">Amarah menjalar ke seluruh tubuhnya setelah mendengarkan kisah wanita itu. Bergegas ia mencari Abu Jahal. Ia telah menetapkan niat untuk menghajar dan memberi pelajaran kepada Abu Jahal. Ketika Hamzah masuk masjid, ia melihat Abu Jahl sedang duduk bersama orang-orang Qurays. Hamzah pun berjalan ke arahnya.</p>
<p align="justify">Sesampainya di hadapan Abu Jahal, langsung saja Hamzah memukulkan busurnya ke kepala Abu Jahal. Darah segar pun mengucur. Tak hanya itu, ia pun memukul tubuh lawannya hingga babak belur dan tersungkur. Hamzah tetap berdiri gagah di hadapan petinggi Quraiys itu.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Ia berkata: &#8220;Apakah Engkau mencaci maki keponakanku padahal aku seagama dengannya, dan aku berkata seperti yang ia katakan? Silakan balas jika engkau sanggup!</p>
</blockquote>
<p>Melihat kondisi ini beberapa orang dari bani Makhzum mendekat kepada Hamzah untuk menolong Abu jahal. Namun Abu Jahal berkata: &#8221; biarkanlah Abu Umarah.&#8221; Demi Allah, aku telah menghina keponakannya dengan penghinaan yang buruk.&#8221; Perbuatan yang dilakukan Hamzah ini sekaligus sebagai pernyataan tentang masuk Islamnya beliau dan mengikuti Rasulullah.</p>
<p align="justify">Para petinggi Quraiys saling pandang. Semula mereka akan menentang Hamzah atas perlakuannya terhadap Abu Jahal. Namun mereka pun rupanya takut dan akhirnya kembali duduk di masjid. Beberapa saat kemudian ia menendang debu ke arah muka para petinggi Quraiys itu, dan meninggalkan tempat itu.</p>
<p align="justify">Pembelaan dan pernyataan Hamzah, telah menyadarkan kafir Quraiys bahwa Hamzah yang gagah berani akan selalu membela Muhammad. Tak heran jika kemudian mereka mulai menimbang akibat ketika akan mengganggu nabi yang mulia itu. Abu Sufyan menyatakan bahwa Muhammad telah mendapatkan teman yang kuat dan sangat disegani.</p>
<p align="justify">Allah memperkuat agamanya dengan masuknya Hamzah ke dalam Islam. Ia berdiri tegar dan siap membela rasul. Sejak memeluk Islam ia mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk kemajuan Islam. Sehingga Rasulullah SAW memberinya gelar Asad Allah wa Asad Rasulih (Singa Allah dan Rasulnya).</p>
<p align="justify">
<p align="justify"><strong>HAMZAH DALAM PERANG BADAR</strong></p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/badar1_225187551l.jpg"><img style="display:inline;border:0;" title="Badar1_225187551l" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/badar1_225187551l_thumb.jpg?w=144&#038;h=134" alt="Badar1_225187551l" width="144" height="134" border="0" /></a></p>
<p align="justify">Pada saat pasukan Muslim bertemu dengan pasukan Kafir Quraiys di Perang Badr, Hamzah betul-betul memperlihatkan keberanian dan kecakapan perang yang luar biasa. Banyak orang kafir Quraiys tumbang di tangannya. Bahkan ayah Hindun, seorang petinggi Quraiys mati di ujung pedangnya.</p>
<p align="justify">Pada Perang Badr, umat Islam mendapatkan kemenangan gemilang. Orang-orang kafir mundur dengan teratur. Tak heran jika kekalahan ini menumbuhkan dendan kesumat di dada mereka. Hamzah pun dianggap memiliki peran besar dalam kekalahan mereka.</p>
<p align="justify">Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq didalam kitab,” Sirah Ibnu Ishaq” dari Abdurahman bin Auf bahwa Ummayyah bin Khalaf berkata kepadanya “ Siapakah salah seorang pasukan kalian yang dadanya dihias dengan bulu bulu itu?”, aku menjawab “Dia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib”. Lalu Umayyah dberkata Dialah yang membuat kekalahan kepada kami”.</p>
<p align="justify">Abdurahman bin Auf menyebutkan bahwa ketika perang Badar, Hamzah berperang disamping Rasulullah dengan memegang 2 bilah pedang.</p>
<p align="justify"><strong>SYAHIDNYA HAMZAH</strong></p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/9makamsyuhadajabaluhud.jpg"><img style="display:inline;border:0;" title="9 Makam Syuhada Jabal Uhud" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/9makamsyuhadajabaluhud_thumb.jpg?w=244&#038;h=183" alt="9 Makam Syuhada Jabal Uhud" width="244" height="183" border="0" /></a></p>
<p align="justify">Untuk membalas kekalahan, mereka kemudian terlibat dalam Perang Uhud. Selain nyawa Nabi yang menjadi incaran, Hamzah pun telah ditetapkan menjadi target sebagai tumbal kekalahan pasukan kafir pada Perang Badr.</p>
<p align="justify">Akhirnya tibalah saatnya perang Uhud di mana kaum kafir Quraisy disertai beberapa kafilah Arab lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum muslimin. Sasaran utama perang tersebut adalah Rasulullah dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Dan mereka memiliki rencana yang keji terhadap Hamzah yaitu dengan menyuruh seorang budak yang mahir dalam menggunakan tombak dan organ hatinya akan di ambil dan akan di makan oleh Hindun yang memiliki dendam sangat membara karena suaminya terbunuh dalam perang Badar.</p>
<p align="justify">Washyi bin Harb diberikan tugas yang maha berat yaitu membunuh Hamzah dan dijanjikan kepadanya imbalan yang besar pula yaitu akan dimerdekakan dari perbudakan.</p>
<p align="justify">Akhirnya kedua pasukan tersebut bertemu dan terjadilah pertempuran yang dahsyat, sementara Sayyidina Hamzah berada di tengah-tengah medan pertempuran untuk memimpin sebagian kaum muslimin.. Ia mulai menyerang ke kiri dan ke kanan. Setiap ada musuh yang berupaya menghadangnya, pastilah kepalanya akan terpisah dari lehernya.</p>
<p align="justify">Seluruh pasukan kaum muslimin maju dan bergerak serentak ke depan, hingga akhirnya dapat diperkirakan kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Dan seandainya pasukan pemanah yang berada di atas bukit Uhud tetap patuh pada perintah Rosulullah untuk tetap berada di sana dan tidak meninggalkannya untuk memungut harta rampasan perang yang berada di lembah Uhud, niscaya kaum muslimin akan dapat memenangkan pertempuran tersebut.</p>
<p align="justify">Di saat mereka sedang asyik memungut harta benda musuh islam yang tertinggal, kaum kafir Quraisy melihatnya sebagai peluang dan berbalik menduduki bukit Uhud dan mulai melancarkan serangannya dengan gencar kepada kaum muslimin dari atas bukit tersebut.</p>
<p align="justify">Tentunya penyerangan yang mendadak ini pasukan muslim terkejut dan kocar-kacir dibuatnya. Melihat itu semangat Hamzah semakin bertambah berlipat ganda. Ia kembali menerjang dan menghalau serangan kaum Quraisy. Sementara itu Wahsyi terus mengintai gerak-gerik Hamzah, setelah menebas leher Siba&#8217; bin Abdul Uzza dengan lihai-nya. Maka pada saat itu pula, Wahsyi mengambil ancang-ancang dan melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. Lalu Ia bangkit dan berusaha berjalan ke arah Wahsyi, tetapi tidak berdaya dan akhirnya roboh sebagai syahid.</p>
<p align="justify">Ibnu Atsir berkata dalam kitab ‘Usud al Ghabah”, Dalam perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy, sampai pada suatu saat beliau tergelincir sehingga ia terjatuh kebelakang dan tersingkaplah baju besinya, dan pada saat itu ia langsung ditombak dan dirobek perutnya . lalu hatinya dikeluarkan oleh Hindun kemudian dikunyahnya hati Hamzah tetapi tidak tertelan dan segera dimuntahkannya.</p>
<p align="justify">Usai sudah peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Sayyidina Hamzah dan mengambil hatinya.</p>
<p align="justify">Kemudian Rasulullah mendekati jasad Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah, Seraya berkata, &#8220;Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apapun yang lebih menyakitkan diriku daripada suasana sekarang ini.&#8221;</p>
<blockquote>
<p align="justify">Allah menurunkan firmannya ,” Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (Qs; an Nahl 126)</p>
</blockquote>
<p align="justify">Setelah itu Rasulullah dan kaum muslimin men-shalat-kan jenazah pamannya dan para syuhada lainnya satu per satu. Pertama Hamzah di-shalat-kan lalu di bawa lagi jasad seorang syahid untuk di-shalat-kan, sementara jasad Hamzah tetap dibiarkannya di situ. Lalu jenazah itu di angkat, sedangkan jenazah Hamzah tetap di tempat. Kemudian di bawa jenazah yang ketiga dan dibaringkannya di samping jenazah Hamzah. Lalu Rasulullah dan para sahabat lainnya men-shalat-kan mayat itu. Demikianlah Rasulullah men-shalat-kan para syuhada Uhud satu persatu, hingga jika di hitung maka Rasulullah dan para sahabat telah men-shalat-kan Hamzah sebanyak tujuh puluh kali.</p>
<p align="justify">Ia wafat pada tahun 3 H, dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dengan gelar “Sayyidus Syuhada” (Pemimpin para Syuhada).</p>
<p>Sumber: <a title="http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=68" href="http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&amp;file=article&amp;sid=68">oaseqalbu.net</a>, <a title="http://www.al-madina.s5.com/Kisah/Hamzah_bin_Abdul_Muthalib.htm" href="http://www.al-madina.s5.com/Kisah/Hamzah_bin_Abdul_Muthalib.htm">al-madina.s5.com</a>, <a title="http://majlisdzikrullahpekojan.org/kisah-sahabat-nabi/hamzah-bin-abdul-muthalib-singa-allah-.html" href="http://majlisdzikrullahpekojan.org/kisah-sahabat-nabi/hamzah-bin-abdul-muthalib-singa-allah-.html">majlisdzikrullahpekojan.org</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nabilmufti.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nabilmufti.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nabilmufti.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nabilmufti.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nabilmufti.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nabilmufti.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nabilmufti.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nabilmufti.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nabilmufti.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nabilmufti.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nabilmufti.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nabilmufti.wordpress.com/708/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nabilmufti.wordpress.com/708/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nabilmufti.wordpress.com/708/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=708&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/04/27/hamzah-penghulu-para-syuhada/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d4532f732d579748bc2c0db86c726923?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nabilmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/phoca_thumb_l_masfahri6_thumb1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">phoca_thumb_l_masfahri6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/makamsayyidinahamzah2_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Makam Sayyidina Hamzah 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/badar1_225187551l_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Badar1_225187551l</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/9makamsyuhadajabaluhud_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">9 Makam Syuhada Jabal Uhud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perang Mu&#8217;tah &#8211; 3000 Pasukan Muslim Melawan 200.000 Pasukan Romawi</title>
		<link>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/04/07/perang-mutah-3000-pasukan-muslim-melawan-200-000-pasukan-romawi/</link>
		<comments>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/04/07/perang-mutah-3000-pasukan-muslim-melawan-200-000-pasukan-romawi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 09:22:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nabilmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sirah Nabawiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://nabilmufti.wordpress.com/2011/04/07/perang-mutah-3000-pasukan-muslim-melawan-200-000-pasukan-romawi/</guid>
		<description><![CDATA[PERTEMPURAN paling heroik dan dahsyat yang dialami umat Islam di era awal perkembangan Islam adalah saat mereka yang hanya berkekuatan 3000 orang melawan pasukan terkuat di muka bumi saat itu, Pasukan Romawi dengan kaisarnya Heraclius yang membawa pasukan sebanyak 200.000. Pasukan super besar tersebut merupakan pasukan aliansi antara kaum Nashara Romawi dan Nashara Arab sekitar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=692&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/peranguhud.jpg"><img style="display:inline;border-width:0;margin:0 15px 0 0;" title="perang-uhud" border="0" alt="perang-uhud" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/peranguhud_thumb.jpg?w=144&#038;h=97" width="144" height="97" /></a> PERTEMPURAN paling heroik dan dahsyat yang dialami umat Islam di era awal perkembangan Islam adalah saat mereka yang hanya berkekuatan 3000 orang melawan pasukan terkuat di muka bumi saat itu, Pasukan Romawi dengan kaisarnya Heraclius yang membawa pasukan sebanyak 200.000. Pasukan super besar tersebut merupakan pasukan aliansi antara kaum Nashara Romawi dan Nashara Arab sekitar dataran Syam, jajahan Romawi. Perang terjadi di daerah Mu’tah –sehingga sejarawan menyebutnya perang Mu’tah&#160; (sekitar yordania sekarang), pada tanggal 5 Jumadil Awal tahun 8 H atau tahun 629 M.</p>
<p><span id="more-692"></span>
<p><strong>LATAR BELAKANG PEPERANGAN</strong></p>
<p align="justify">Penyebab perang Mu’tah ini bermula ketika Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam mengirim utusan bernama al-Harits bin Umair al-‘Azdi yang akan dikirim ke penguasa Bashra. Di tengah perjalanan, utusan itu ditangkap Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani dari bani Gasshaniyah (daerah jajahan romawi) dan dibawa ke hadapan kaisar Romawi Heraclius. Setelah itu kepalanya dipenggal. Pelecehan dan pembunuhan utusan negara termasuk menyalahi aturan politik dunia. Membunuh utusan sama saja ajakan untuk berperang. Hal inilah yang membuat beliau marah.</p>
<p align="justify">Mendengar utusan damainya dibunuh, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam sangat sedih. Setelah sebelumnya berunding dengan para Sahabat, lalu diutuslah pasukan muslimin untuk berangkat ke daerah Syam. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam sadar melawan penguasa Bushra berarti juga melawan pasukan Romawi yang notabene adalah pasukan terbesar dan terkuat di muka bumi ketika itu. Namun ini harus dilakukan karena bisa saja suatu saat pasukan lawan akan menyerang Madinah. Kelak pertempuran ini adalah awal dari pertempuran Arab &#8211; Bizantium.</p>
<p align="justify">Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam berkata </p>
<blockquote><p align="justify">“Pasukan ini dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, bila ia gugur komando dipegang oleh Jakfar bin Abu Thalib, bila gugur pula panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah –saat itu beliau meneteskan air mata- selanjutnya bendera itu dipegang oleh seorang ‘pedang Allah’ dan Akhirnya Allah Subhânahu wata‘âlâ memberikan kemenangan. (HR. al-Bukhari)</p>
</blockquote>
<p align="justify">Ketika pasukan tentera ini berangkat Khalid bin&#8217;l-Walid secara sukarela juga ikut menggabungkan diri. Dengan keikhlasan dan kesanggupannya dalam perang hendak memperlihatkan itikad baiknya sebagai orang Islam. Masyarakat ramai mengucapkan selamat jalan kepada komandan-komandan beserta pasukannya itu, dan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam juga turut mengantarkan mereka sampai ke luar kota, dengan memberikan pesan kepada mereka: Jangan membunuh wanita, bayi, orang-orang buta atau anak-anak, jangan menghancurkan rumah-rumah atau menebangi pohon-pohon. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam mendoakan dan kaum Muslimin juga turut mendoakan dengan berkata: Allah menyertai dan melindungi kamu sekalian. Semoga kembali dengan selamat. </p>
<p align="justify">Komandan pasukan itu semua merencanakan hendak menyergap pihak Syam secara tiba-tiba, seperti yang biasa dilakukan dalam ekspedisi-ekspedisi yang sudah-sudah. Dengan demikian kemenangan akan diperoleh lebih cepat dan kembali dengan membawa kemenangan. Mereka berangkat sampai di Ma&#8217;an di bilangan Syam dengan tidak mereka ketahui apa yang akan mereka hadapi di sana. </p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><strong>JALANNYA PEPERANGAN</strong></p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/articlearrows.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;margin:0 15px 0 0;" title="article-arrows" border="0" alt="article-arrows" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/articlearrows_thumb.jpg?w=130&#038;h=107" width="130" height="107" /></a> Kaum Muslimin bergerak meninggalkan Madinah. Musuh pun mendengar keberangkatan mereka. Dipersiapkanlah pasukan super besar guna menghadapi kekuatan kaum Muslimin. Heraclius mengerahkan lebih dari 100.000 tentara Romawi sedangkan Syurahbil bin ‘Amr mengerahkan 100.000 tentara yang terdiri dari kabilah Lakham, Juzdan, Qain dan Bahra‘. Kedua pasukan bergabung. </p>
<p align="justify">Mendengar kekuatan musuh yang begitu besar, kaum Muslimin berhenti selama dua malam di daerah bernama Mu’an guna merundingkan apa langkah yang akan diambil. Beberapa orang berpendapat, “Sebaiknya kita menulis surat kepada Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, melaporkan kekuatan musuh. Mungkin beliau akan menambah kekuatan kita dengan pasukan yang lebih besar lagi, atau memerintahkan sesuatu yang harus kita lakukan.” Tetapi Abdullah bin Rawahah tidak menyetujui pendapat tersebut. Bahkan ia mengobarkan semangat pasukan dengan ucapan berapi-api:</p>
<blockquote><p align="justify">“Demi Allah Subhânahu wata‘âlâ, sesungguhnya apa yang kalian tidak sukai ini adalah sesuatu yang kalian keluar mencarinya, yaitu syahid (gugur di medan perang). Kita tidak berperang karena jumlah pasukan atau besarnya kekuatan. Kita berjuang semata-mata untuk agama ini yang Allah Subhânahu wata‘âlâ telah memuliakan kita dengannya. Majulah! Hanya ada salah satu dari dua kebaikan; menang atau gugur (syahid) di medan perang.” Lalu mereka mengatakan, “ Demi Allah, Ibnu Rawahah berkata benar.”</p>
</blockquote>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify">Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya pada masa sebelum itu.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><strong>KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA ZAID BIN HARITSAH</strong></p>
<p align="justify">Sesuai perintah Rasulullah, pasukan Islam dipimpin Zaid bin Haritsah dengan bendera di tangannya. 3.000 pasukan Islam melawan 100.000 tentara Romawi jelas tak seimbang. Zaid bertempur dengan gagah berani. Sampai kemudian sebuah tombak Romawi menancap di tubuhnya. Darah segar assaabiquunal awwalun tumpah di bumi Muktah. Andaikan memiliki air mata, tanah di sana sudah menangis sejak tubuh mulia itu terjatuh. Zaid tergeletak sudah. Syahid.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><strong>KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA JA’FAR BIN ABU THALIB</strong></p>
<p align="justify">Lalu komandan perang dipegang Ja’far bin Abu Thalib. Ja’far bertempur dengan gagah berani sambil memegang bendera pasukan. Sahabat yang tampan ini bertempur hebat di atas kudanya. Ketika pertempuran makin sengit, kudanya terkena senjata musuh. Ja’far terlempar. Ia segera kembali bertempur lagi. Sampai akhirnya, ada pasukan Romawi yang menebas tangan kanannya hingga putus. Darah suci pahlawan Islam tertumpah ke bumi. </p>
<p align="justify">Lalu bendera dipegang tangan kanannya. Rupanya pasukan Romawi tidak rela bendera itu tetap berkibar. Tangan kanannya pun ditebas hingga putus. Kini ia kehilangan dua tangannya. Yang tersisa hanyalah sedikit lengan bagian atas. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tidak surut, ia tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan.&#160; Ada diantara mereka yang menyerang Ja’far dan membelah tubuhnya menjadi dua.</p>
<p align="justify">Berdasarkan keterangan Ibnu Umar Radhiyallâhu ‘anhu, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidak kurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau akibat tusukan pedang dan anak panah. </p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><strong>KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA ABDULLAH BIN RAWAHAH</strong></p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/moejahid.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;margin:0 15px 0 0;" title="moejahid" border="0" alt="moejahid" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/moejahid_thumb.jpg?w=126&#038;h=125" width="126" height="125" /></a> Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, ibnu Rawahah ini menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat kehebatan tentara romawi seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekutannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru: </p>
<blockquote><p align="justify">“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga </p>
<p align="justify">Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga …..     <br />Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati      <br />Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …….      <br />Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini      <br />Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati ….!”</p>
<p align="justify">(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).</p>
<p align="justify">Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati…..!”</p>
</blockquote>
<p align="justify"> Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya. Kalau tidaklah taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya akan ke syurga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka. Tetapi waktu keberangkatan sudah tiba, yang memberitahukan awal perjalananya pulang ke hadirat Alloh, maka naiklah ia sebagai syahid.</p>
<p align="justify">Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya: “Hingga dikatakan, yaitu bila mereka meliwati mayatku: Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan benar ia telah terpimpin!” “Benar engkau, ya Ibnu Rawahah….! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah…..!”</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><strong>KABAR SYAHIDNYA PARA KOMANDAN PERANG MU’TAH SAMPAI KE RASULULLAH</strong></p>
<p align="justify">Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’ di Syam, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam sedang duduk beserta para shahabat di Madinah sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatu disebabkan rasa duka dan belas kasihan … ! Seraya memandang berkeliling ke wajah para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata: </p>
<blockquote><p align="justify">“Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula.”. Be!iau berdiam sebentar, lain diteruskannya ucapannya: “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia·pun syahid pula”. </p>
</blockquote>
<p align="justify">Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula : “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga …”</p>
<p align="justify">Para sahabat di sisi Rasulullah juga tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Tangis duka. Tangis kehilangan. Kehilangan sahabat-sahabat terbaik. Kehilangan pahlawan-pahlawan pemberani. Namun bersamaan dengan tangis itu juga ada kabar gembira bagi mereka. Bahwa ketiga orang itu kini disambut para malaikat dengan penuh hormat, dijemput para bidadari, dan mendapati janji surga serta ridha Ilahi. Secara khusus kepada Ja’far bin Abu Thalib yang terbelah tubuhnya, ia dijuluki dengan Ath-Thayyar (penerbang) atau Dzul-Janahain (orang yang memiliki dua sayap) sebab Allah menganugerahinya dua sayap di surga, dan dengan sayap itu ia bisa terbang sekehendaknya.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><strong>STRATEGI PERANG KHALID BIN WALID</strong></p>
<p align="justify"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/khalidbinwalidswordofallah.jpg"><img style="border-bottom:0;border-left:0;display:inline;border-top:0;border-right:0;margin:0 15px 0 0;" title="khalid bin Walid - Sword of Allah" border="0" alt="khalid bin Walid - Sword of Allah" align="left" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/khalidbinwalidswordofallah_thumb.jpg?w=109&#038;h=168" width="109" height="168" /></a> Khalid bin Walid Radhiyallâhu ‘anhu sangat sadar, tidaklah mungkin menandingi pasukan sebesar pasukan Romawi tanpa siasat yang jitu. Ia lalu mengatur strategi, ditebarkan rasa takut ke diri musuh dengan selalu formasi pasukan setiap hari. Pasukan di barisan depan ditukar dibelakang, dan yang dibelakang berada didepan. Pasukan sayap kanan berganti posisi ke kiri begitupun sebaliknya. Tujuannya adalah agar pasukan romawi mengira pasukan muslimin mendapat bantuan tambahan pasukan baru. </p>
<p align="justify">Khalid bin Walid memerintahkan beberapa kelompok prajurit kaum muslimin pada pagi harinya agar berjalan dari arah kejauhan menuju medan perang dengan menarik pelepah-pelepah pohon sehingga dari kejauhan terlihat seperti pasukan bantuan yg datang dengan membuat debu-debu berterbangan. Pasukan musuh yg menyaksikan peristiwa tersebut mengira bahwa pasukan muslim benar-benar mendapatkan bala bantuan. Mereka berpikir, bahwa kemarin dengan 3000 orang pasukan saja merasa kewalahan, apalagi jika datang pasukan bantuan. Karena itu, pasukan musuh merasa takut dan akhirnya mengundurkan diri dari medan pertempuran. Pasukan Islam lalu kembali ke Madinah, mereka tidak mengejar pasukan Romawi yang lari, karena dengan mundurnya pasukan Romawi berarti Islam sudah menang.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><strong>HASIL PEPERANGAN</strong></p>
<p align="justify">Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa pertempuran ini berakhir imbang. Hal karena kedua belah pasukan sama-sama menarik mundur pasukannya yang lebih dahulu dilakukan oleh Romawi. Sedangkan Ibnu Katsir menyebutkan bahwa dalam pertempuran ini kemenangan berada di tangan Muslim. </p>
<p align="justify">Sebenarnya tanpa ada justifikasi kemenanganpun akan diketahui ada dipihak siapa. Keberanian pasukan yang hanya berjumlah 3.000 dengan gagah berani menghadapi dan dapat mengimbangi pasukan yang sangat besar dan bersenjata lebih canggih dan lengkap cukup menjadi bukti. Bahkan jika menghitung jumlah korban dalam perang itu siapapun akan langsung mengatakan bahwa umat islam menang. Mengingat korban dari pihak muslim hanya 12 orang, (Menurut riwayat Ibnu Ishaq 8 orang, sedang dalam kitab as-Sîrah ash-Shahîhah (hal.468) 13 orang) sedangkan pasukan Romawi tercatat sekitar 20.000 orang. </p>
<p align="justify">Perang ini adalah perang yang sangat sengit meski jumlah korban hanya sedikit dari pihak muslim. Di dalam peperangan ini Khalid Radhiyallâhu ‘anhu telah menunjukkan suatu kegigihan yang sangat mengagumkan. Imam Bukhari meriwayatkan dari Khalid sendiri bahwa ia berkata: “Dalam perang Mu‘tah, sembilan bilah pedang patah di tanganku kecuali sebilah pedang kecil dari Yaman.” Ibnu Hajar mengatakan, Hadis ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin telah banyak membunuh musuh mereka.</p>
<p align="justify">&#160;</p>
<p align="justify"><strong>IBRAR YANG KITA BISA AMBIL DARI PERANG MU’TAH</strong></p>
<p align="justify">Kita merasa berat padahal kita tidak pernah berjihad. Kita mengeluh sering pulang malam dan kecapekan karena kita tidak pernah membayangkan mobilitas para sahabat seperti Zaid, Ja’far dan Ibnu Rawahah yang menempuh perjalanan beberapa pekan, lalu berperang beberapa pekan pula. Kita mengeluhkan hari libur yang tersita sehingga jarang berekreasi bersama keluarga karena kita tak pernah menempatkan diri seperti Zaid, Ja’far dan Ibnu Rawahah yang setiap kali berangkat jihad mereka meninggalkan wasiat pada istri dan keluarganya. Kita mengeluh korban tenaga, kehujanan, sampai terkena flu bahkan masuk rumah sakit. Karena kita tak pernah membayangkan jika kita yang menjadi para sahabat. Bukan flu yang menyerang tetapi anak-anak panah yang menancap di badan. Bukan panas dan meriang yang datang tetapi tombak yang menghujam. Bukan batuk karena kelelahan tapi sayatan pedang yang membentuk luka dan menumpahkan darah. </p>
<p align="justify">Kita mengeluh dengan pengeluaran sebagian kecil uang kita karena kita tidak membayangkan betapa besarnya biaya jihad para sahabat. Mulai dari membeli unta atau kuda, baju besi sampai senjata. Kita mengeluhkan masyarakat kita yang tidak juga menyambut dakwah sementara Zaid, Ja’far, dan Ibnu Rawahah bahkan tak pernah mengeluh meskipun berhadapan dengan 100.000 pasukan musuh. Kita merasa berat dan seringkali mengeluh karena kita tak memahami bahwa perjuangan Islam resikonya adalah kematian. Maka yang kita alami bukan apa-apa dibandingkan tombak yang menghujam tubuh Zaid bin Haritsah. Yang kita keluhkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sabetan pedang yang memutuskan dua tangan Ja’far bin Abu Thalib dan membelah tubuhnya. Yang kita rasa berat tidak seberapa dibandingkan luka-luka di tubuh Ibnu Rawahah yang membawanya pada kesyahidan. </p>
<p align="justify">Lalu pantaskah kita berharap Rasulullah menangis karena kematian kita? Pantaskah kita berharap malaikat datang menyambut kita? Atau bidadari menjemput kita? Kemudian pintu surga dibukakan untuk kita? </p>
<p align="justify">Ya Allah, jika kami memang belum pantas untuk itu semua, jangan biarkan kami mengeluh di jalan dakwah ini. Ya Allah, anugerahkanlah hidayah-Mu kepada kami, dan janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau memberi hidayah pada kami. Amin.</p>
<p align="justify">Sumber : <a title="http://www.madinatulilmi.com/?prm=posting&amp;kat=2&amp;var=detail&amp;id=287" href="http://www.madinatulilmi.com/?prm=posting&amp;kat=2&amp;var=detail&amp;id=287">madinatulilmi.com</a>, <a title="http://rasulullahsaw.atwiki.com/page/BAB%2023.%20EKSPEDISI%20MU%27TA" href="http://rasulullahsaw.atwiki.com/page/BAB%2023.%20EKSPEDISI%20MU%27TA">rasulullahsaw.atwiki.com</a>, <a title="http://mwindriyanto.web.id/2010/04/21/air-mata-rasulullah/" href="http://mwindriyanto.web.id/2010/04/21/air-mata-rasulullah/">mwindriyanto.web.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nabilmufti.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nabilmufti.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nabilmufti.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nabilmufti.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nabilmufti.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nabilmufti.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nabilmufti.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nabilmufti.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nabilmufti.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nabilmufti.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nabilmufti.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nabilmufti.wordpress.com/692/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nabilmufti.wordpress.com/692/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nabilmufti.wordpress.com/692/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=692&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabilmufti.wordpress.com/2011/04/07/perang-mutah-3000-pasukan-muslim-melawan-200-000-pasukan-romawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d4532f732d579748bc2c0db86c726923?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nabilmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/peranguhud_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">perang-uhud</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/articlearrows_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">article-arrows</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/moejahid_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">moejahid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2011/04/khalidbinwalidswordofallah_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">khalid bin Walid - Sword of Allah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Zaid bin Haritsah &#8211; Menukar Keluarga Demi Berada di sisi Rasulullah</title>
		<link>http://nabilmufti.wordpress.com/2010/08/25/zaid-bin-haritsah-menukar-keluarga-demi-berada-di-sisi-rasulullah/</link>
		<comments>http://nabilmufti.wordpress.com/2010/08/25/zaid-bin-haritsah-menukar-keluarga-demi-berada-di-sisi-rasulullah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 07:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nabilmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://nabilmufti.wordpress.com/2010/08/25/zaid-bin-haritsah-menukar-keluarga-demi-berada-di-sisi-rasulullah/</guid>
		<description><![CDATA[Tampang dan perawakannya biasa saja, pendek dengan kulit coklat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek. Demikian yang dilukiskan oleh ahli sejarah dan riwayat. Masalahnya bukan fisik. Yang membuat sejarah hidupnya hebat dan besar adalah perjalanan panjang sejarahnya bersama Rasulullah. Zaid yang berasal dari suku yang jauh dari Mekah, sampai ke Mekah dengan status budak. Tetapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=669&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/zaidbinharitsah.jpg"><img style="display:inline;border:0;margin:0 15px 0 0;" title="Zaid bin Haritsah" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/zaidbinharitsah_thumb.jpg?w=130&#038;h=182" alt="Zaid bin Haritsah" width="130" height="182" align="left" border="0" /></a>Tampang dan perawakannya biasa saja, pendek dengan kulit coklat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek. Demikian yang dilukiskan oleh ahli sejarah dan riwayat.</p>
<p style="text-align:left;">Masalahnya bukan fisik. Yang membuat sejarah hidupnya hebat dan besar adalah perjalanan panjang sejarahnya bersama Rasulullah. Zaid yang berasal dari suku yang jauh dari Mekah, sampai ke Mekah dengan status budak. Tetapi begitulah Allah Yang Maha Mempunyai rencana agar Zaid bisa bertemu dengan Rasul-Nya.</p>
<p><strong>&#8220;Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat Nabi jadi pemimpinnya. Seandainya ia masih hidup sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkatnya sebagai khalifah!&#8221; </strong>(Aisyah r.a).</p>
<p>Dan inilah kisah selengkapnya……</p>
<p><span id="more-669"></span></p>
<p><strong><span style="font-size:small;">SI KECIL ZAID MENJADI BUDAK</span><span style="font-size:small;"><br />
</span></strong></p>
<p>Sudah lama sekali  isteri Haritsah, Su’di binti Tsa’labah berniat hendak berziarah ke kaum keluarganya di kampung Bani Ma&#8217;an. Ia sudah gelisah dan seakan-akan tak sabar lagi menunggu waktu keberangkatannya. Pada suatu pagi yang cerah, suaminya ialah ayah Zaid, mempersiapkan kendaraan dan perbekalan untuk keperluan itu. Kelihatan isterinya sedang menggendong anak mereka yang masih kecil, Zaid. Di waktu ia akan menitipkan isteri  dan  anaknya kepada  rombongan  kafilah  yang  akan berangkat bersama dengan isterinya, dan ia harus menunaikan tugas pekerjaannya, menyelinaplah rasa sedih di hatinya, perasaan aneh menyeluruh di hatinya, menyuruh agar ia turut serta mendampingi anak dan isterinya. Akhirnya perasaan gundah itu hilang jua. Dan kafilah pun mulai bergerak memulai perjalanannya meninggalkan kampung itu, dan tibalah waktunya bagi Haritsah untuk mengucapkan selamat jalan bagi putera dan isterinya &#8230;.</p>
<p>Demikianiah, ia melepas isteri dan anaknya dengan air mata berlinang. Lama ia diam terpaku di tempat berdirinya sampai keduanya lenyap dari pandangan. Haritsah merasakan hatinya tergoncang, seolah-olah tidak berada di tempatnya yang biasa. Ia hanyut dibawa perasaan seolah-olah ikut berangkat bersama rombongan kafilah</p>
<p>Setelah beberapa lama Su&#8217;da, isteri Haritsah berdiam bersama kaum keluarganya di kampung Bani Ma&#8217;an. Hingga pada suatu hari, desa itu dikejutkan oleh serangan gerombolan perampok badui yang menggerayangi desa tersebut.</p>
<p>Kampung dibuat porak poranda. Karena tak dapat mempertahankan diri, semua milik yang berharga dikuras habis dan penduduk yang tertawan digiring oleh para perampok itu sebagai tawanan, termasuk si kecil Zaid bin Haritsah. Dengan perasaan duka kembalilah ibu Zaid kepada suaminya seorang diri.</p>
<p>Demi Haritsah mengetahui kejadian tersebut, ia pun jatuh tak sadarkan diri. Dengan tongkat di pundaknya ia berjalan mencari anaknya. Kampung demi kampung diselidikinya, padang pasir dijelajahinya. Dia bertanya pada kabilah yang lewat, kalau-kalau ada yang tahu tentang anaknya tersayang dan buah hatinya  &#8220;Zaid.&#8221;</p>
<p>Tetapi usaha itu tidak berhasil. Maka bersyairlah ia menghibur diri sambil menuntun untanya, yang diucapkannya dari lubuk perasaan yang haru:</p>
<blockquote><p>&#8220;Kutangisi Zaid, ku tak tahu apa yang telah terjadi, Dapatkah ia diharapkan hidup, atau telah mati Demi AIlah ku tak tahu, sungguh aku hanya bertanya. Apakah di lembah ia celaka atau di bukit ia binasa. Di kala matahari terbit ku terkenang padanya. BiIa surya terbenam ingatan kembali menjelma. Tiupan angin yang membangkitlkan kerinduan pula, Wahai, alangkah lamanya duka nestapa diriku jadi merana&#8221;</p></blockquote>
<p>Perbudakan kala itu adalah sesuatu yang lumrah menurut kondisi masyarakat pada zaman itu. Dan itu tidak hanya terjadi di Jazirah Arab saja tapi bahkan hampir mendunia. Terjadi di Athena Yunani, begitu di kota Roma, dan begitu pula di seantero dunia, dan tidak terkecuali di jazirah Arab sendiri.</p>
<p><strong><span style="font-size:small;">PERTEMUAN DENGAN RASULULLAH<br />
</span></strong></p>
<p><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/rasulullah.jpg"><img style="display:inline;border:0;" title="rasulullah" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/rasulullah_thumb.jpg?w=110&#038;h=89" alt="rasulullah" width="110" height="89" border="0" /></a></p>
<p>Ketika kabilah perampok yang menyerang desa Bani Maan berhasil dengan rampokannya, mereka pergi ke pasar Ukaz menjual barang-barang dan tawanan hasil rampokannya. Si kecil Zaid dibeli dibeli oleh Hakim bin Hizam dengan harga 400 dirham. Pada kemudian harinya ia memberikannya kepada bibinya, Siti Khadijah binti Khuwailid. Pada waktu itu, Khadijah radhiallahu’anha telah menjadi isteri Muhammad bin Abdullah (sebelum diangkat menjadi rasul oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala).</p>
<p>Selanjutnya Khadijah memberikan khadamnya Zaid sebagai pelayan bagi Muhammad. Beliau pun menerimanya dengan senang hati, lalu segera memerdekakannya. Dengan pribadinya yang besar dan jiwanya yang mulia, Zaid diasuh dan dididiknya dengan segala kelembutan dan kasih sayang seperti terhadap anaknya sendiri.</p>
<p><strong><span style="font-size:small;">PENCARIAN AYAH ZAID TERHADAP ANAKNYA<br />
</span></strong></p>
<p>Pada salah satu musim haji, sekelompok orang dari desa tempat Haritsah tinggal berjumpa dengan Zaid di Mekah. Mereka menyampaikan kerinduan ayah bunda Zaid. Zaid balik menyampaikan pesan salam rindu dan hormatnya kepada kedua orang tuanya. Kepada para hujaj atau jamaah haji itu, Zaid berkata, “Tolong beritakan kepada kedua orang tuaku bahwa aku di sini tinggal bersama seorang ayah yang paling mulia.”</p>
<p>Begitu ayah Zaid mengetahui di mana anaknya berada, segera ia mengatur perjalanan ke Mekah bersama seorang saudaranya. Sesampainya di Mekah, ia menanyakan di mana rumah Muhammad. Setelah bertemu dengan Muhammad, Haritsah berkata,</p>
<blockquote><p>“Wahai Ibnu Abdul Muththalib…!, wahai putera dari pemimpin kaumnya! Anda termasuk penduduk tanah Suci yang biasa membebaskan orang tertindas, yang suka memberi makanan para tawanan. Kami datang ini kepada anda hendak meminta anak kami. Sudilah kiranya menyerahkan anak itu kepada kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya?”</p></blockquote>
<p><strong><span style="font-size:small;">ZAID MENUKAR KELUARGANYA DEMI BERADA DI SISI RASULULLAH<br />
</span></strong></p>
<p>Rasulullah sendiri mengetahui benar bahwa hati Zaid telah lekat dan terpaut kepadanya, tapi dalam pada itu merasakan pula hak seorang ayah terhadap anaknya. Maka kata Nabi kepada Haritsah:</p>
<blockquote><p>&#8220;Panggillah Zaid itu ke sini, suruh ia memilih sendiri. Seandainya dia memilih Anda, maka akan saya kembalikan kepada Anda tanpa tebusan. Sebaliknya jika ia memilihku, maka demi Allah aku tak hendak menerima tebusan dan tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku!&#8221;</p></blockquote>
<p>Mendengar ucapan dari Rasulullah saw yang demikian, wajah Haritsah berseri-seri kegembiraan, karena tak disangkanya sama sekali kemurahan hati seperti itu, lalu ucapnya:  &#8220;Benar-benar anda telah menyadarkan kami dan anda beri pula keinsafan di balik kesadaran itu!&#8221;</p>
<p>Kemudian Nabi menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Setibanya di hadapannya, beliau langsung bertanya: &#8220;Tahukah engkau siapa orang-orang ini?&#8221; &#8220;Ya, tahu&#8221;, jawab Zaid, &#8220;Yang ini ayahku sedang yang seorang lagi adalah pamanku&#8221;.</p>
<p>Kemudian Nabi mengulangi lagi apa yang telah dikatakannya kepada ayahnya tadi, yaitu tentang kebebasan memilih orang yang disenanginya.</p>
<p>Tanpa berfikir panjang, Zaid menjawab: &#8220;Tak ada orang pilihanku kecuali Anda! Andalah ayah, dan Andalah pamanku!&#8221;</p>
<p>Mendengar itu, kedua mata Rasulullah basah dengan air mata, karena rasa syukur dan haru. Lain dipegangnya tangan Zaid, dibawanya ke pekarangan Ka&#8217;bah, tempat orang-orang Quraisy sedang banyak berkumpul, lain serunya: &#8220;Saksikan oleh halian semua, bahwa mulai saat ini, Zaid adalah anakku &#8230; yang akan menjadi ahli warisku dan aku jadi ahli warisnya&#8217;</p>
<p>Mendengar itu hati Haritsah seakan-akan berada di awang-awang karena suka citanya, sebab ia bukan saja telah menemukan kembali anaknya bebas merdeka tanpa tebusan, malah sekarang diangkat anak pula oleh seseorang yang termulia dari suku Quraisy yang terkenal dengan sebutan &#8220;Ash-Shadiqul Amin&#8221;, &#8212; Orang lurus Terpercaya &#8211;, keturunan Bani Hasyim, tumpuan penduduk kota Mekah seluruhnya.</p>
<p>Maka kembalilah ayah Zaid dan pamannya kepada kaumnya dengan hati tenteram, meninggalkan anaknya pada seorang pemimpin kota Mekah dalam keadaan aman sentausa, yakni sesudah sekian lama tidak mengetahui apakah ia celaka terguling di lembah atau binasa terkapar di bukit.</p>
<p>Rasulullah telah mengangkat Zaid sebagai anak angkat&#8230;, maka menjadi terkenallah ia di seluruh Mekah dengan nama &#8220;Zaid bin Muhammad&#8221; &#8230;.</p>
<p>Wahai….. apakah yang lebih dapat membuat hati Zaid terpaut kepada Rasulullah ketimbang orang tua kandungnya daripada setelah melihat akhlaq manusia teragung yang dikirim ditengah manusia-manusia yang sedang mengalami dekadensi moral. Jiwa kanak-kanaknya yang fitrah dengan mantap menjatuhkan pilihan yang selaras dengan kecenderungannya kepada kefitrahan.</p>
<p><strong><span style="font-size:small;">RASA SAYANG RASULULLAH KEPADA ZAID<br />
</span></strong></p>
<p><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/muhammadrasulullah.jpg"><img style="display:inline;border:0;" title="muhammad-rasulullah" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/muhammadrasulullah_thumb.jpg?w=150&#038;h=107" alt="muhammad-rasulullah" width="150" height="107" border="0" /></a></p>
<p>Tidak tak lama setelah Muhammad memikul tugas kerasulannya dengan turunnya wahyu tersebut, jadilah Zaid sebagai orang yang kedua masuk Islam.</p>
<p>Rasul sangat sayang sekali kepada Zaid. Kesayangan Nabi itu memang pantas dan wajar disebabkan kejujurannya, kebesaran jiwanya, kelembutan dan kesucian hatinya, sertaiterpelihara lidah dan tangannya.</p>
<p>Semua itu menyebabkan Zaid punya kedudukan tersendiri sebagai “Zaid Kesayangan” sebagaimana yang telah dipanggilkan sahabat-sahabat rasul kepadanya. Berkatalah Aisyah ra, “Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat menjadi pemimpinnya. Seandainya ia masih hidup sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkatnya sebagai khalifah.”</p>
<p>Zaid merupakan seorang panglima perang yang gagah berani, dan terbaik dalam membidik panah, ikut dalam perang Badr, dan menjadi perisai terhadap tubuh Nabi saat perang Uhud, ikut dalam perang Khandak, perjanjian Hudaibiyah, penaklukan Khaibar, dan perang Hunain, dan Rasulullah saw menjadikan sebagai panglima dalam 7 kali perang gerilya : Al-jumu’, Al-thorf, al-‘aish, hismi dan lain-lainnya,</p>
<p>Saat tentara Romawi mengubah perbatasan negara Islam dan menjadikan Syam sebagai pusat pemerintahan mereka; Rasulullah saw mengirim pasukan ke daerah Balqo di bagian negara Syam, dan memberikan wejangan dan pesan kepada para prajuritnya setelah menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan, maka Rasulullah saw berdiri melepas bala tentara Islam yang akan berangkat menuju medan perang Muktah melawan orang-orang Romawi. Beliau mengumumkan tiga nama yang akan memegang pimpinan dalam pasukan secara berurutan, sabdanya:</p>
<blockquote><p>“Kalian semua berada di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah! Seandainya ia tewas, pimpinan akan diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib; dan seandainya Jafar tewas pula, maka komando hendaklah dipegang oleh Abdullah ibnul Rawahah.”</p></blockquote>
<p>Sampai ke tingkat inilah kedudukan Zaid di sisi Rasulullah</p>
<p><strong><span style="font-size:small;">AWAL SEBUTAN ZAID BIN HARITSAH<br />
</span></strong></p>
<p>Setelah Rasulullah saw mengizinkan para sahabatnya berhijrah ke Madinah Zaid ikut serta berhijrah, dan Rasulullah saw mempersaudarkannya dengan Asid bin Khadir, dan pada saat itu Zaid masih dipanggil dengan Zaid bin Muhammad hingga turun firman Allah SWT : <em>“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka”.</em> (Al-Ahzab:5), maka saat itu pula Zaib dipanggil nama dengan Zaid bin Haritsah, dan Rasulullah saw menikahkannya dengan tuannya Ummu Aiman dan melahirkan anak yang bernama Usamah bin Zaid</p>
<p>Rasulullah saw menikahkan Zaid dengan Zainab. Sayangnya, pernikahannya tidak berumur panjang dan berakhir dengan perceraian. Kesediaan Zainab menikah dengan Zaid hanya karena rasa enggan menolak anjuran dan syafaat Rasulullah, dan karena tidak sampai hati menolak Zaid sendiri. Ketidakharmonisan ini sangat mengganggu Zaid sehingga Zaid pergi menghadap Rasulullah saw mengadukan hal tersebut, maka Rasulullah saw memerintahkannya untuk menahannya dan bersabar atasnya, namun Allah SWT memeirntahkan kepada Rasul-Nya untuk menceraikan Zainab dari Zaid kemudian beliau menikahi mantan istri dari Zaid, yang demikian untuk menghilangkan persepsi kebiasaan mengadopsi anak yang telah menjadi adat dikalangan jahiliyah, bahwa pada waktu itu anak angkat diperlakukan seperti anak sendiri,</p>
<blockquote><p>Allah berfirman : <em>“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang telah Allah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya : “Tahanlah terus istrimu dan bertaqwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang telah allah menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), kami kawinkan kamu dengan dia, supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawani) istri-istri anak-anak angkat mereka, jika anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”.</em> (Al-Ahzab:37).</p></blockquote>
<p>Dan cukuplah bagi Zaid mendapatkan kebanggaan namanya dicantumkan dalam Al-Qur’an Al-Karim, dan kemudian Rasulullah saw menikahkan beliau dengan Ummi Kultsum binti Uqbah.</p>
<p>Maka Rasulullah saw mengambil tanggung jawab terhadap rumah tangga Zaid ini yang telah pecah itu. Rasulullah merangkul Zainab dengan menikahinya sebagai isterinya, kemudian mencarikan Ummu Kultsum binti ‘Uqbah yang kemudian dinikahkan dengan Zaid.</p>
<p>Karena peristiwa tersebut, terjadilah kegemparan di kalangan masyarakat kota madinah. Mereka melemparkan kecaman, kenapa Rasul menikahi bekas isteri anak angkatnya.</p>
<p>Tantangan dan kecaman ini kemudian dijawab oleh Allah SWT dengan wahyu-Nya yang membedakan antara anak angkat dan anak kandung atau anak adaptasi dengan anak sebenarnya, sekaligus membatalkan adat kebiasaan yang berlaku selama itu. Pernyataan wahyu itu berbunyi sebagai berikut:</p>
<blockquote><p><em>“Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki (yang ada bersama) kalian. Tetapi, ia adalah Rasul Allah dan Nabi penutup. (al-Ahzab: 40)</em></p></blockquote>
<p>Dengan turunnya wahyu tersebut, Zaid kemudian dipanggil dengan sebutan “Zaid bin Haritsah.”</p>
<p><strong><span style="font-size:small;">SYAHIDNYA ZAID DI MEDAN JIHAD<br />
</span></strong></p>
<p><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/kepimpinan_islam.jpg"><img style="display:inline;border:0;" title="kepimpinan_islam" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/kepimpinan_islam_thumb.jpg?w=147&#038;h=111" alt="kepimpinan_islam" width="147" height="111" border="0" /></a></p>
<p>Suatu ketika datanglah perang Muktah yang terkenal itu. Adapun orang-orang Romawi dengan kerajaan mereka yang telah tua secara diam-diam mulai cemas dan takut terhadap kekuatan Islam, bahkan mereka melihat adanya bahaya besar yang dapat mengancam keselamatan mereka. Terutama di daerah jajahan mereka, Syam (Syiria) yang berbatasan dengan negara dari agama baru ini, yang senantiasa bergerak maju dalam membebaskan negara-negara tetangganya dari cengkeraman penjajah. Bertolak dari pikiran demikian, mereka hendak mengambil Syria sebagai batu loncatan untuk menaklukan jazirah Arab dan negeri-negeri Islam.</p>
<p>Gerak-gerik orang-orang Romawi dan tuan terakhir mereka yang hendak menumpas kakuatan Islam dapat tercium oleh Rasulullah. Sebagai seorang yang ahli strategi, Rasulullah memutuskan untuk mendahului mereka dengan serangan mendadak sebelum diserang di daerahnya sendiri.</p>
<p>Demikianlah, pada bulan Jumafil Ula, tahun yang kedelapan Hijriah, tentara Islam maju bergerak ke Balqa’ di wilayah Syam. Demi mereka sampai di perbatasannya, mereka dihadapi tentara Romawi yang dipimpin oleh Heraklius, dengan mengerahkan juga kabilah-kabilah atau suku-suku badui yang diam di perbatasan. Tentara Romawi mengambil tempat di suatu daerah yang bernama Masyarif, sedangkan laskar Islam mengambil posisi di dekat negeri kecil yang bernama Muktah yang kemudian dijadikan nama pertempuran ini.</p>
<p>Rasulullah saw mengetahui benar arti penting dan bahayannya peperangan ini. Oleh sebab itu, beliau sengaja memilih tiga orang panglima perang yang di waktu malam bertakarub mendekatkan mendekatkan diri kepada Ilahi, sedangkan di siang hari sebagai pendekar pejuang pembela agama. Tiga orang pahlawan itu adalah mereka yang siap menggadaikan jiwa raga mereka kepada Allah, yang tiada berkeinginan kembali, yang bercita-cita mati syahid dalam perjuangan menegakkan kalimat Allah, yang mengharap semata-mata ridha Illahi dengan menemui wajah-Nya Yang Maha Mulia kelak.</p>
<p>Mereka bertiga secara berurutan memimpin tentara itu ialah: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah, moga-moga Allah rela kepada mereka dan menjadikan mereka rela kepada-Nya, serta Allah merelakan pula seluruh sahabat lainya.</p>
<p>Rasul berdiri di hadapan pasukan tentara Islam yang hendak berangkat itu. Rasul melepas mereka dengan amanat, “Kalian harus tunduk kepada Zaid bin Harits sebagai pimpinan, seandainya ia gugur pimpinan dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib, dan senadainya Ja’far gugur pula, maka tempatnya diisi oleh Abdullah bin Rawabah.”</p>
<p>Ja’far bin Abi Thalib dijadikan orang yang kedua setelah Zaid, meskipun keberanian dan ketangkasanya serta keturunan dan kebangsawanannya tidak diragukan lagi, bahkan orang yang paling dekat kepada Rasul dari segi hubungan keluarga, sebagai anak pamannya sendiri.</p>
<p>Beginilah contoh dan teladan yang diperlihatkan Rasul dalam mengukuhkan suatu prinsip. Islam sebagai suatu agama baru mengikis habis segala hubungan lapuk yang didasarkan pada darah dan turunan atau yang ditegakkan atas yang batil dan rasialisme. Islam mengganti sistem-sistem yang tidak baik itu atas bimbingan dan hidayah Ilahi yang berpokok kepada hakikat kemanusiaan.</p>
<p>Ketika Rasulullah memilih mereka bertiga untuk menjadi pemimpin pasukan secara berurutan, seolah-olah beliau telah telah mengetahui secara ghaib tentang pertempuarn yang akan berlangsung. Beliau mengatur dan menetapkan susunan panglimanya dengan tertib berurutan: Zaid, lalu lalu Ja’far, kemudian Ibnu Abi Rawahah, ternyata ketika mereka menemui ajalnya, pulang ke rahmat Allah sebagai syuhada, sesuai dengan urutan itu pula.</p>
<p>Demi Kaum Muslimin melihat tentara romawi yang jumlahnya menurut taksiran tidak kurang dari 200.000 orang, suatu jumlah yang tak mereka duka sama sekali, mereka terkejut. Tetapi kapankah pertarungan yang didasari iman mempertimbangkan jumlah bilangan?</p>
<p>Ketika itulah, disana, mereka maju terus tanpa gentar, tak perduli dan tak menghiraukan besarnya musuh. Didepan sekali kelihatan dengan tangkasnya mengendarai kuda, panglima mereka Zaid, sambil memegang teguh panji-panji Rasulullah SAW. maju menyerbu laksana topan, dicelah-celah desingan anak panah, ujung tombak dan pedang musuh. Mereka bukan hanya semata-mata mencari kemenangan, tetapi lebih dari itu mereka mencari apa yang telah dijanjikan Allah, yakni tempat pembaringan disisi Allah, karen sesuai dengan firman-Nya:</p>
<blockquote><p><em>“Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang Mu’min dengan surga sebagai imbalannya.” (QS. at-Taubah: 111)</em></p></blockquote>
<p>Zaid tak sempat melihat pasir Balqa’, bahkan pula keadaan bala tentara Romawi, tetapi ia langsung melihat keindahan taman-taman surga dengan dedaunannya yang hijau berombak laksana kibaran bendera, yang memberitakan kepadanya, bahwa itulah hari istirahat dan kemenangannnya.</p>
<p>Ia telah terjun ke medan laga dengan menerpa, menebas, membunuh atau dibunuh. Tetapi ia tidaklah memisahkan kepala musuh-musuhnya, ia hanyalah membuka pintu dan menembus dinding, yang menghalanginya kekampung kedamaian, surga yang kekal disisi Allah.</p>
<p>Ia telah menemui tempat peristirahatannya yang akhir. Rohnya yang melayang dalam perjalanannya ke surga tersenyum bangga melihat jasadnya yang tidak berbungkus sutera dewangga, hanya berbalut darah suci yang mengalir di jalan Allah.</p>
<p>Senyumnya semakin melebar dengan tenang penuh nikmat, karena melihat panglima yang kedua Ja’far melesit maju ke depan laksana anak panah lepas dari busurnya. untuk menyambar panji-panji yang akan dipanggulnya sebelum jatuh ketanah.</p>
<p>Rasulullah saw pun berdo’a untuknya :</p>
<blockquote><p>“Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian, sungguh (Zaid) telah menemui cita-citanya untuk masuk surga”. (Ibnu Sa’ad).</p></blockquote>
<p>Zaid bin Haritsah r.a gugur sebagai syahid dalam perang Mu&#8217;tah, pada Jumadil Awwal 8 H. Pada waktu itu usianya 55 tahun.</p>
<p><strong>Sumber</strong>: <a title="http://www.al-ikhwan.net/mutiara-para-sahabat-nabi-zaid-bin-haritsah-sosok-kesayangan-nabi-saw-gagah-berani-perisai-nabi-saw-dan-panglima-7-perang-gerilya-354/" href="http://www.al-ikhwan.net/mutiara-para-sahabat-nabi-zaid-bin-haritsah-sosok-kesayangan-nabi-saw-gagah-berani-perisai-nabi-saw-dan-panglima-7-perang-gerilya-354/">al-ikhwan.net</a>, <a title="http://risalahrasul.wordpress.com/2008/05/29/zaid-bin-haritsah/" href="http://risalahrasul.wordpress.com/2008/05/29/zaid-bin-haritsah/">risalahrasul.wordpress.com</a>, <a title="http://majlisdzikrullahpekojan.org/kisah-sahabat-nabi/zaid-bin-haritsah.html" href="http://majlisdzikrullahpekojan.org/kisah-sahabat-nabi/zaid-bin-haritsah.html">majlisdzikrullahpekojan.org</a>, <a title="http://nadiyyah.net/2008/06/zaid-bin-haritsah/" href="http://nadiyyah.net/2008/06/zaid-bin-haritsah/">nadiyyah.net</a>, <a title="http://zulfi19.cybermq.com/post/detail/5096/zaid-bin-haritsah---satu-satunya-shahabat-yang-namanya-tercantum-dalam-al-qurrsquo;an" href="http://zulfi19.cybermq.com/post/detail/5096/zaid-bin-haritsah---satu-satunya-shahabat-yang-namanya-tercantum-dalam-al-qurrsquo;an">zulfi19.cybermq.com</a>, <a title="http://nabimuhammad.info/2010/06/zaid-bin-haritsah/" href="http://nabimuhammad.info/2010/06/zaid-bin-haritsah/">nabimuhammad.info</a>, <a title="http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=258" href="http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&amp;id_online=258">asysyariah.com</a>, <a title="http://www.alsofwah.or.id/cetakanalisa.php?id=628&amp;idjudul=626" href="http://www.alsofwah.or.id/cetakanalisa.php?id=628&amp;idjudul=626">alsofwah.or.id</a>, Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muhammad Khalid</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nabilmufti.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nabilmufti.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nabilmufti.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nabilmufti.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nabilmufti.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nabilmufti.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nabilmufti.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nabilmufti.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nabilmufti.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nabilmufti.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nabilmufti.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nabilmufti.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nabilmufti.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nabilmufti.wordpress.com/669/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=669&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabilmufti.wordpress.com/2010/08/25/zaid-bin-haritsah-menukar-keluarga-demi-berada-di-sisi-rasulullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d4532f732d579748bc2c0db86c726923?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nabilmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/zaidbinharitsah_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Zaid bin Haritsah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/rasulullah_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rasulullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/muhammadrasulullah_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">muhammad-rasulullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/kepimpinan_islam_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kepimpinan_islam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bilal bin Rabah &#8211; Mu&#8217;adzin Pertama Umat Islam</title>
		<link>http://nabilmufti.wordpress.com/2010/08/19/bilal-bin-rabah-muadzin-pertama-umat-islam/</link>
		<comments>http://nabilmufti.wordpress.com/2010/08/19/bilal-bin-rabah-muadzin-pertama-umat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Aug 2010 04:50:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nabilmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://nabilmufti.wordpress.com/2010/08/19/bilal-bin-rabah-muadzin-pertama-umat-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Bilal bin Rabah, Mu’adzin Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya. Siapakah gerangan lelaki yang ketika didera siksa dahsyat Kafir Quraisy, hanya kata-kata “ Ahadun-Ahad “ yang keluar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=660&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/bilalbinrabah.jpg"><img title="BILAL BIN RABAH" style="border-right:0;border-top:0;display:inline;border-left:0;border-bottom:0;margin:0 15px 0 0;" height="156" alt="BILAL BIN RABAH" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/bilalbinrabah_thumb.jpg?w=100&#038;h=156" width="100" align="left" border="0" /></a> </p>
<p>Bilal bin Rabah, Mu’adzin Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em>, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.</p>
<p>Siapakah gerangan lelaki yang ketika didera siksa dahsyat Kafir Quraisy, hanya kata-kata <i>“ Ahadun-Ahad “ </i>yang keluar dari mulutnya, Siapakah pula lelaki yang pada hari-hari akhirnya mengulang-ulang kata-kata, “Besok kita akan bertemu dengan para kekasih (Muhammad dan para sahabatnya)” ?</p>
<p>Dialah<strong> </strong><strong>Bilal Bin Rabah Al-Habsyi, Semoga Allah meridloinya, lelaki yang </strong> lahir di Mekah, sekitar 43 tahun sebelum hijrah itu tumbuh di Mekah sebagai seorang hamba sahaya milik anak-anak yatim keluarga Bani Abdud Dar yang berada di bawah asuhan Umaiyah bin Khalaf.</p>
<p> <span id="more-660"></span>
<p><strong><font size="3">Bilal Sebelum Masuk Islam</font></strong></p>
<p align="left">Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda&#8217; (putra wanita hitam).</p>
<p align="left">Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekkah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir. Seperti penampilan orang Afrika pada umumnya, hitam, tinggi dan besar, begitulah Bilal. Meski Bilal adalah lelaki dengan kulit hitam pekat, namun hatinya, insya Allah bak kapas yang tak bernoda. </p>
<p align="left">Masa kecil Bilal dihabiskan di Mekkah, sebagai putra dari seorang budak, Bilal melewatkan masa kecilnya dengan bekerja keras dan menjadi budak. Ia hidup sebagai hamba sahaya, hari-harinya berlalu tanpa beda dan buruk. Ia tidak punya hak pada hari ini, dan tidak punya harapan pada esok hari. Seringkali ia mendengar tuan-nya, Umayyah, berbicara bersama kawan-kawannya pada suatu waktu dan para anggota kabilah di waktu lain tentang Rasulullah -Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam, dengan pembicaraan yang meluapkan amarah dan ke-dengkian yang sangat.</p>
<p align="left">&#160;</p>
<p align="left"><strong><font size="3">Keislaman Bilal</font></strong></p>
<p align="left"><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/shahadah2.jpg"><img title="shahadah 2" style="border-right:0;border-top:0;display:inline;border-left:0;border-bottom:0;" height="129" alt="shahadah 2" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/shahadah2_thumb.jpg?w=178&#038;h=129" width="178" border="0" /></a> </p>
<p align="left">Bilal termasuk orang yang teguh dengan pendiriannya. Ketika Rasulullah Saw mulai menyampaikan risalahnya kepada penduduk Mekah, beliau telah lebih dahulu mendengar seruan Rasulullah saw yang membawa agama Islam, yang menyeru untuk beribadah kepada Allah yang Esa, dan meninggalkan berhala, menggalakkan persamaan antara sesama manusia, memerintahkan kepada akhlak yang mulia, sebagaimana beliau juga selalu mengikuti pembicaraan para pemuka Quraisy seputar Nabi Muhammad saw.</p>
<p align="left">Beliau mendengar tentang sifat amanah Rasulullah saw, menepati janji, kegagahannya, kejeniusan akalnya, menyimak ucapan mereka : “Muhammad sama sekali tidak pernah berdusta, beliau bukan ahli sihir, bukan orang gila, dan terakhir beliau juga mendengar pembicaraan mereka tentang sebab-sebab permusuhan mereka terhadap Nabi Muhammad saw.</p>
<p>Maka Bilal-pun pergi menghadap Rasulullah saw untuk mengikrarkan diri masuk Islam karena Allah Tuhan semesta alam. Bilal masuk dalam deretan kelompok yang pertama-tama memeluk Islam (Assabiqunal Awwalin). Taslimnya Bilal saat di atas permukaan bumi baru hanya ada segelintir pemeluk Islam, Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar Sidik, Ali bin Abi Talib, Ammar bin Yasir dan ibunya; Sumaiyah, Shuhaib Ar-Rumi dan Miqdad bin Aswad.</p>
<p>Kemudian menyebarlah perihal masuknya Bilal kedalam agama Islam diseluruh penjuru kota Mekah, hingga sampai kepada tuannya Umayyah bin Khalaf dan menjadikannya marah sekali sehingga ingin menyiksanya dengan sekeras-kerasnya.</p>
<p><strong><font size="3"></font></strong></p>
<p><strong><font size="3">Siksaan Terhadap Bilal bin Rabah atas Keislamannya</font></strong></p>
<p>Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.</p>
<p>Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad &#8230; (Allah Maha Esa).” Bilal dicambuk hingga tubuhnya yang hitam tersebut melepuh.</p>
<p><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/agencedesertmoley.jpg"><img title="agence-desert-moley" style="border-right:0;border-top:0;display:inline;border-left:0;border-bottom:0;" height="124" alt="agence-desert-moley" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/agencedesertmoley_thumb.jpg?w=164&#038;h=124" width="164" border="0" /></a> </p>
<p>Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas di tengah padang pasir saat terik matahari, waktu yang menjadikan padang pasir seakan seperti padang api yang sangat panas, dan penyiksaan yang kejam ini terus berulang setiap hari. Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad &#8230;.“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad&#8230;.”</p>
<p>Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan &#8216;Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”   <br />Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.</p>
<p>Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah2 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, <em>“Ahad&#8230;, Ahad&#8230;, Ahad&#8230;, Ahad&#8230;.”</em> Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><font size="3">Abu Bakar Menebus Bilal bin Rabah</font></strong></p>
<p>Akhirnya Allah mengakhiri siksaan demi siksaan yang dialami oleh Bilal melalui Abu Bakar As Shiddiq. Suatu hari, disaat Bilal kembali disiksa oleh majikannya Umayyah, Abu Bakar sedang lewat tidak jauh dari tempat penyiksaannya. </p>
<p>Abu Bakar ash-Shiddiq -Radhiallaahu ‘Anhu datang pada saat mereka menyiksanya, dan meneriaki mereka dengan ucapan, “Apakah kalian membunuh seseorang karena berucap, ‘Rabbku adalah Allah?. Abu Bakar juga berkata,&#160; “Wahai Umayah tidakkah engkau takut kepada Allah dalam diri orang miskin ini ?” “Sampai kapan engkau akan berhenti menyiksa seperti ini ? “. Umayahpun berkata kepada Abu Bakar : “Engkau telah merusaknya dan saya ingin menyelamatkannya seperti yang engkau lihat”. Lalu Umayah mencambuknya kembali, hingga merasa putus asa dan meminta kepada Abu Bakar untuk membelinya.</p>
<p>Mendengar hal tersebut, Abu Bakar berniat membeli Bilal dari Umayyah bin Khalaf. Lalu Umayyah pun meninggikan harganya karena ia menduga bahwa Abu Bakar tidak akan mampu untuk membayarnya. Padahal dalam hatinya dia mengatakan, “Jika dia membelinya 1 uqiah pun akan saya jual.” Sebaliknya Abu Bakar juga mengatakan dalam hati, “Jika tidak mau menjualnya di bawah harga 100 uqiah pun akan saya beli.”</p>
<p>Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.   <br />Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, &quot;Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.&quot;    <br />Abu Bakar membalas, &quot;Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya&#8230;&quot;</p>
<p>Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> berkata kepada Abu Bakar, &quot;Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.&quot; Ash-Shiddiq <em>Rodhiallahu ‘anhu</em> menjawab, &quot;Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.&quot;</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><font size="3">Hijrah ke Madinah</font></strong></p>
</p>
<p><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/camels.jpg"><img title="camels" style="border-right:0;border-top:0;display:inline;border-left:0;border-bottom:0;" height="122" alt="camels" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/camels_thumb.jpg?w=161&#038;h=122" width="161" border="0" /></a> </p>
<p>Setelah Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu ‘anhu.. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan &#8216;Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih,</p>
<p>Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti   <br />Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil    <br />Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah    <br />Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil</p>
<p>Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman&#8230;. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah&#8230;. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.</p>
<p>Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em>.. Bilal selalu mengikuti Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanyma saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan Rasulullah<em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.</p>
<p>Dia mengabdikan diri sepanjang hidupnya kepada Rasul yang sangat dicintainya. Dia menjadi pengikut Rasul yang setia dan selalu mengikuti setiap peperangan yang terjadi pada masa itu. Bahkan dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana akhirnya Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf mantan majikannya tewas di tangan pedang kaum muslimin.</p>
<p>Bilal menyertai Nabi <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya.</p>
<p>Saat terjadi perang, Bilal menghadang Umayah dan berkata kepadanya : “Pemimpin kekufuran adalah Umayah bin Kholaf, saya tidak akan selamat jika jiwa dia selamat”. Akhirnya riwayat hidup Umayah berakhir di tangan Bilal, tangan yang sebelumnya banyak dibelenggu dengan rantai-rantai dari besi, dan tubuh yang selalu dicambuk dengan pecut.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><font size="3">Penunjukan Bilal bin Rabah sebagai Mu’adzin </font></strong></p>
<p>&#160;</p>
<p>Ketika Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam. Suaranya yang begitu merdu sangat menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya. Rasulullah sangat menyukai suara Bilal.</p>
<p>Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> seraya berseru, “Hayya ‘alashsholaati hayya ‘alashsholaati&#8230;(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan&#8230;.)” Lalu, ketika Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><font size="3">Penaklukan Mekkah</font></strong></p>
<p>Ketika Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama &#8216;sang pengumandang panggilan langit&#8217;, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka&#8217;bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka&#8217;bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam..</p>
<p>Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em>, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka&#8217;bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.</p>
<p>Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.</p>
<p>Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, &quot;Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu&#8230;. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.&quot; Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.</p>
<p>Khalid bin Usaid berkata, &quot;Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.&quot; Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..</p>
<p>Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, &quot;Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka&#8217;bah.&quot;</p>
<p>Al-Hakam bin Abu al-&#8217;Ash berkata, &quot;Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka&#8217;bah).&quot;</p>
<p>Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, &quot;Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.&quot;</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><font size="3">Adzan Bilal pada Saat Wafatnya Rasulullah</font></strong></p>
<p>Sesaat setelah Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah <em>Shalallahu ‘alaihi wasallam</em> masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.</p>
<p><strong><font size="3"></font></strong></p>
<p><strong><font size="3">Keistimewaan Bilal bin Rabah</font></strong></p>
<p>Bilal hidup bersama Rasulullah saw dan selalu mengumandangkan Adzan untuk sholat, dan menghidupkan syi’ar agama ini yang telah mengeluarkannya dari kegelapan kepada cahaya, dari perbudakan pada kemerdekaan, hingga setiap hari kedekatan Bilal dengan Rasulullah saw kian bertambah yang mana beliau (Rasulullah saw) pernah mensifatinya dengan calon penghuni surga, namun demikian beliau tetap seperti biasa, Bilal yang ramah, sopan tidak pernah merasa dirinya lebih baik dari sahabatnya yang lain.</p>
<p>Suatu hari Rasulullah memanggil Bilal untuk menghadap. Rasulullah ingin mengetahui langsung, amal kebajikan apa yang menjadikan Bilal mendahului berjalan masuk surga ketimbang Rasulullah.</p>
<p>&quot;Wahai Bilal, aku mendengar gemerisik langkahmu di depanku di dalam surga. Setiap malam aku mendengar gemerisikmu.&quot;</p>
<p>Dengan wajah tersipu tapi tak bisa menyembunyikan raut bahagianya, Bilal menjawab pertanyaan Rasulullah. &quot;Ya Rasulullah, setiap kali aku berhadats, aku langsung berwudhu dan shalat sunnah dua rakaat.&quot;</p>
<p>&quot;Ya, dengan itu kamu mendahului aku,&quot; kata Rasulullah membenarkan. Subhanallah, demikian tinggi derajat Bilal bin Rabah di sisi Allah.</p>
<p>Menurut riwayat Bukhari, </p>
<p>Nabi pernah bersabda kepadanya setelah shalat subuh : “Ceritakan kepada saya perbuatan apa yang telah engkau lakukan dalam Islam, karena sesungguhnya pada suatu malam saya mendengar suara sendal kamu berada di pintu surga”, Bilal berkata : “Saya tidak melakukan sesuatu apapun yang lebih baik melainkan saya tidak pernah bersuci dengan sempurna pada setiap saat; baik malam dan siang hari kecuali saya melakukan shalat sebagaimana yang ditentukan untuk saya melakukan shalat”. (Al-Bukhari).</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><font size="3">Sepeninggal Rasulullah</font></strong></p>
<p>Sejak kepergian Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em>, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.</p>
<p>Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah <em>Sholallahu ‘alaihi wasallam</em> sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.</p>
<p>Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, &quot;Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.&quot;</p>
<p>Abu Bakar menjawab, &quot;Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.&quot;</p>
<p>Bilal menyahut, &quot;Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat.&quot;</p>
<p>Abu Bakar menjawab, &quot;Baiklah, aku mengabulkannya.&quot;</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><font size="3">Mimpi Bertemu Rasulullah</font></strong></p>
<p>Mimpi pertama bertemu Rasulullah itu dalam mimpinya, Rasulullah Saw berkata kepada Bilal: “Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu,” Kemudian Bilal menjawab: “Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu dan mencium harum aroma tubuhmu,” kata Bilal masih dalam mimpinya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu. Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal bin Rabah segera memenuhi ruangan kosong dihampir seluruh penjuru kota Madinah. Tak menunggu senja, hampir seluruh penduduk Madinah tahu, semalam Bilal bermimpi ketemu dengan nabi junjungannya.</p>
<p>Pada suatu hari, ia bermimpi lagi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpinya itu Nabi saw bersabda kepadanya, “Wahai Bilal, apa yang menghalangimu sehingga engkau tidak pernah menjengukku ?” Setelah bangun dari tidurnya, Bilal ra pun segera pergi ke Madinah. Setibanya di Madinah, Hasan dan Husain ra meminta Bilal ra agar mengumandangkan adzan. Ia tidak dapat menolak permintaan orang-orang yang dicintainya itu. Ketika ia mulai mengumandangkan adzan, maka terdengarlah suara adzan seperti ketika zaman Rasulullah saw masih hidup. Hal ini sangat menyentuh hati penduduk Madinah, sehingga kaum wanita pun keluar dari rumah masing-masing sambil menangis untuk mendengarkan suara adzan Bilal ra itu. Setelah beberapa hari lamanya Bilal ra tinggal di Madinah, akhirnya ia meninggalkan kota Madinah dan kembali ke Damaskus dan wafat di sana pada tahun kedua puluh Hijriyah.</p>
<p>&#160;</p>
<p><strong><font size="3">Bilal Meninggalkan Madinah untuk Berjihad di Syam</font></strong></p>
<p>Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu ‘anhu setelah terpisah cukup lama.</p>
<p>Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali,</p>
<p>&quot;Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).&quot;</p>
<p>Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.. Dan itu, menjadi adzan terakhir yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman.</p>
<p>BiIal, &quot;pengumandang seruan langit itu&quot;, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat. Saat menjelang kematiannya, istri Bilal menunggu di sampingnya dengan setia seraya berkata, &quot;Oh, betapa sedihnya hati ini&#8230;.&quot;</p>
<p>Tapi, setiap istrinya berkata seperti itu, Bilal membuka matanya dan membalas, &quot;Oh, betapa bahagianya hati ini&#8230;. &quot; </p>
<p>Menjelang wafatnya Bilal pada tahun keduapuluh Hijriyah untuk menghadap sang Khalik, Bilal seringkali mengucapkan kata-kata secara secara beulang-ulang, kata tersebut adalah:</p>
<p>&quot;Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih&#8230;   <br />Muhammad dan sahabat-sahabatnya    <br />Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih&#8230;    <br />Muhammad dan sahabat-sahabatnya&quot;</p>
<p>Bilal meninggal di Syam dalam keadaan bersiap siaga di jalan Allah, sebagaimana yang dikehendakinya. Semoga Allah meridhainya dan menjadikannya ridha kepadaNya.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Sumber: <a title="http://kisahislam.com/siroh-sahabat/10-bilal-bin-rabah-rodhiallu-anhu-.html" href="http://kisahislam.com/siroh-sahabat/10-bilal-bin-rabah-rodhiallu-anhu-.html">kisahislam.com</a>, <a title="http://yuari.wordpress.com/2008/01/08/sirah-sahabat-bilal-bin-rabah/" href="http://yuari.wordpress.com/2008/01/08/sirah-sahabat-bilal-bin-rabah/">yuari.wordpress.com</a>, <a title="http://majlisdzikrullahpekojan.org/kisah-sahabat-nabi/bilal-bin-rabah.html" href="http://majlisdzikrullahpekojan.org/kisah-sahabat-nabi/bilal-bin-rabah.html">majlisdzikrullahpekojan.org</a>, <a title="http://cored.cybermq.com/post/detail/9337/bilal-bin-rabah-ra" href="http://cored.cybermq.com/post/detail/9337/bilal-bin-rabah-ra">cybermq.com</a>, <a title="http://madinatulilmi.com/?prm=posting&amp;kat=2&amp;var=detail&amp;id=235" href="http://madinatulilmi.com/?prm=posting&amp;kat=2&amp;var=detail&amp;id=235">madinatulilmi.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nabilmufti.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nabilmufti.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nabilmufti.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nabilmufti.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nabilmufti.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nabilmufti.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nabilmufti.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nabilmufti.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nabilmufti.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nabilmufti.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nabilmufti.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nabilmufti.wordpress.com/660/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nabilmufti.wordpress.com/660/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nabilmufti.wordpress.com/660/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=660&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabilmufti.wordpress.com/2010/08/19/bilal-bin-rabah-muadzin-pertama-umat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d4532f732d579748bc2c0db86c726923?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nabilmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/bilalbinrabah_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BILAL BIN RABAH</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/shahadah2_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">shahadah 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/agencedesertmoley_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">agence-desert-moley</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/camels_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">camels</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abdullah bin Umar: Penyayang Fakir Miskin dan Anak Yatim</title>
		<link>http://nabilmufti.wordpress.com/2010/08/02/abdullah-bin-umar-penyayang-fakir-miskin-dan-anak-yatim/</link>
		<comments>http://nabilmufti.wordpress.com/2010/08/02/abdullah-bin-umar-penyayang-fakir-miskin-dan-anak-yatim/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 10:46:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nabilmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://nabilmufti.wordpress.com/2010/08/02/abdullah-bin-umar-penyayang-fakir-miskin-dan-anak-yatim/</guid>
		<description><![CDATA[Abdullah bin Umar bin Khattab atau sering disebut Abdullah bin Umar atau Ibnu Umar saja (lahir 612 – wafat 693/696 atau 72/73 H) adalah seorang sahabat Nabi dan merupakan periwayat hadits yang terkenal. Ia adalah anak dari Umar bin Khattab, salah seorang sahabat utama Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin yang kedua. Ibnu Umar masuk Islam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=651&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/hijrah2.jpg"><img title="hijrah2" style="border-right:0;border-top:0;display:inline;border-left:0;border-bottom:0;" height="114" alt="hijrah2" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/hijrah2_thumb.jpg?w=173&#038;h=114" width="173" border="0" /></a> </p>
<p>Abdullah bin Umar bin Khattab atau sering disebut Abdullah bin Umar atau Ibnu Umar saja (lahir 612 – wafat 693/696 atau 72/73 H) adalah seorang sahabat Nabi dan merupakan periwayat hadits yang terkenal. Ia adalah anak dari Umar bin Khattab, salah seorang sahabat utama Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin yang kedua.</p>
<p>Ibnu Umar masuk Islam bersama ayahnya saat ia masih kecil, dan ikut hijrah ke Madinah bersama ayahnya. Pada usia 13 tahun ia ingin menyertai ayahnya dalam Perang Badar, namun Rasulullah menolaknya. Perang pertama yang diikutinya adalah Perang Khandaq. Ia ikut berperang bersama Ja’far bin Abu Thalib dalam Perang Mu’tah, dan turut pula dalam pembebasan kota Makkah (<em>Fathu Makkah</em>). Setelah Nabi Muhammad meninggal, ia ikut dalam Perang Yarmuk dan dalam penaklukan Mesir serta daerah lainnya di Afrika.</p>
<p> <span id="more-651"></span>
<p><font size="3"><strong>Periwayat Hadits Terbanyak Setelah Abu Hurairah</strong></font></p>
<p>Ibnu Umar adalah seorang yang meriwayatkan hadist terbanyak kedua setelah Abu Hurairah, yaitu sebanyak 2.630 hadits, karena ia selalu mengikuti kemana Rasulullah pergi. Bahkan Aisyah istri Rasulullah pernah memujinya dan berkata :”Tak seorang pun mengikuti jejak langkah Rasulullah di tempat-tempat pemberhentiannya, seperti yang telah dilakukan Ibnu Umar”. Ia bersikap sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadist Nabi. Demikian pula dalam mengeluarkan fatwa, ia senantiasa mengikuti tradisi dan sunnah Rasulullah, karenanya ia tidak mau melakukan ijtihad. Biasanya ia memberi fatwa pada musim haji, atau pada kesempatan lainnya. Diantara para Tabi’in, yang paling banyak meriwayatkan darinya ialah Salim dan hamba sahayanya, Nafi’.</p>
<p>Abdullah bin Umar sering bergaul dan selalu dekat dengan Rasulullah. Kecintaannya kepada Rasulullah sangat mengagumkan. Kemana pun Rasulullah pergi, ia sering turut menyertainya. Ia memang tercatat masih ipar Rasulullah, karena saudari kandungnya yang bernama Hafsah binti Umar menjadi istri Rasulullah. Ia senantiasa berusaha mencontoh sifat, kebiasaan harian dan meniru segala gerak-gerik Rasulullah, seperti cara memakai pakaian, makan, minum, bergaul, dan hal lainnya. Atas dasar inilah, ia disegani dan dihormati banyak orang. Bahkan, ia pernah menjadi guru yang mengajari murid-muridnya yang datang dari berbagai tempat, meski tidak lama.</p>
<p>Abdullah bin Umar pada suatu malam yang sunyi telah bermimpi yang aneh. Dalam mimpinya itu, dia duduk di masjid sedang mengerjakan salat. Kemudian melihat ada yang turun mendekati dia untuk mengajak pergi ke suatu tempat yang indah pemandangannya.    <br />Lalu, Abdullah bin Umar menceritakan tentang mimpinya itu kepada saudaranya, yaitu Hafsah, istri Nabi. Sewaktu Nabi mendengarkannya, Nabi berkata, &quot;Abdullah adalah seorang anak yang cakap, sebaiknya engkau setiap malam lebih banyak berdoa dan berzikir.&quot;     <br />Abdullah bin Umar dengan perasaan senang dan ikhlas melaksanakan nasihat Nabi, beribadah sepanjang malam, istirahatnya berkurang. </p>
<p>Pada waktu salat ia menangis. Kadang-kadang air matanya keluar, dan mohon ampun kepada Allah. Sehingga, Rasulullah saw. merasa belas kasihan kepadanya. Maka, beliau memberi julukan kepadanya yaitu &quot;Anak muda yang cakap&quot;. </p>
<p>Khalifah Utsman bin Affan pernah menawari Ibnu Umar untuk menjabat sebagai hakim, tapi ia tidak mau menerimanya. Setelah Utsman terbunuh, sebagian kaum muslimin pernah berupaya membai’atnya menjadi khalifah, tapi ia juga menolaknya. Ia tidak ikut campur dalam pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia cenderung menjauhi dunia politik, meskipun ia sempat terlibat konflik dengan Abdullah bin Zubair yang pada saat itu telah menjadi penguasa Makkah.</p>
<p><font size="3"><strong>Pujian Para Shahabat Lainnya tentang Abdullah bin Umar</strong></font></p>
<p>Kesalehan Ibnu Umar sering mendapatkan pujian dari kalangan sahabat Nabi dan kaum muslimin lainnya. Jabir bin Abdullah berkata: ” Tidak ada di antara kami disenangi oleh dunia dan dunia senang kepadanya, kecuali Umar dan putranya Abdullah.” Abu Salamah bin Abdurrahman mengatakan: “Ibnu Umar meninggal dan keutamaannya sama seperti Umar. Umar hidup pada masa banyak orang yang sebanding dengan dia, sementara Ibnu Umar hidup di masa yang tidak ada seorang pun yang sebanding dengan dia”.</p>
<p><strong><font size="3">Kemurahan Abdullah bin Umar</font></strong> </p>
<p>Abdullah bin Umar termasuk orang yang hidup makmur, kaya raya dan berpenghasilan banyak. Ia pedagang dan saudagar yang jujur dan berhasil dalam sebagian besar kehidupannya. Di samping itu, gajinya dari Baitul maal (kas negara) tidak sedikit pula. Tetapi, tunjangan itu tidak satu dirham pun disimpannya, melainkan dibagi-bagi sebanyak-banyaknya kepada fakir miskin dan anak yatim. Ia banyak memberi kepada orang lain karena ia dikenal sangat pemurah. Bahkan, ia tidak peduli apakah kemurahannya itu akan menyebabkannya miskin atau kelaparan. Ia memang zahid, yakni orang yang tidak berminat terhadap pesona dunia. </p>
<p>Seseorang bernama Ayub bin Ma’il Ar Rasibi pernah menceritakan salah satu contoh kedermawanan Abdullah bin Umar. Pada suatu hari, Abdullah bin Umar menerima uang sebanyak 4.000 dirham dan sehelai baju dingin. Hari berikutnya, Ayub bin Ma’il melihatnya di pasar sedang membeli makanan untuk hewan tunggangannya secara berhutang. Maka, Ayub bin Ma’il pergi menemui keluarga Abdullah bin Umar. </p>
<p>“Bukankah kemarin Abdullah bin Umar menerima kiriman 4.000&#160; dirham dan sehelai&#160; baju dingin?” tanya Ayub bin Ma’il. </p>
<p>“Benar,” jawab salah seorang dari keluarga Abdullah bin Umar. </p>
<p>“Saya lihat ia tadi di pasar membeli makanan untuk hewan tunggangannya dan tidak punya uang untuk membayarnya,” kata Ayub bin Ma’il. </p>
<p>“Tidak sampai malam hari, uang itu telah habis dibagi-bagikannya. Mengenai baju dingin, mula-mula dipakainya, lalu ia pergi keluar. Saat ia kembali, baju itu tidak kelihatan lagi. Ketika kami tanyakan, jawabnya bahwa baju itu telah diberikannya kepada seorang miskin,” tutur keluarganya. </p>
<p>Setelah mendengar penjelasan tersebut, Ayub bin Ma’il pamitan pulang. Dalam perjalanan, Ayub bin Ma’il berkata dalam hati, sungguh kedermawanan Abdullah bin Umar bukanlah sebagai alat untuk mencari nama, popularitas atau memperoleh penghormatan dari manusia. Semua niatan itu berasal dari dalam hatinya yang tulus dan semata karena Allah SWT. Pemberiannya pun hanya ditujukan kepada fakir miskin, anak yatim dan orang yang benar-benar membutuhkan. Ayub bin Ma’il menambahkan, jarang sekali ia makan seorang diri, karena pasti disertai anak-anak yatim dan kaum fakir miskin.</p>
<p><strong><font size="3">Keistimewaan Abdullah bin Umar</font> </strong></p>
<p>Abdullah bin Umar adalah pemuda teladan yang tekun beribadah dan senang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Apabila sedang membaca Al-Quran atau ketika shalat, dia tak sadarkan diri sampai menangis. Sebelum tidur, ia membentangkan sajadah untuk mengerjakan shalat. Setelah selesai, sajadah itu dibiarkan tetap terbentang di dekat tempat tidurnya. Sejenak ia tidur, lalu bangun lagi untuk mengambil air wudhu dan shalat malam. Hampir setiap malamnya tidak kurang dari empat atau lima rakaat. Begitu rutinitas setiap malam hingga waktu istirahatnya berkurang. Ia selalu memohon ampun kepada Allah. Semua itu dikarenakan rasa takwa dan takutnya kepada Allah.</p>
<p>Keistimewaan lain yang melekat pada diri Abdullah bin Umar ialah keluasan ilmu, kerendahan hati, kebulatan tekad dan ketegasan pendirian, kedermawanan, serta keteguhannya pada contoh yang telah diberikan Rasulullah. Kepribadiannya yang sungguh mengagumkan nyaris tanpa cela sedikit pun. Orang-orang yang semasa dengan Abdullah bin Umar umumnya mengatakan: “Tak seorang pun di antara sahabat-sahabat Rasulullah yang lebih berhati-hati agar tidak&#160; terselip atau terkurangi sehuruf pun dalam menyampaikan hadis Rasulullah sebagaimana halnya Abdullah bin Umar.”</p>
<p>Ada lagi kehebatan Abdullah bin Umar. Dikisahkan dalam satu perjalanan, ia di tengah jalan tiba-tiba dihadang seekor singa besar dan galak. Singa itu mengaum berkali-kali, seperti hendak memangsanya. Suaranya menggelegar, membuat bulu kuduk merinding. Abdullah bin Umar menghentikan untanya, lalu turun menghampirinya. Mendadak singa itu diam saja dan menjadi penurut. Kedua telinganya kemudian digosok-gosok secara perlahan oleh Abdullah bin Umar.</p>
<p>Selang beberapa menit, singa itu mengibaskan ekornya, lantas pergi meninggalkan Abdullah bin Umar. Seseorang yang mengetahui peristiwa itu merasa takjub. Ia segera mendekat, lalu bertanya kepadanya, ”Bagaimana caranya agar singa itu tidak menerkam Anda?”. Abdullah bin Umar menjawab, dirinya pemah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Jika manusia hanya takut kepada Allah SWT, maka tidak ada hal lain yang bisa menguasainya.” Orang itu langsung menganggukkan kepalanya, sementara Abdullah bin Umar melanjutkan perjalanannya.</p>
<p><font size="3"><strong>Kegigihan Abdullah bin Umar dalam Memelihara Sunnah</strong></font></p>
<p>Abdullah bin Umar <em>Radhiyallahu &#8216;Anhuma</em> adalah orang yang bersemangat dalam melaksanakan sunnah Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam.</em> Tak ada yang dilakukan Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam </em>kecuali beliau pun akan melakukannya baik untuk sesuatu yang masuk akal maupun yang tidak diketahui hikmahnya. </p>
<p>Karena beliau sangat yakin bahwa keberkahan itu ada dalam menapaki jalan yang telah ditempuh Rasulullah. Dan Abdullah bin Umar adalah salah satu yang sangat mengikuti sunnah Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam </em>dalam semua kondisi. Bahkan pernah beliau istirahat di bawah pohon di dekat Madinah dengan berdalilkan bahwa Rasulullah <em>Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em> pernah tidur di situ. Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Bazzar dengan sanad yang baik/hasan.<a name="_ftnref1_9555"></a> Padahal tidurnya Nabi Muhammad<em> Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em> di bawah pohon tersebut tidak termasuk sunnah yang harus diikuti.</p>
<p>Demikianlah, Abdullah bin Umar <em>Radhiyallahu anhuma</em> begitu semangatnya dalam melaksanakan semua hal-hal yang pernah dilakukan Rasulullah<em> Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam </em>sebagai bentuk kecintaannya kepada beliau<em> Shallallahu &#8216;Alaihi Wa Sallam</em>. Sehingga sebagian ulama ketika tidak terdapat hadits yang marfu’ maka mereka akan kembali melihat perbuatan Abdullah bin Umar <em>Radhiyallahu anhuma</em> untuk kemudian berdalilkan dan menjadikan beliau sebagai hujjah. Bahkan mata rantai sanad paling kuat atau yang disebut <em>silsilah dzahabiah</em> ( mata rantai emas ) oleh para ulama hadis adalah : dari Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Rasulullah <em>shallahu alaihi wa sallam.</em></p>
<p>Misalnya dalam sholat Jenazah tidak disebutkan secara tegas dalam hadits-hadits marfu&#8217; tentang angkat tangan pada&#160; setiap takbir, namun Abdullah bin Umar pernah mengerjakan sholat jenazah dengan mengangkat tangannya, karena beliau adalah sosok sahabat yang selalu menegakkan sunnah maka kemudian para ulama bersandar kepada perbuatan beliau sehingga mensyariatkan mengangkat tangan pada takbir sholat Jenazah<a name="_ftnref2_9555"></a>.</p>
<p>Demikian pula masalah mengangkat tangan dalam sholat Ied pada saat takbir 7 kali di rakaat pertama dan 5 kali di rakaat kedua tidak didapatkan hadits Rasulullah namun kembali para ulama berdalilkan dengan perbuatan Abdullah bin Umar.</p>
<p>Abdullah bin Umar wafat pada tahun 72 Hijriah, tepat pada usia 84 tahun. </p>
<p><font size="2">Sumber: <a title="http://sunatullah.com/sahabat-nabi/abdullah-bin-umar.html" href="http://sunatullah.com/sahabat-nabi/abdullah-bin-umar.html">sunatullah.com</a>, <a title="http://komunitasamam.wordpress.com/2009/05/11/abdullah-bin-umar-penyayang-fakir-miskin-dan-anak-yatim/" href="http://komunitasamam.wordpress.com/2009/05/11/abdullah-bin-umar-penyayang-fakir-miskin-dan-anak-yatim/">komunitasamam</a>, <a title="http://www.cahayasiroh.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=131:abdullah-bin-umar&amp;catid=45:shahabat&amp;Itemid=140" href="http://www.cahayasiroh.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=131:abdullah-bin-umar&amp;catid=45:shahabat&amp;Itemid=140">www.cahayasiroh.com</a></font></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nabilmufti.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nabilmufti.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nabilmufti.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nabilmufti.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nabilmufti.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nabilmufti.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nabilmufti.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nabilmufti.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nabilmufti.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nabilmufti.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nabilmufti.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nabilmufti.wordpress.com/651/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nabilmufti.wordpress.com/651/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nabilmufti.wordpress.com/651/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=651&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabilmufti.wordpress.com/2010/08/02/abdullah-bin-umar-penyayang-fakir-miskin-dan-anak-yatim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d4532f732d579748bc2c0db86c726923?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nabilmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/08/hijrah2_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hijrah2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ABU DZAR AL-GHIFARI : Tokoh gerakan hidup sederhana.</title>
		<link>http://nabilmufti.wordpress.com/2010/07/21/abu-dzar-al-ghifari-tokoh-gerakan-hidup-sederhana/</link>
		<comments>http://nabilmufti.wordpress.com/2010/07/21/abu-dzar-al-ghifari-tokoh-gerakan-hidup-sederhana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 05:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nabilmufti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sahabat Rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://nabilmufti.wordpress.com/2010/07/21/abu-dzar-al-ghifari-tokoh-gerakan-hidup-sederhana/</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang tabi’at kesukuan, apakah itu tabiat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=648&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#160;</p>
<p><a href="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/07/abudharr.jpg"><img title="abudharr" style="border-right:0;border-top:0;display:inline;border-left:0;border-bottom:0;margin:0 10px 0 0;" height="134" alt="abudharr" src="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/07/abudharr_thumb.jpg?w=91&#038;h=134" width="91" align="left" border="0" /></a> </p>
<p>Bani Ghifar adalah qabilah Arab suku badui yang tinggal di pegunungan yang jauh dari peradaban orang-orang kota. Lebih-lebih lagi suku ini terkenal sebagai gerombolan perampok yang senang berperang dan menumpahkan darah serta pemberani. Bani Ghifar terkenal juga sebagai suku yang tahan menghadapi penderitaan dan kekurangan serta kelaparan. Latar belakang tabi’at kesukuan, apakah itu tabiat yang baik ataukah tabi’at yang jelek, semuanya terkumpul pada diri Abu Dzar.</p>
<p>&#160;</p>
<p> <span id="more-648"></span>
<p><strong><font size="3">Abu Dzar al-Ghiffari ra. Sebelum Memeluk Islam</font></strong></p>
<p>Abu Dzar al-Ghiffari ra. sebelum memeluk Islam adalah seorang perampok para kabilah di padang pasir, berasal dari suku Ghiffar yang terkenal dengan sebutan binatang buas malam dan hantu kegelapan. Lembah Waddan adalah sebuah area penting yang terletak antara Mekah dan Syam, karena merupakan jalur perlintasan kafilah dagang yang strategis. Di lembah itulah tinggal suku Ghifar yang terkenal. Mereka hidup dari “pajak” yang dipungut pada setiap rombongan kafilah yang melintas, bahkan tak segan merampok kafilah yang tidak membayar sesuai ketentuan yang mereka tetapkan.</p>
<p>Ghifar adalah suatu kabilah atau suku yang tak ada taranya dalam soal menempuh jarak. Mereka jadi tamsil perbandingan dalam melakukan perjalanan yang luar biasa. Malam yang kelam dan gelap gulita tak jadi soal bagi mereka, dan celakalah orang yang kesasar atau jatuh ke tangan kaum Ghifar di waktu malam.</p>
<p>Dulu, ia adalah seorang perampok yang mewarisi karir orang tuanya selaku pimpinan besar perampok kafilah yang melaui jalur itu. Teror di wilayah sekitar jalur perdagangan itu selalu dilakukannya untuk mendapatkan harta dengan cara mudah. Hidupnya penuh dengan kejahatan dan kekerasan. Siapa pun di tanah Arab masa itu tahu, jalur perdagangan Mekkah-Syiria dikuasai perampok suku Ghiffar, sukunya.</p>
<p><strong><font size="3">Pencarian Iman</font> </strong></p>
<p>Nama lengkapnya yang mashur ialah Jundub bin Junadah Al Ghifari dan terkenal dengan kuniahnya Abu Dzar. Di suatu hari tersebar berita di kampung Bani Ghifar, bahwa telah muncul di kota Makkah seorang yang mengaku sebagai utusan Allah dan mendapat berita dari langit. Serta merta berita ini sangat mengganggu penasaran Abu Dzar, sehingga dia mengutus adik kandungnya bernama Unais Al Ghifari untuk mencari berita ke Makkah. Unais sendiri adalah seorang penyair yang sangat piawai dalam menggubah syair-syair Arab. Berangkatlah Unais ke Makkah untuk mencari tau apa sesungguhnya yang terjadi di Makkah berkenaan dengan berita kemunculan utusan Allah itu. </p>
<p>Dan setelah beberapa lama, kembalilah Unais kekampungnya dan melaporkan kepada Abu Dzar tentang yang dilihat dan didengar di Makkah berkenaan dengan berita tersebut. Ditanyakan oleh Abu Dzar kepada Unais : “Apa yang telah kamu lakukan ?”, tanyanya. Unais menjelaskan : “Aku sungguh telah menemui seorang pria yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang jelek”. </p>
<p>Abu Dzar bertanya lagi : “Apa yang dikatakan orang-orang tentangnya ?”. </p>
<p>Unais menjawab : “Orang-orang mengatakan, bahwa dia adalah tukang sya’ir, tukang tenung, dan tukang sihir. Tetapi aku sesungguhnya telah biasa mendengar omongan tukang tenung, dan tidaklah omongannya serupa dengan omongan tukang tenung. Dan aku telah membandingkan omongan darinya dengan omongan para tukang sya’ir, ternyata amat berbeda omongannya dengan bait-bait sya’ir. Demi Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang benar ucapannya, dan mereka yang mencercanya adalah dusta”.</p>
<p>Mendengar laporan dari Unais itu, Abu Dzar lebih penasaran lagi untuk bertemu sendiri dengan orang yang berada di Makkah yang mengaku telah mendapatkan berita dari langit itu. Segeralah dia berkemas untuk berangkat menuju Makkah, demi menenangkan suara hatinya itu. Dan sesampainya dia di Makkah, langsung saja menuju Ka’bah dan tinggal padanya sehingga bekal yang dibawanya habis. Dia sempat bertanya kepada orang-orang Makkah, siapakah diantara kalian yang dikatakan telah meninggalkan agama nenek moyangnya ? Orang-orangpun segera menunjukkan kepada Abu Dzar, seorang pria yang ganteng putih kulitnya dan bersinar wajahnya bak bulan purnama.</p>
<p>Abu Dzar memang amat berhati-hati, dalam kondisi hampir seluruh penduduk Makkah memusuhi dan menentang Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam. Dan orangpun di Makkah dalam keadaan takut dan kuatir untuk mendekat kepada beliau sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam, karena siapa yang mendekat kepadanya bila dia adalah dari kalangan budak belian, akan menghadapi hukuman berat dari tuannya. Demikian pula bila dari kalangan pendatang dan tidak mempunyai qabilah pelindungnya di Makkah. Demi keadaan yang demikian mencekam, Abu Dzar tidak gegabah berbicara dengan semua orang dalam hal apa yang sedang dicarinya dan apa yang diinginkannya. </p>
<p>Dia hanya menanti dan menanti di Ka’bah, dalam keadaan semua perbekalannya telah habis. Dia berusaha mengatasi rasa lapar yang mengganggu perutnya dengan minum air zam-zam dan tidak ada makanan lain selain itu. Demikian terus suasana penantian itu berlangsung selama tiga puluh hari dan perut Abu Dzar selama itu tidak kemasukan apa-apa kecuali hanya air zam-zam. Ini sungguh sebagai karamah air zam-zam, karena nyatanya Abu Dzar badannya serasa semakin gemuk selama tiga puluh hari itu. Apa sesungguhnya yang dinantinya ? yang dinantinya hanyalah kesempatan menemui dan berdialog langsung dengan pria ganteng berwajah bulan purnama itu, untuk mengetahui darinya langsung agama apa sesungguhnya yang dibawanya. Dia setiap harinya terus menerus mengamati tingkah laku pria ganteng&#160; tersebut dan sikap masyarakatnya yang anti pati terhadapnya.</p>
<p><strong><font size="3">Pertemuan Abu Dzar dengan Rasulullah</font></strong></p>
<p>Di suatu hari yang cerah, Abu Dazar bernasib baik. Sedang dia berdiri di salah satu pojok Ka’bah, lewat di hadapan beliau Ali bin Abi Thalib dan langsung menegurnya, apakah engkau orang pendatang di kota ini ? Segera saja Abu Dzar menjawabnya : Ya ! Maka Ali bin Abi Thalib menyatakan kepadanya : Kemarilah ikut ke rumahku. Maka Abu Dzarpun pergi kerumah Ali untuk dijamu sebagai tamu. Dia tidak tanya kepada tuan rumah dan tuan rumahpun tidak tanya kepadanya tentang tujuannya datang ke kota Makkah.</p>
<p>Dan setelah dijamu, Abu Dzarpun kembali ke Ka’bah tanpa bercerita panjang dengan tuan rumah.Tapi Ali bin Abi Thalib melihat pada gurat wajah tamunya, ada sesuatu keperluan yang sangat dirahasiakannya. Sehingga ketika esok harinya, Ali berjumpa lagi dengan tamunya di Ka’bah dan segera menanyainya :&#160; Apakah hari ini anda akan kembali ke kampung ?”. Abu Dzar menjawab dengan tegas : “Belum !”. Mendapat jawaban demikian, Ali tidak tahan lagi untuk menanyainya : “Apa sesungguhnya urusanmu, dan apa pula yang mendatangkanmu ke mari ?”.</p>
<p>Dan Abu Dzarpun terperangah mendapat pertanyaan demikian dari satu-satunya orang Quraisy yang telah menjamunya dan mengakrabkan dirinya dengan tamu asing ini. Tetapi Abu Dzar tidak lagi merasa asing dengan orang yang menjamunya ini, sehingga mendapat pertanyaan demikian langsung saja dia balik mengajukan syarat bernada&#160; tantangan : “Bila engkau berjanji akan merahasiakan jawabanku, aku akan menjawab pertanyaanmu”. Langsung saja Ali menyatakan janjinya : “Aku berjanji untuk menjaga rahasiamu”.</p>
<p>Dan Abu Dzar tidak ragu lagi dengan janji pemuda Quraisy yang terhormat ini, sehingga dengan setengah berbisik dia menjelaskan kepada Ali : “Telah sampai kepada kami berita, bahwa telah keluar seorang Nabi”. Mendengar kata-kata Abu Dzar itu Ali menyambutnya dengan gembira dan menyatakan kepadanya : “Engkau sungguh benar dengan ucapanmu! ikutilah aku kemana aku berjalan dan masuklah ke rumah yang aku masuki. Dan bila aku melihat bahaya yang mengancammu, maka aku akan memberi isyarat kepadamu dengan berdiri mendekat ke tembok dan aku seolah-olah sedang memperbaiki alas kakiku. Dan bila aku lakukan demikian, maka segera engkau pergi menjauh”.</p>
<p>Di pagi suatu hari ia pergi ke tempat itu, didapatinya Muhammad shallallahu alaihi wasalam sedang duduk seorang diri. Didekatinya Rasulullah, katanya: &quot;Selamat pagi wahai kawan sebangsa!&quot; &quot;Alaikum salam, wahai shahabat&quot;, ujar Rasulullah. Kata Abu Dzar: &quot;Bacakanlah kepadaku hasil gubahan anda!&quot; &quot;Ia bukan sya&#8217;ir hingga dapat digubah, tetapi adalah Quran yang mulia!&quot;, Ujar Rasulullah. dibacakanlah oleh Rasulullah, sedang Abu Dzar mendengarkan dengan penuh perhatian, hingga tidak berselang lama iapun berseru: &quot;Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan &#8216;abduhu wa rasuluh&quot;. &quot;Anda dari mana, saudara sebangsa?&quot;, tanya rasulullah. &quot;Dari Ghitar&#8221;, ujarnya. Maka terbukalah senyum lebar di kedua bibir Rasulullah, sementara wajahnya diliputi rasa kagum dan ta&#8217;jub. Abu Dzar tersenyum pula, karena ia mengetahui rasa terpendam di balik rasa kagum Rasulullah demi mendengar bahwa orang yang telah mengaku Islam di hadapannya secara terus terang itu, seorang laki-laki dari Ghifar. </p>
<p>Abu Dzar telah masuk Islam tanpa ditunda-tunda lagi.! urutannya dikalangan Muslimin adalah yang kelima atau keenam. Jadi ia telah memeluk agama itu pada hari-hari pertama, bahkan pada saat-saat pertama agama Islam, hingga keIslamannya termasuk dalam barisan terdepan. </p>
<p>Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berwasiat kepadanya : “Wahai Abu Dzar, sembunyikanlah keislamanmu ini, dan pulanglah ke kampungmu !, maka bila engkau mendengar bahwa kami telah menang, silakan engkau datang kembali untuk bergabung dengan kami”. </p>
<p>Mendengar wasiat tersebut Abu Dzar menegaskan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam: “Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan meneriakkan di kalangan mereka bahwa aku telah masuk Islam”. Dan Rasulullah mendiamkan tekat Abu Dzar tersebut.</p>
<p><strong><font size="3">Keberanian Abu Dzar dihadapan Kaum Quraisy</font></strong></p>
<p>Segera saja Abu Dzar menuju Masjidil Haram dan di hadapan Ka’bah banyak berkumpul para tokoh-tokoh kafir Quraisy. Demi melihat banyaknya orang berkumpul padanya, Abu Dzar berteriak dengan sekeras- keras suara dengan menyatakan : “Wahai orang-orang Quraisy, aku sesungguhnya telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku bersaksi pula Muhammad itu adalah hamba dan utusan Allah”.</p>
<p>Teriakan ini merupakan teriakan pertama tentang Agama Islam yang menentang kesombongan orang-orang Quraisy dan memekakkan telinga mereka, diserukan oleh seorang perantau asing yang di Mekkah tidak mempunyai bangsa, sanak keluarga maupun pembela</p>
<p>Mendengar omongan itu, para dedengkot kafir Quraisy marah besar dan mereka berteriak memerintahkan orang-orang di situ : “Bangkitlah kalian, kejar orang murtad itu”. Maka segera orang-orang mengerumuni Abu Dzar sembari memukulinya dengan nafsu ingin membunuhnya. Syukurlah waktu itu masih ada Al Abbas bin Abdul Mutthalib tokoh Bani Hasyim paman Rasulillah yang disegani kalangan Quraisy. Sehingga Al Abbas berteriak kepada masyarakat yang sedang beringas memukuli Abu Dzar : “Celakalah kalian, apakah kalian akan membunuh seorang dari kalangan Bani Ghifar yang kalian harus melalui kampungnya di jalur perdagangan kalian”.</p>
<p>Demi masyarakat mendapat teriakan demikian, merekapun melepaskan Abu Dzar yang telah babak belur bersimbah darah akibat dari pengeroyokan itu. Demikianlah Abu Dzar, sosok pria pemberani yang bila meyakini kebenaran sesuatu perkara, dia tidak akan peduli menyatakan keyakinannya di hadapan siapapun meskipun harus menghadapi resiko seberat apapun. Dan apa yang dihadapinya hari&#160; ni, tidak menciutkan nyalinya untuk mengulang proklamasi keimanannya di depan Ka’bah menantang para dedengkot kafir Quraisy.</p>
<p>Keesokan harinya dia mengulangi proklamasi keimanan yang penuh keberanian itu, dan teriakan syahadatainnya menimbulkan kembali berangnya para tokoh kafir Quraisy. Sehingga mereka memerintahkan untuk mengeroyok seorang Abu Dzar untuk kedua kalinya. Dan untuk kedua kalinya ini, Al Abbas berteriak lagi seperti kemarin dan Abu Dzarpun dilepaskan oleh masa yang sedang mengamuk itu dalam keadaan babak belur bersimbah darah seperti kemarin.</p>
<p><strong><font size="3">Dakwah Abu Dzar kepada Kaumnya</font></strong></p>
<p>Setelah dia puas membikin marah orang-orang kafir Quraisy dengan proklamasi masuk Islamnya, meskipun dia harus beresiko hampir mati dikeroyok masa. Barulah dia bersemangat melaksanakan wasiat Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam untuk pulang ke kampungnya di kampung Bani Ghifar. Abu Dzar pulang ke kampungnya, dan di sana dia rajin menda’wahi keluarganya. Unais Al Ghifari, adik kandungnya, telah masuk Islam, kemudian disusul ibu kandungnya yang bernama Ramlah bintu Al Waqi’ah Al Ghifariah juga masuk Islam. Sehingga separuh Bani Ghifar telah masuk Islam.</p>
<p>Adapun separoh yang lainnya, telah menyatakan bahwa bila Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa aalihi wasallam telah hijrah ke Madinah maka mereka akan masuk Islam. Maka segera saja mereka berbondong-bondong masuk Islam setelah sampainya berita di kampung mereka bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam telah hijrah ke Al Madinah AnNabawiyah. </p>
<p><strong><font size="3">Hijrah ke Madinah</font></strong></p>
<p>Dengan telah masuk Islamnya seluruh kampung Bani Ghifar, dan setelah peperangan Bader dan Uhud dan Khandaq, Abu Dzar bergegas menyiapkan dirinya untuk berhijrah ke Al Madinah dan langsung menemui Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam di masjid beliau. Dan sejak itu Abu Dzar berkhidmat melayani berbagai kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. </p>
<p>Dia tinggal di Masjid Nabi dan selalu mengawal dan mendampingi Nabi sallallahu alaihi wasallam kemanapun beliau berjalan. Sehingga Abu Dzar banyak menimba ilmu dari Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Sehingga Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sangat mencintainya dan selalu mencari Abu dzar di setiap majlis beliau dan beliau menyesal bila di satu majlis, Abu Dzar tidak hadir padanya. Sehingga beliau menanyakan, mengapa dia tidak hadir dan ada halangan apa.</p>
<p><strong><font size="3">Kecintaan Rasulullah dan nasehatnya kepada Abu Dzar</font></strong></p>
<p>Begitu dekatnya Abu Dzar dengan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, dan begitu sayangnya beliau kepada Abu Dzar, sehingga disuatu hari pernah Abu Dzar meminta jabatan kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Maka beliau langsung menasehatinya :</p>
<blockquote><p> “Sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerima jabatan itu, kecuali orang yang mengambil jabatan itu dengan cara yang benar dan dia menunaikan amanah jabatan itu dengan benar pula”. (HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya)</p>
</blockquote>
<p>Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam pernah berpesan kepadanya :</p>
<p> “Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang shaleh, sungguh engkau akan ditimpa berbagai mala petaka sepeninggalku”. Maka Abu Dzarpun bertanya : Apakah musibah itu sebagai ujian di jalan Allah ?”, Rasulullahpun menjawab : “Ya, di jalan Allah”. Dengan penuh semangat Abu Dzarpun menyatakan : “Selamat datang wahai mala petaka yang Allah taqdirkan”. </p>
<p>(HR. Abu Nu’aim Al Asfahani dalam kitab Al Hilyah jilid 1 hal. 162)</p>
<p>Asma’ bintu Yazid bin As Sakan menceritakan, bahwa di suatu hari Abu Dzar setelah menjalankan tugas kesehariannya melayani Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, dia beristirahat di masjid, dan memang tempat tinggalnya di masjid. Maka masuklah Nabi sallallahu alaihi wasallam ke masjid dan mendapati Abu Dzar dalam keadaan sedang tiduran padanya.</p>
<p>Maka Rasulullah meremas jari jemari telapak kakinya dengan telapak kaki beliau, sehingga Abu Dzarpun duduk dengan sempurna. Rasulullah menanyainya : Tidakkah aku melihat engkau tidur ?. Maka dia menjawab : Dimana lagi aku bisa tidur, apakah ada rumah bagiku selain masjid ? Maka Rasulullahpun duduk bersamanya, kemudian beliau bertanya kepadanya : Apa yang akan engkau lakukan bila engkau diusir dari masjid ini ?. Abu Dzar menjawabnya : Aku akan pindah ke negeri Syam, karena Syam adalah negeri tempat hijrah, dan negeri hari kebangkitan di padang mahsyar, dan negeri para Nabi, sehingga aku akan menjadi penduduk negeri itu.</p>
<p>Kemudian Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bertanya lagi kepadanya : Bagaimana pula bila engkau diusir dari negeri Syam ? Maka Abu Dzar menjawab : Aku akan kembali ke Masjid ini dan akan aku jadikan masjid ini sebagai rumahku dan tempat tinggalku. Kemudian Nabi bertanya lagi : Bagaimana kalau engkau diusir lagi dari padanya ? Abu Dzar menjawab : Kalau begitu aku akan mengambil pedangku dan aku akan memerangi pihak yang mengusirku sehingga aku mati. Maka Rasulullah sallallahu alaihi wasallam tersenyum kecut mendengar jawaban Abu Dzar itu dan beliau menyatakan kepadanya : Maukah aku tunjukkan kepadamu yang lebih baik darinya ? Segera saja Abu Dzar menyatakan : Tentu, demi bapakku dan ibuku wahai Rasulullah.</p>
<p>Maka beliaupun menyatakan kepadanya : “Engkau ikuti penguasamu, kemana saja dia perintahkan kamu, engkau pergi kemana saja engkau digiring oleh penguasamu, sehingga engkau menjumpaiku (yakni menjumpaiku di alam qubur) dalam keadaan mentaati penguasamu itu”. (HR. Ahmad dalam Musnadnya jilid 6 hal. 457) </p>
<p>Dipinggang Abu Dzar selalu tersandang pedang yang sangat tajam yang digunakannya untuk menebas musuh-musuh Islam. Ketika Rasulullah bersabda padanya, “Maukah kamu kutunjukkan yang lebih baik dari pedangmu? (Yaitu) Bersabarlah hingga kamu bertemu denganku (di akhirat)”, maka sejak itu ia mengganti pedangnya dengan lidahnya yang ternyata lebih tajam dari pedangnya.</p>
<p>Disamping berbagai wasiat Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam tersebut, dirwayatkan pula pujian dari Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam kepada Abu Dzar sebagai berikut ini :</p>
<p>“Tidak ada makhluq yang berbicara di kolong langit yang biru dan yang dipikul oleh bumi, yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar”. (HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal 161, juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya, hadits ke 3801 dari Abdullah bin Amer radhiyallahu ‘anhuma)</p>
<p><strong><font size="3">Kecintaan Abu Dzar terhadap Rasulullah sallallahu alaihi wasallam</font></strong></p>
<p>Dalam perjalanan menuju perang Tabuk, Abu Dzar tertinggal di belakang pasukan karena beliau mengendarai hewan yang lambat jalannya. Saat mengetahui hal ini, para sahabat memberitahukan hal tersebut Nabi Saw. Nabi Saw memutuskan mendirikan tenda di sebuah tempat terdekat. Sementara itu Abu Dzar yang tertinggal di belakang merasa kecewa dengan    <br />kendaraannya, lalu turun dan berjalan kaki. </p>
<p>Saat itu salah seorang sahabat berteriak bahwa ada seseorang dikejauhan sedang menuju kemari. Nabi SAW berkata : &quot; Ya Allah, semoga itu Abu Dzar.&quot; Sahabat lainnya memberitahu Nabi SAW. bahwa orang itu memang Abu Dzar. Maka Nabi SAW berdo&#8217;a: &quot;Semoga Allah SWT mengampuni Abu Dzar ! ia berjalan sendirian, akan mati sendirian dan akan dibangkitkan kembali sendirian,&quot; Kemudian beliau memerintahkan kepada para sahabat agar memberinya air. Tetapi ketika Abu Dzar tiba, beliau melihatnya sedang membawa sewadah air. Nabi Saw bertanya kepadanya, &quot;Kamu punya air tetapi kamu tampak kehausan? &quot; </p>
<p>&quot;Ya, Nabi Allah ! Semoga kedua orang tuaku dikorbankan untukmu! Ditengah jalan aku merasa kehausan, lalu aku pergi kesebuah tempat yang ada airnya. Setelah mencicipinya aku merasa sejuk dan enak dan aku berkata pada diriku, tidaklah adil jika aku meminum air ini sebelum Nabi meminumnya&quot; jawab Abu Dzar. <em>Subhanallah, begitu besar cinta Abu Dzar kepada sang Nabi</em>.</p>
<p>Mendengar ini Nabi Saw berkata , &quot;Wahai Abu Dzar ! Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu! Engkau akan meniti hidupmu kelak dalam kesendirian, mati dalam kesendirian yang jauh dari rumah penduduk, dan kemudian masuk syurga sendirian.</p>
<p> <strong><font size="3"></font></strong>
<p><strong><font size="3">Ketegasan Abu Dzar Terhadap Perilaku Orang yang Menyimpan Harta</font></strong></p>
<p>Dengan lidahnya ia berteriak di jalanan, lembah, padang pasir dan sudut kota menyampaikan protesnya kepada para penguasa yang rajin menumpuk harta di masa kekhalifahan Ustman bin Affan. Setiap kali turun ke jalan, keliling kota, ratusan orang mengikuti di belakangnya, dan ikut meneriakkan kata-katanya yang menjadi panji yang sangat terkenal dan sering diulang-ulang, “Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak. Mereka akan diseterika dengan api neraka, kening dan pinggang mereka akan diseterika dihari kiamat!”</p>
<p>Teriakan-teriakannya telah menggetarkan seluruh penguasa di jazirah Arab. Ketika para penguasa saat itu melarangnya, dengan lantang ia berkata, “Demi Allah yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya! Sekiranya tuan-tuan sekalian menaruh pedang diatas pundakku, sedang mulutku masih sempat menyampaikan ucapan Rasulullah yang kudengar darinya, pastilah akan kusampaikan sebelum tuan-tuan menebas batang leherku”</p>
<p>Abu Dzar mempunyai pendapat yang dirasa ganjil oleh banyak orang yang hidup di zamannya, tetapi mereka tidak bisa membantahnya. Diriwayatkan oleh Al Ahnaf bin Qais sebuah kejadian yang menunjukkan betapa berbedanya Abu Dzar dari yang lainnya, kata Al Ahnaf : “Aku pernah masuk kota Al Madinah di suatu hari. Ketika itu aku sedang duduk di suatu halaqah (ya’ni duduk bergerombol dengan formasi duduknya melingkar) dengan orang-orang Quraisy.</p>
<p>Tiba-tiba datanglah ke halaqah itu seorang pria yang compang camping bajunya, badannya kurus kering, dan wajahnya menunjukkan kesengsaraan hidup,dan orang inipun berdiri di hadapan mereka seraya berkata : </p>
<blockquote><p>“Beri kabar gembira bagi orang-orang yang menyimpan kelebihan hartanya, dengan ancaman adzab Allah berupa dihimpit batu yang amat panas karena batu itu dibakar diatas api, dan batu itupun diletakkan di dadanya sehingga sampai tenggelam padanya sehingga batu panas itu keluar dari pundaknya. Dan juga diletakkan batu panas itu di tulang pundaknya sehingga keluar di dadanya, demikian terus sehingga batu panas itu naik turun antara dada dan tulang pundaknya.” </p>
</blockquote>
<p>Mendengar omongan orang ini, hadirin yang ada di halaqah itu menundukkan kepalanya. Maka aku melihat, tidak ada seorangpun yang menyapanya dari hadirin yang duduk di halaqah itu. Sehingga orang itupun segera meninggalkan halaqah tersebut dan duduk menjauh daripadanya . Maka akupun bertanya kepada yang hadir di halaqah itu : Siapakah dia ini ?, mereka menjawab : Dia adalah Abu Dzar. Demi aku melihat keadaan demikian, akupun mendatangi tempat dia duduk menyendiri dan akupun duduk dihadapannya dan aku katakan kepadanya : Aku melihat, mereka yang duduk di halaqah itu tidak suka dengan apa yang engkau ucapkan. Abu Dzarpun menyatakan : Mereka itu adalah orang-orang yang tidak mengerti sama sekali. Sesungguhnya kekasihku Abul Qasim (yakni Nabi Muhammad) sallallahu alaihi wa aalihi wasallam pernah memanggil aku dan akupun segera memenuhi panggilan beliau. Maka beliaupun menyatakan kepadaku : Engkau lihat gunung Uhud itu ?!.</p>
<p>Aku melihat gunung itu dalam keadaan diterpa oleh sinar matahari pada punggungnya, dan aku menyangka beliau akan menyuruh aku untuk suatu keperluan padanya. Maka aku menjawab pertanyaan beliau : Aku melihatnya.</p>
<p>Kemudian beliaupun bersabda : Tidaklah akan menyenangkan aku kalau seandainya aku punya emas sebesar itu, kecuali bila aku shodaqahkan semuanya sehingga tidak tersisa daripadanya kecuali tiga dinar (untuk keperluanku). Selanjutnya Abu Dzar menyatakan : Tetapi kemudian mereka itu kenyataannya selalu mengumpulkan dunia, mereka tidak mengerti sama sekali.</p>
<p>Aku katakan kepadanya : Ada apa antara engkau dengan saudara-saudarmu dari kalangan orang-orang Quraisy. Mengapa engkau tidak minta bantuan dari mereka sehingga engkau mendapatkan sebagian harta mereka. Abu Dzar menjawab dengan tegas dan lantang : “Tidak ! Demi Tuhanmu, aku tidak akan meminta dunia sedikitpun kepada mereka dan aku tidak akan minta fatwa dari mereka tentang agama, sehingga aku mati bergabung dengan Allah dan RasulNya”. Demikian diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Shahihnya hadits ke 1407 – 1408 dan Muslim dalam Shahihnya hadits ke 992 / 34 – 35. </p>
<p>Abu Dzar sangat keras dengan pendiriannya. Dia berpendapat bahwa menyimpan harta yang lebih dari keperluannya itu adalah haram.&#160; Sedangkan keumuman para Shahabat Nabi berpendapat, bahwa boleh menyimpan harta dengan syarat bahwa harta itu telah dizakati (yakni dikeluarkan zakatnya). Bahkan Abu Dzar menjauh dari para Shahabat Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam yang mulai makmur hidupnya&#160; karena menjabat jabatan di pemerintahan.</p>
<p>Hal ini diceritakan oleh Abu Buraidah sebagai berikut : “Ketika Abu Musa Al Asy’ari datang ke Madinah, dia langsung menemui Abu Dzar. Maka Abu Musa berusa merangkul Abu Dzar, padahal Abu Musa adalah seorang pria yang kurus dan pendek. Sedangkan Abu Dzar adalah seorang pria yang hitam kulitnya dan lebat rambutnya. Maka ketika Abu Musa berusaha merangkulnya, dia mengatakan : Menjauhlah engkau dariku !! </p>
<p>Abu Musa mengatakan kepadanya : Marhaban wahai saudaraku.</p>
<p>Abu Dzarpun menyatakan kepadanya sambil mendorongnya untuk menjauh darinya : “Aku bukan saudaramu, dulu memang aku saudaramu sebelum engkau menjabat jabatan di pemerintahan”. Selanjutnya Abu Buraidah menceritakan : Kemudian setelah itu datanglah Abu Hurairah menemuinya. Juga Abu Hurairah berusaha merangkulnya dan menyatakan kepadanya : Marhaban wahai saudaraku.</p>
<p>Abu Dzar menyatakan kepadanya : Menjauhlah engkau dariku, apakah engkau menjabat satu jabatan dalam pemerintahan ?</p>
<p>Abu Hurairah menjawab : Ya, aku menjabat jabatan dalam pemerintahan.</p>
<p>Abu Dzar selanjutnya menanyainya : Apakah engkau berlomba-lomba membangun bangunan yang tinggi, atau membikin tanah pertanian, atau hewan piaraan ?</p>
<p>Abu Hurairah menjawab : Tidak.</p>
<p>Maka Abu Dzarpun menyatakan kepadanya : Kalau begitu engkau saudaraku, engkau saudaraku”. Demikian diriwayatkan kisah ini oleh Ibnu Sa’ad dala Thabaqatnya jilid 3 halaman 163.</p>
<p>Sikap Abu Dzar yang demikian keras, karena amat kuat berpegang dengan wasiat Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam kepadanya :</p>
<p><strong><font size="3">Wasiat Abu Dzar</font></strong></p>
<p>Pernah suatu hari Abu Dzar berkata di hadapan banyak orang, “Ada tujuh wasiat Rasulullah SAW yang selalu kupegang teguh. Aku disuruhnya agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri dengan mereka. Dalam hal harta, aku disuruhnya memandang ke bawah dan tidak ke atas (pemilik harta dan kekuasaan)). Aku disuruhnya agar tidak meminta pertolongan dari orang lain. Aku disuruhnya mengatakan hal yang benar seberapa besarpun resikonya. Aku disuruhnya agar tidak pernah takut membela agama Allah. Dan aku disuruhnya agar memperbanyak menyebut ‘La Haula Walaa Quwwata Illa Billah’. “</p>
<p><b><font size="3">Meninggal Dunia di Tempat Pengasingan</font> </b></p>
<p>Dengan sikap hidup yang demikian, Abu Dzar tidak punya teman dari kalangan sesama para Shahabat Nabi sallallahu alaihi wa aalihi wasallam. Dia pernah tinggal di negeri Syam di zaman pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Waktu itu gubernur negeri Syam adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu anhu. Maka Mu’awiyah merasa terganggu dengan sikap hidupnya, sehingga meminta kepada Amirul Mu’minin Utsman bin Affan untuk memanggilnya ke Madinah kembali.</p>
<p>Abu Dzar akhirnya dipanggil kembali ke Madinah oleh Utsman dan tentu dia segera menta’ati panggilan itu. Sesampainya di Madinah segera saja Abu Dzar menghadap Amirul Mu’minin Utsman bin Affan. Abu Dzar diberi tahu oleh Amirul Mu’minin bahwa dia dikehendaki untuk tinggal di Madinah menjadi orang dekatnya Amirul Mu’minin Utsman. Mendengar penjelasan itu Abu Dzar menegaskan kepada beliau : </p>
<blockquote><p>“Wahai Amirul Mu’minin, aku tidak senang dengan posisi demikian. Izinkanlah aku untuk tinggal di daerah perbukitan Rabadzah di luar kota Madinah”. </p>
</blockquote>
<p>Maka Amirul Mu’mininpun mengizinkannya dan memerintahkan untuk membekali Abu Dzar dengan beberapa ekor ternak dan budak belian untuk membantunya. Tetapi Abu Dzar menolaknya dengan menyatakan kepada beliau : </p>
<blockquote><p>“Cukuplah bagi Abu Dzar, beberapa ekor ternak miliknya sendiri”.</p>
</blockquote>
<p>Abu Dzar segera berangkat ke Rabadzah, dan di perbukitan tersebut tidak ada manusia yang tinggal di sana. Dia ingin mengasingkan diri di sana, demi melihat kebanyakan orang merasa terganggu dengan berbagai ungkapannya dan pendapatnya. Dia tinggal di tempat pengasingannya dengan anak perempuannya dan budak wanita miliknya yang hitam dan jelek rupa. Budak wanita itu dibebaskannya kemudian dinikahinya sebagai istri. Abu Dzar menghabiskan waktunya untuk berdzikir kepada Allah dan membaca Al Qur’an. Sesekali dia turun ke Madinah karena takut tergolong orang yang kembali menjadi badui setelah hijrah. Yang demikian itu dilarang oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam.</p>
<p>Di suatu hari ketika Abu Dzar turun ke Al Madinah, sempat dia berkunjung ke Amirul Mu’minin dan di sana ada Ka’ab dan Abdullah bin Abbas sedang membicarakan tentang dibagi-baginya harta warisan Abdurrahman bi A’uf. Maka Amirul Mu’minin bertanya kepada Ka’ab : </p>
<blockquote><p>“Wahai Aba Ishaq, bagaimana menurut pendapatmu bila harta seseorang itu yang telah ditunaikan zakatnya, apakah akan menjadi mala petaka bagi yang mengumpulkannya. </p>
</blockquote>
<p>Maka Ka’ab menjawab : Bila harta itu adalah kelebihan dari harta yang telah ditunaikan padanya haqnya Allah (yakni zakat), maka yang demikian itu tidak mengapa.</p>
<p>Mendengar jawaban itu Abu Dzar bangun dari tempat duduknya dan langsung memukul Ka’ab dengan tongkatnya pada bagian diantara kedua telinganya sehingga melukainya. Abu Dzar menyatakan kepada Ka’ab : </p>
<blockquote><p>“Wahai anaknya perempuan Yahudi, kamu menganggap tidak ada kewajiban atasnya dalam perkara hartanya bila dia telah menunaikan zakat atas hartanya. Sedangkan Allah telah berfirman : (artinya)”Dan mereka lebih&#160; mengutamakan saudaranya dari pada dirinya walaupun menyulitkan dirinya”. Surah Al Hasyr 9, juga Allah berfirman : (artinya)”Mereka kaum Mu’minin itu memberi makan kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan”. Surah. Ad Dahr (dinamakan juga Surah. Al Insan) ayat ke 8”. </p>
</blockquote>
<p>Dan beberapa ayat lainnya dari Al Qur’an yang semakna dengan ayat-ayat tersebut, yang merupakan dalil-dalil bagi Abu Dzar atas pendapatnya bahwa seseorang itu dianggap belum menunaikan kewajibannya atas hartanya bila dia belum menghabiskannya untuk shadaqah, kecuali meninggalkannya untuk keperluan mendesak bagi keluarganya&quot;. </p>
<p>Melihat kejadian itu, Amirul Mu’minin segera menegur Abu Dzar : “Takutlah engkau kepada Allah wahai Aba Dzar, tahanlah tanganmu dari perbuatan itu dan tahanlah lisanmu untuk mengucapkan ucapan sekeras itu kepada saudaramu”. </p>
<p>Juga Amirul Mu’minin meminta kepada Ka’ab untuk memaafkan Abu Dzar dan tidak menuntut hukum qishas (yakni hukum balas) atas Abu Dzar dengan tindakannya melukai kepala beliau. Dan Ka’abpun akhirnya memaafkannya. Abu Dzar kembali ketempat pengasingannya di Rabadzah dengan penuh kekecewaan dan kemarahan.</p>
<p>Dia semakin senang untuk menyendiri dan semakin rindu untuk bertemu Allah dan RasulNya. Sampailah akhirnya dia menderita sakit ditempat pengasingannya. Dia hanya ditemani oleh anak istrinya di saat-saat akhir hidupnya. Tidak ada orang yang tahu bahwa Abu Dzar sedang sakit dan menderita dengan sakitnya. Bertambah hari tampak bertambah berat penyakit yang dideritanya. Dalam kondisi demikian, istrinya menangis dihadapannya. Abu Dzar menegurnya : “Mengapa engkau menangis ?”. </p>
<p>Istrinya menjawab : “Aku menangis karena engkau pasti akan tiada lagi, dalam keadaan aku tidak punya kain kafan untuk membungkus jenazahmu”.</p>
<p>Maka Abu Dzar menasehati istrinya : “Jangan engkau menangis, karena aku telah pernah mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda di suatu hari dan aku ada di samping beliau bersama sekelompok orang yang lainnya. Beliau bersabda : “Sungguh salah seorang dari kalian akan meninggal dunia di padang pasir yang akan disaksikan oleh sekelompok kaum Mu’minin”. </p>
<p>Kemudian Abu Dzar melanjutkan nasehatnya kepada istrinya : “Ketahuilah olehmu, semua orang yang hadir bersama aku waktu itu di hadapan Rasulullah, telah mati semua di kampung dan desanya. Dan tidak tertinggal di dunia ini dari yang hadir itu kecuali aku. Maka sudah pasti yang akan mati di padang pasir seperti yang dikabarkan oleh beliau itu adalah aku. Oleh karena itu sekarang engkau lihatlah ke jalan. Engkau pasti nanti akan melihat apa yang aku katakan. Aku tidaklah berdusta dan aku tidak didustai dengan berita ini (yakni pasti engkau akan mendapati sekelompok orang yang akan menyaksikan peristiwa kematianku seperti yang diberitakan oleh Rasulullah)”.</p>
<p>Istrinya menyatakan kepadanya : “Bagaimana mungkin akan ada orang yang engkau katakan, sedang musim haji telah lewat ?!”.</p>
<p>Abu Dzar tetap meyakinkan istrinya untuk melihat ke arah jalan : “Lihatlah jalan !”. Maka istrinya menuruti beliau mengamati jalanan yang ada didepan Rabadzah. Dan ternyata, ketika si istri sedang mengamati jalan di depan Rabadzah, apakah ada rombongan yang berlalu padanya, tiba-tiba dilihat olehnya dari kejauhan serombongan kafilah sedang mendekat ke arah Rabadhah yang menandakan bahwa mereka akan melewati jalan di depan Rabadzah. Amat gembira tentunya istri Abu Dzar melihatnya, sehingga rombongan itupun berhenti didepannya.</p>
<p>Orang-orang di rombongan itupun menanyainya : Ada apa engkau ada di sini ? Maka perempuan itupun menyatakan kepada mereka : “Di sini ada seorang pria Muslim yang hendak mati, hendaknya kalian mengkafaninya, semoga Allah membalas kalian dengan pahalaNya”. Maka merekapun menanyainya : “Siapakah dia ?” Perempuan itu menjawab : “Dia adalah Abu Dzar”. Mendengar jawaban itu mereka berlarian turun dari kendaraannya masing-masing menuju gubuknya Abu Dzar.</p>
<p>Dan ketika mereka sampai di gubuk itu, mereka mendapati Abu Dzar sedang terkulai lemas di atas tempat tidurnya. Tapi masih sempat juga Abu Dzar memberi tahu mereka : “Bergembiralah kalian, karena kalianlah yang diberitakan Nabi sebagai sekelompok kaum Mu’minin yang menyaksikan saat kematian Abu Dzar”. Kemudian Abu Dzar menyatakan kepada mereka : “Kalian menyaksikan bagaimana keadaanku hari ini. Seandainya jubbahku mencukupi sebagai kafanku, niscaya aku tidak dikafani kecuali dengannya. Aku memohon kepada kalian dengan nama Allah, hendaklah janganlah ada yang mengkafani jenazahku nanti seorangpun dari kalian, orang yang pernah menjabat sebagai pejabat pemerintah, atau tokoh masyarakat, atau utusan pemerintah untuk satu urusan”. </p>
<p>Semua anggota rombongan itu adalah orang-orang yang pernah menjabat berbagai kedudukan itu, kecuali seorang pemuda Anshar, yang menyatakan kepadanya : “Aku adalah orang yang engkau cari dengan persyaratan itu. Aku mempunyai dua jubbah dari hasil pintalan ibuku. Satu dari padanya ada di kantong tas bajuku, sedang yang lainnya ialah baju yang sedang aku pakai ini”. Mendengar omongan pemuda Anshar itu Abu Dzar amat gembira, kemudian dengan serta merta menyatakan kepadanya : “Engkaulah orang yang aku minta mengkafani jenazahku nanti dengan jubahmu itu”. </p>
<p>Abdullah bin Mas’ud, seorang sarjana Islam terkemuka masa itu, pun menangis dan berkata, “Sungguh telah benar Rasulullah, beliau bersabda bahwa Abu Dzar, dia berjalan pergi sendirian, dan meninggalpun dalam kesendirian, dan akan dibangkitkan dalam kesendirian pula”.</p>
<p>Ketika pada tahun 8 Dzulhijjah 32 H, dengan penuh kegembiraan, Abu Dzar menghembuskan nafas terakhirnya, dan selamat tinggal dunia yang penuh duka dan nestapa ini. Selamat jalan wahai Abu Dzar untuk menemui Allah dan RasulNya yang amat engkau rindukan. Beristirahatlah engkau di sana dari berbagai penderitaan dunia ini. Jenazah Abu Dzar dirawat oleh pemuda Anshar pilihan Abu Dzar, dan segera dishalati serta dikuburkan oleh rombongan kafilah tersebut di Rabadzah itu.</p>
<p>&#160;</p>
<p>Sumber : <a title="http://alkisah.web.id/2010/01/abu-dzar-al-ghifari-radhiyallahu-%E2%80%98anhu-sosok-pejuang-sendirian.html" href="http://alkisah.web.id/2010/01/abu-dzar-al-ghifari-radhiyallahu-%E2%80%98anhu-sosok-pejuang-sendirian.html">alkisah.web.id</a>, <a title="http://www.insankamil.org/sejarah-rosulullah-f44/sejarah-sahabat-rasulullah-abu-dzar-alghifari-t826.htm" href="http://www.insankamil.org/sejarah-rosulullah-f44/sejarah-sahabat-rasulullah-abu-dzar-alghifari-t826.htm">insankamil.org</a>, al-madina.s5.com, <a title="http://deddinordiawan.wordpress.com/2008/09/24/77/" href="http://deddinordiawan.wordpress.com/2008/09/24/77/">deddinordiawan.wordpress.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nabilmufti.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nabilmufti.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nabilmufti.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nabilmufti.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nabilmufti.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nabilmufti.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nabilmufti.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nabilmufti.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nabilmufti.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nabilmufti.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nabilmufti.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nabilmufti.wordpress.com/648/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nabilmufti.wordpress.com/648/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nabilmufti.wordpress.com/648/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nabilmufti.wordpress.com&amp;blog=11680600&amp;post=648&amp;subd=nabilmufti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabilmufti.wordpress.com/2010/07/21/abu-dzar-al-ghifari-tokoh-gerakan-hidup-sederhana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d4532f732d579748bc2c0db86c726923?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nabilmufti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nabilmufti.files.wordpress.com/2010/07/abudharr_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">abudharr</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
